Merneptah ( / ˈ m ɛr n ɛ p t ɑː , m ər ˈ n ɛ p t ɑː / ) adalah Firaun ke-4 dari Dinasti ke-19 Mesir Kuno. Ia memerintah sekitar satu dekade, dari 13 Agustus 1213 SM hingga wafatnya pada 2 Mei 1203 SM.[2] Sebagai putra ketiga belas Ramses II[3], ia naik takhta setelah semua kakak laki-lakinya, termasuk Khaemweset, meninggal terlebih dahulu. Usianya sekitar 50 tahun ketika mulai berkuasa, menjadikannya firaun pertama yang lahir dalam keluarga kerajaan sejak era Tutankhamun dari Dinasti Kedelapan Belas.[4]
Prasasti Merenptah di Kairo
Salah satu peninggalan terkenalnya adalah Prasasti Merneptah, yang dianggap sebagai dokumen pertama yang menyebutkan nama "Israel" dalam catatan sejarah. Gelar takhtanya, Ba-en-re Mery-netjeru, bermakna "Jiwa Ra, Kekasih Para Dewa".
Berdasarkan penelitian Maurice Bucaille, kini diyakini bahwa Firaun Merneptah adalah Firaun yang mengejar-ngejar Musa dan rombongan Bani Israil; yang jasadnya dapat diselamatkan orang-orang Mesir setelah mati ditenggelamkan dalam peristiwa Penyeberangan Laut Merah.[5]:148–155,156–160,[6]:237–239
Tahun-tahun awal
Merneptah kemungkinan adalah anak keempat dari permaisuri Isetnofret dan Firaun Ramses II, menjadikannya putra ketiga belas Ramses. Ia menikahi seorang wanita bernama Isetnofret II (yang diperkirakan adalah saudari atau keponakannya sendiri), yang kemudian mendampinginya sebagai Istri Agung Kerajaan. Dari pernikahan ini, Merneptah setidaknya memiliki dua orang anak yakni Merenptah, yang dinamai seperti ayahnya dan Seti II, yang kelak menjadi firaun berikutnya. Seti II menikahi Tausret, yang kemudian juga menjadi firaun penguasa tunggal setelah masa pemerintahan Firaun Siptah.[7][8]
Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa Merneptah juga memiliki seorang ratu lain bernama Takhat, yang merupakan ibu dari firaun lain, Amenmesse, meskipun hubungan ini belum dapat dipastikan oleh para ahli.
Masa Sebelum Menjadi Firaun
Sebagai seorang pangeran, Merneptah muncul dalam beberapa prasasti keluarga kerajaan. Namanya tercatat bersama orang tuanya dan saudara-saudaranya seperti Bintanath, Ramesses, dan Khaemwaset pada prasasti di Aswan dan Silsila.[9] Namun, tidak banyak yang diketahui tentang perannya hingga sekitar tahun ke-40 pemerintahan Ramses II, ketika ia diangkat menjadi Pengawas Angkatan Darat.
Karena Ramses II berusia sangat lanjut dan melebihi masa hidup banyak putra mahkotanya, akhirnya Merneptah-lah yang ditetapkan sebagai penerus. Pada tahun ke-55 kekuasaan ayahnya, ia secara resmi diproklamirkan sebagai Putra Mahkota dan menjalankan tugas sebagai Pangeran Bupati selama 12 tahun terakhir sebelum Ramses II wafat, sekaligus mempersiapkan diri untuk memimpin Mesir.[10]