Potong gigiUpacara potong gigiUpacara potong gigi di Bali (mepandes)
Potong gigi (bahasa Bali: mepandes, mesangih atau metatah) adalah upacara keagamaan Hindu-Bali bila seorang Anak sudah beranjak dewasa, dan diartikan juga pembayaran utang oleh orang tua kepada anaknya karena sudah bisa menghilangkan keenam sifat buruk dari diri manusia.[1] Upacara ini termasuk apa yang disebut dengan istilah upacara manusa yadnya. Ritual yang dilakukan pada saat potong gigi adalah mengikis 6 gigi bagian atas yang berbentuk taring. Tujuan dari upacara ini untuk mengurangi sifat buruk. Metatah dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan upacara Ngaben, pernikahan, dan Ngeresi, serta dilakukan pada hari-hari tertentu saja (sad ripu) pada yang bersangkutan. Proses potong gigi dilakukan oleh seorang pedanda (seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan upacara keagamaan Hindu). [2]
Rangkaian upacara
Beberapa hari sebelum prosesi utama, dilakukan sembahyang di sejumlah pura untuk memohon restu. Sehari sebelum mesangih, dilaksanakan upacara mecaru, yaitu ritual penyelarasan dua alam dengan mempersembahkan banten berupa ayam yang melambangkan sifat buruk suka berkelahi.[1]
Menjelang matahari terbenam, anak yang akan menjalani mesangih mengikuti prosesi ngekeb (pingitan). Tujuannya adalah memberikan kekuatan mental. Selama prosesi ini, anak tidak diperkenankan keluar dari halaman rumah yang telah diberi batas spiritual maupun dapur, sebagai bentuk perlindungan dari mara bahaya.
Pada pagi hari, dilakukan sembahyang di pura keluarga untuk memohon restu leluhur. Setelah itu, anak melaksanakan prosesi padasevanam (sungkeman) sebagai wujud bakti kepada orang tua. Barulah prosesi mesangih dilaksanakan dengan pengikiran gigi oleh sangging (tokoh agama yang bertugas).[1]Pedanda (pendeta Hindu Bali) membacakan mantra suci, memberikan berkah, serta melakukan pemotongan pada sejumlah gigi susu tertentu. Potongan gigi tersebut kemudian ditempatkan ke dalam sesajen sebagai persembahan kepada dewa-dewi.
Ritual ini memiliki makna yang lebih menekankan pada aspek budaya, sosial, dan spiritual dibandingkan dengan kesehatan gigi secara langsung. Dalam perspektif ilmu kedokteran gigi, mesangih dipandang sebagai praktik budaya atau tradisi yang tidak memiliki dasar ilmiah dalam perawatan gigi dan mulut.[2]
peralatan
Mepandes merupakan acara adat Bali atau biasa disebut juga 'upacara potong gigi' yang diselenggarakan ketika seorang Bali-Hindu sudah dianggap dewasa dengan melakukan upacara tersebut di hari dan tanggal tertentu sesuai adat secara turun temurun.
Setelah pengikiran selesai, anak menginjak banten yang diletakkan di bawah bale pesangihan sebelum digendong kembali ke kamar. Banten tersebut kemudian dicuci oleh ibunya sebagai bagian dari simbol penyucian.
Rangkaian mesangih ditutup dengan sembahyang bersama di pura keluarga, menegaskan kesakralan tradisi ini sebagai bentuk penyelarasan hubungan manusia dengan diri, keluarga, dan leluhur.[1]
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Mepandes.