Pada tahun 1947, Komisi Scarbrough menegaskan bahwa pengetahuan tentang negara-negara Asia perlu diberikan tempat permanen dalam akademisi Inggris. Komisi tersebut, dalam laporannya, meyakini bahwa pengetahuan tentang sejarah, budaya, dan bahasa Asia "sangat tidak memadai untuk kepentingan nasional Inggris."[3]Ralph Lilley Turner, Direktur kedua School of Oriental and African Studies (SOAS), meminta pendanaan negara untuk menerapkan rekomendasi komisi tersebut, yang dimulai pada tahun 1948. SOAS berencana untuk menunjuk 18 profesor, 35 lektor kepala, dan 114 dosen dalam jangka waktu lima tahun.[4] Peluncuran jurnal akademik pada tahun 1967 merupakan puncak dari upaya-upaya tersebut.
Saat ini, jurnal tersebut menerbitkan esai monografi tentang berbagai topik yang didukung dengan data empiris. Jurnal ini merupakan salah satu jurnal terkemuka di bidangnya dan telah lama dianggap sebagai jurnal unggulan dalam kajian wilayah dari Cambridge University Press.[5]
↑Brown, Ian (2016). The School of Oriental and African Studies: Imperial Training and the Expansion of Learning. Cambridge: Cambridge University Press. hlm.126.
↑Anderson, Edward (2017). "South Asian Studies in Cambridge and Beyond: An Introduction to the BASAS Annual Conference 2016 Special Issue". South Asian Studies. 33 (2): 115–121. doi:10.1080/02666030.2017.1371859.
Woo, Park Seung dan Victor T. King. The Historical Construction of Southeast Asian Studies: Korea and Beyond Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 2013.