Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Muhammad Kerry Adrianto (lahir 15 September 1986)[1][2] adalah pengusaha asal Indonesia.
Kerry sempat bersekolah di Jakarta, namun kemudian pindah ke Singapura pada tahun 1998 bersama keluarganya (ayah-ibu)[3] dan pada tahun 2000 hingga 2004, ia melanjutkan jenjang pendidikan menengahnya di United World College of South East Asia, Singapura sebuah institusi internasional yang dikenal karena komitmennya terhadap keberagaman, pembelajaran lintas budaya, dan pengembangan kepemimpinan global.[1][3] Kerry kemudian melanjutkan pendidikan di Imperial College, University of London, London, Inggris pada tahun 2004 dan lulus pada tahun 2008 dengan gelar BSc Applied Business Management.[4]
Sementara pendidikan non formalnya termasuk sekolah musim panas untuk matematika di Cambridge University, Inggris (2003), sekolah musim panas untuk matematika di Oxford University, Inggris (2002), sekolah musim panas arsitektur Eropa di The American School, Lugano, Swiss (2001), sekolah musim panas untuk jurusan sejarah Amerika dan bahasa Inggris di Philips Academy Andover, Massachusetts, AS (2000).
Pada November 2011, Kerry aktif menulis analisis ekonomi yang pernah dilayangkan di situs Jakarta Globe[5]
Komisaris Utama GAP Capital[4] dengan modal dasar 100 miliar rupiah[6] di mana tercatat bahwa nilai kepemilikan GAP Capital adalah PT. Mahameru Kencana Abadi Rp. 18,7 miliar (75%) dan Muhamad Kerry Adrianto Riza Rp. 6,25 miliar (25%)[6]
Presiden Direktur di PT Navigator Khatulistiwa,[4] perusahaan ini adalah pemilik kapal Navigator Global bersama dengan Hyundai Heavy Industries Co., Ltd., dan Northern Marine Management Pte. Ltd. Kapal Navigator Global adalah kapal pengangkut gas cair (LPG) yang dibangun pada bulan Oktober 2011 yang terdaftar di Surabaya dengan bendera Indonesia[8]
Presiden Direktur Mandiri Arafura Limited (Inggris) bersama dengan Sofjan Arsad pada 2014, namun Kerry mengundurkan diri di tahun yang sama[9][10][11]
Di PT Orbit Terminal Merak, Kerry diduga menjabat sebagai Komisaris.[14] Direktur PT Orbit Terminal Merak, Gading Ramadhan Joedo juga tercatat sebagai Direktur PT Mahameru Kencana Abadi sejak 2012.[15][16] Perusahaan ini menjadi kontroversial karena disebut dalam surat Setya Novanto kepada Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto pada November 2015, terkait permintaan DPR RI, agar Pertamina membayar biaya penyimpanan BBM kepada PT Orbit Terminal Merak.[17] Pertamina tidak menuruti surat ini dikarenakan masih ada renegosiasi harga yang sedang berlangsung, dan kemudian surat tersebut dinyatakan palsu.[18]