Tumbuhan herba merambat kecil dengan bunga berwarna putih. Daunnya gundul dan tipis, tanpa gerigi yang signifikan. Bentuk daun dan korola penting untuk membedakannya di lapangan.[3][4]
Tumbuhan ini umumnya tumbuh di dekat air atau di area basah, baik air yang tergenang seperti danau, maupun air yang mengalir seperti di sungai, anak sungai, atau selokan pinggir jalan.[3]
Spesies ini berisiko,[1] karena menghuni lahan basah yang mungkin dikeringkan atau terganggu dan karena harus bersaing dengan spesies yang ternaturalisasi.[4]
Ekologi
Lobelia fatiscens dapat ditemukan di antara tegakan kahikatea dan kāmahi.[3]Lobelia fatiscens umumnya ditemukan di lahan basah, yang berarti ia dan komunitasnya terancam oleh drainase dan gangguan lahan basah.[4]
Etimologi
Istilah fatiscens, yang berarti 'hancur' dalam bahasa Latin, merujuk "pada benih yang dilepaskan oleh dinding kapsul yang tidak pecah (indehiscent) yang hancur."[4]
Taksonomi
Lobelia fatiscens baru dipisahkan dari spesies lain pada tahun 2008.[4] Spesies ini berkerabat dekat dengan Lobelia fugax, yang berukuran lebih kecil dan memiliki pola kromosom diploid 2n=14, sementara L. fatiscens telah mengganda sejak pemisahan evolusioner dan memiliki pola 2n=28. Meskipun sebagian besar spesimen berada di pesisir, populasi di Danau Rotoiti belum diuji untuk melihat apakah secara genetik sesuai dengan populasi lainnya.[4]