Kiai Nur Iman Mlangi, lahir dengan nama Raden Mas Sandeyo, adalah anak dari Susuhunan Mataram Amangkurat IV yang memilih jalan hidupnya menuntut ilmu agama Islam dan menanggalkan kebangsawanannya. Ia keluar dari Keraton Mataram dan mengembara hingga akhirnya menetap di sebuah desa yang kelak diberi nama Mlangi.[1] Pada tahun 1723, ia mulai mengajar Islam di tempat tersebut. Dibangunlah sejumlah fasilitas keagamaan di tempat tersebut, mulai dari masjid hingga pesantren.[2]
Ketika Hamengkubuwana I bertakhta sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, situasi kehidupan masyarakat saat itu masih kacau. Orang-orang kepercayaan Sultan mengatakan bahwa Sultan belum mendapat restu dari Nur Iman yang merupakan kakaknya itu. Ia pun menugasi utusannya untuk mencari Nur Iman. Begitu para utusan itu menemuinya, Nur Iman berusaha dibujuk untuk datang menghadap Sultan, tetapi gagal. Sultan akhirnya datang menemuinya dan meminta restu untuk menduduki takhta sebagai Sultan. Sebagai wujud balas budi, Nur Iman resmi diangkat sebagai pemimpin Mlangi untuk batas barat Kuthanagara dan Mlangi pun dijadikan tanah perdikan pada 1758.[1]
Nur Iman merancang dan mengembangkan Masjid Pathok Nagara Mlangi tidak hanya sebagai tempat untuk beribadah semata, tetapi juga sebagai tempat untuk belajar ilmu agama, dengan penguatan budaya dan adat istiadat masyarakat Jawa. Selain itu, Nur Iman juga menjadikan masjid ini sebagai pengadilan serambi, sebuah pengadilan yang berlandaskan syariat dan ditujukan untuk memutus perkara berlandaskan syariat.[3]
Pada tahun 1955, kepengurusan masjid ini diserahkan oleh Hamengkubuwana IX kepada warga pedukuhan Mlangi. Nama masjid pun berubah, dari Kagungan Dalem Masjid Pathok Nagara Mlangi menjadi Masjid Jami' Mlangi, dan juga mendapat nama baru An-Nur.[4]
Perombakan bangunan 1985
Pada tahun 1985, dilakukan perombakan total masjid ini, yang diprakarsai oleh masyarakat Mlangi. Karena masyarakat Mlangi semakin berkembang, ditambah banyaknya santri yang belajar di pondok pesantren di dekatnya, bangunan yang tadinya menggunakan gaya arsitektur tradisional Jawa, kemudian sempat diubah menjadi bangunan modern dengan dua lantai, sehingga menghilangkan keaslian bangunan ini. Padahal, konsep awal renovasi masjid ini mulanya hanya sebatas memperluas bangunan masjid. Bahkan renovasi ini juga menambahkan menara masjid di sebelah utara masjid. Kolam yang mengelilingi masjid juga dihilangkan.[5]
Pada tahun 2012, Hamengkubuwana X memerintahkan untuk merevitalisasi bangunan Masjid Jami' Mlangi kembali ke wujud semula. Keraton menilai karakter asli Masjid Pathok Nagara telah menghilang setelah proses renovasi 1985. Hal ini yang menyebabkan Sultan sebelumnya Hamengkubuwana IX meminta untuk mengembalikan lagi wujud asli masjid tersebut. Proses revitalisasi Masjid Pathok Nagara dilakukan dalam tiga tahap, yaitu ruang utama, kemudian serambi, dan terakhir bagian luar. Pada Juni 2012, atap masjid diturunkan dan penyangga betonnya dihancurkan. Dinding yang mengitari ruang utama masjid tetap dipertahankan. Semua pintu dan jendela diganti menjadi kayu, soko guru yang berjumlah empat kembali dibangun untuk menopang atap. Ruang utama masjid ini dirampungkan 20 November 2012, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan ulang serambi masjid. Serambi masjid hasil pembangunan ulang 1985 dibongkar seluruhnya dan diubah menjadi serambi terbuka seperti masjid tradisional Jawa lainnya. Kolam yang tadinya dibongkar kemudian dikembalikan, dan berfungsi sebagai tempat ternak ikan dan juga tempat untuk bersuci. Namanya pun akhirnya dikembalikan seperti semula.[6]
Deskripsi bangunan
Beduk di dalam Masjid Mlangi yang sudah berupa replika dari beduk aslinya
Pintu gerbang utama Masjid Pathok Nagara Mlangi memiliki bentuk seperti candi dan berlokasi di sisi timur. Saat memasuki gerbang, terdapat tangga menurun sedalam 1 meter. Bangunan masjid dikelilingi pagar tembok, yang juga membatasi area masjid dengan area pemakaman. Pemakaman di area masjid ini sering dijadikan sebagai tujuan wisata religi ziarah kubur. Umumnya, masyarakat yang menziarahi pemakaman ini akan mengunjungi kubur dari Kiai Nur Iman, pendiri Mlangi.[7]
Masjid ini didirikan di atas lahan seluas 286 meter persegi (3.080sqft). Pada tahun 1985, pembangunan masjid masjid ini menyebabkan luas area masjid bertambah menjadi 400 meter persegi (4.300sqft). Lahan masjid, yang berstatus Sultan Ground, memiliki total luas 1.000 meter persegi (11.000sqft), sudah termasuk area pemakaman. Luas bangunan utama masjid ini adalah 20 x 20 meter persegi (220sqft ×220sqft), serambi masjid 12 x 20 meter persegi (130sqft ×220sqft), dan halaman masjid seluas 500 meter persegi (5.400sqft). Tempat wudu (padasan) dipisah menjadi dua lokasi berbeda: satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.[3]
Sejumlah kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dimakamkan di area makam Masjid Mlangi. Nur Iman dimakamkan di sebelah barat masjid, dan dicungkup. Di utara masjid, dimakamkan Patih Danureja II atau Pangeran Seda Kedaton, sedangkan di timur masjid dimakamkan keluarga Pangeran Prabuningrat. Mustaka masjid ini juga memberi ciri-ciri Mataram Klasik, dan mirip dengan Masjid Agung Demak. Mustaka masjid ini dihias dengan ornamen 17 kuntum bunga melati, dengan bentuk gada di pucuknya. Selain itu, mimbar masjid ini masih asli, sedangkan beduk dan kentungannya sudah berupa replika.[8]
Kehidupan sekitar masjid
Kolam yang digunakan untuk membasuh kaki di depan serambi Masjid Mlangi
Oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, Mlangi telah ditetapkan sebagai kampung santri. Ada 16 pondok pesantren yang didirikan di sekitar area masjid.[7] Kata mlangi berasal dari kata mulangi, kata dalam bahasa Jawa yang artinya "mengajar". Masyarakat Mlangi, yang juga mencakup keturunan Kiai Nur Iman, memiliki jalan hidup yang serupa dengan Kiai Nur Iman, misalnya hidup bebas di luar sistem pemerintahan, seperti berwirausaha, seperti usaha konveksi pakaian. Masyarakat Mlangi awalnya memandang bahwa pendidikan formal tidaklah begitu penting, tetapi ilmu agama adalah jauh lebih penting. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak masyarakat Mlangi yang bersedia menerima pendidikan formal, sehingga mereka dapat bersekolah dan bahkan berkuliah di perguruan tinggi. Mereka pun akhirnya bersedia untuk bekerja di sektor formal, meski lebih sedikit. Salah satu pesantren yang cukup menonjol, Pondok Pesantren Assalafiyah, juga menyediakan pendidikan formal.[9]