Mahesa Lawung merupakan upacara adat yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai bentuk permohonan keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dan alam. Pelaksanaan upacara ini umumnya berlangsung pada hari Senin atau Kamis di bulan Bakda Mulud (Rabiul Akhir) menurut penanggalan Jawa.
Tradisi Mahesa Lawung dimulai sekitar tahun 378 Masehi, pada masa pemerintahan Prabu Sitawaka dari Kerajaan Giling Ngaya yang berlokasi di sekitar kawasan GunungGede Pangrango, Jawa Barat. Tradisi ini lahir sebagai respons terhadap situasi krisis yang melanda kerajaan, seperti bencana alam, serangan musuh, dan merebaknya wabah penyakit. Untuk meredakan kondisi tersebut, Prabu Sitawaka menyelenggarakan upacara sesaji bertajuk Raja Wedha Wilujengan Nagari dan Bhuwana, yang berfungsi sebagai bentuk permohonan keselamatan bagi kerajaan dan alam semesta.[1]
Pada masa pemerintahan Sri Prabu Ajipamasa, penguasa Kerajaan Pengging di wilayah barat Kartasura, tradisi ini kembali diselenggarakan setelah wilayah tersebut mengalami serangan dari kekuatan musuh yang dalam kisah-kisah tutur digambarkan berwujud raksasa. Untuk mengatasi ancaman tersebut, Sri Prabu Ajipamasa memerintahkan Patih Tambak Baya untuk menyiapkan seekor kerbau (kebo lawung) beserta perlengkapan sesaji, kemudian melaksanakan upacara wilujengan di kawasan Hutan Krendhawahono. Setelah pelaksanaan upacara tersebut, ketenteraman dan keamanan pun kembali pulih di wilayah kerajaan.[1]
Sejak saat itu, nama upacara Wilujengan Nagari Raja Wedha mengalami transformasi menjadi Wilujengan Mahesa Lawung, yang secara harfiah merujuk pada persembahan kerbau sebagai simbol pengorbanan untuk keselamatan negeri. Pelaksanaan tradisi ini terdiri atas dua bagian utama: pihak kerajaan menyelenggarakan upacara sesaji Raja Wedha, sedangkan masyarakat umum menggelar upacara sesaji Grama Wedha, yang lebih dikenal sebagai tradisi Bersih Desa. Keduanya dilaksanakan secara serentak, bertepatan dengan momentum pergantian tahun dalam penanggalan Saka.[2]
Perlengkapan sesaji
Perlengkapan sesaji dalam tradisi Mahesa Lawung mencakup berbagai unsur simbolik yang sarat makna filosofis. Salah satu komponen utamanya adalah kepala kerbau jantan yang masih perjaka dan belum pernah digunakan untuk membajak sawah, disertai keempat telapak kakinya. Unsur ini melambangkan kesucian dan kekuatan yang belum ternodai. Selain itu, terdapat pula walang atogo, yakni berbagai jenis belalang yang melambangkan keberadaan dan peran rakyat kecil dalam kehidupan bermasyarakat. Perlengkapan sesaji lainnya terdiri atas berbagai bahan makanan, baik yang masih mentah maupun yang telah dimasak, masing-masing memiliki makna simbolik tersendiri. Keseluruhan sesaji ini dipersembahkan sebagai bentuk wilujengan nagari, yakni upacara permohonan keselamatan dan kesejahteraan bagi negeri.[3]
Pariwisata
Upacara adat Mahesa Lawung menjadi daya tarik bagi wisatawan dan peneliti budaya yang memiliki minat terhadap tradisi Jawa. Setiap tahun, prosesi sakral tersebut menarik kunjungan wisatawan ke Kota Surakarta, yang secara tidak langsung turut mendukung sektor pariwisata dan perekonomian daerah. Selain memperkuat identitas budaya Jawa, penyelenggaraan upacara ini juga berperan dalam memperkenalkan warisan tradisional tersebut ke tingkat nasional maupun internasional.[4]