Dalam agama Hindu, pandita, pendeta, atau pedanda (Sanskerta: पण्डितः, paṇḍitaḥ;[1] juga dieja pundit;[2] disingkat Pdt.) adalah seorang individu dengan pengetahuan khusus atau guru bidang ilmu apa pun dalam agama Hindu,[1] khususnya kitab suci Weda, dharma, atau filsafat Hindu; dalam literatur era kolonial, istilah ini umumnya merujuk pada pengacara yang mengkhususkan diri dalam hukum Hindu.[3] Sementara itu, saat ini gelar tersebut digunakan untuk para ahli dalam subjek lain, seperti musik.[4][5] Istilah pandita masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai kata serapan pundit, merujuk pada seseorang yang memberikan petuah dengan cara yang berwibawa pada bidang subjek tertentu (biasanya politik, ilmu sosial, teknologi atau olahraga), biasanya melalui media massa.[6]Ustad adalah gelar yang setara untuk seorang pria Muslim dalam arti musikal.[5] Gelar yang setara untuk seorang wanita Hindu adalah Vidushi,[7][8]Pandita, atau Panditain;[9] tetapi, gelar-gelar ini saat ini tidak digunakan secara luas.[10]
Dalam bahasa Sanskerta, pandita umumnya merujuk pada "pria bijak, terpelajar, atau cerdik" dengan pengetahuan khusus.[11] Istilah ini berasal dari kata paṇḍ (पण्ड्) yang berarti "mengumpulkan, menumpuk, menimbun", dan akar kata ini digunakan dalam arti pengetahuan.[12] Istilah ini ditemukan dalam teks-teks Weda dan pasca-Weda, tetapi tanpa konteks sosiologis apa pun.
Dalam tradisi Hindu Bali, pandita atau pendeta juga disebut sebagai sulinggih, yang berarti "tempat duduk yang baik". Sulinggih memiliki gelar yang berbeda sesuai peranannya, yang disebut tri sadaka. Gelar seorang sulinggih berasal dari soroh (klan leluhur).[butuh rujukan]
Ida Pandita Pangeran merupakan gelar pendeta keturunan Kyai Gusti Pangeran Bendesa Mas yang didiksa/dilantik oleh Dang Hyang Nirartha
Ida Pandita Mpu merupakan gelar pendeta keturunan Pasek Sapta Rsi
Ida Sira Mpu merupakan gelar pendeta keturunan Pande
Ida Dukuh merupakan gelar pendeta keturunan Dukuh.
Selain sulinggih, umat Hindu juga memiliki pendeta selain sulinggih, yang dikategorikan bukan sebagai sulinggih karena perbedaan busana dan sikap seorang sulinggih dengan pendeta umumnya.
Jro Mangku gelar sebagai seorang yang menjadi pembantu/pelayan di Pura ataupun tempat suci ibadah umat Hindu.
Ratu Aji Welaka sebagai seorang yang menjadi pembantu Ida Pedanda, tugasnya hampir sama dengan pemangku, biasanya berada di Griya.
Jro Dasaran sebagai seorang spiritual serta pelayan umat.
↑Monier Monier-Williams (1872). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford University Press. hlm.527. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-11-17. Diakses tanggal 2016-10-23.
↑Monier Monier-Williams (1872). A Sanskrit-English Dictionary. Oxford University Press. hlm.526–527. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-11-17. Diakses tanggal 2016-10-23.