Mandi Api disajikan dengan bahasa sederhana dan mudah dicerna, tapi selalu ada kejutan di akhir cerita. Dengan latar belakang sebagai jurnalis, Gde Aryantha Soethama memaparkan dengan sederhana apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan mengenai kondisi di Bali yang bukanlah hitam-putih seperti yang terlihat di brosur-brosur wisata. Banyak area abu-abu dan ironi.
Melalui cerita-cerita yang berlatar konflik sosial-psikologis seperti pernikahan anggota puri (bangsawan) dengan rakyat biasa, penjulalan alat kesenian terompong beruk, pembuatan banten (sesaji), upacara macaru, dan keadaan cuntaka (berkabung). Penulisnya mengabarkan kondisi budaya Bali dalam arus kemajuan zaman yang semakin modern. Bahwa, nama besar Bali sebagai destinasi budaya ternyata tidak semata-mata menjanjikan kemakmuran pada masyarakatnya, tetapi juga segudang persoalan. Kumpulan cerpen ini merupakan potret sosiokultural Bali yang disajikan secara sederhana dan menarik.