Lembah Bakkara memiliki potensi wisata alam dan budaya yang beragam.[3] Berbagai kemudahan diberikan di lembah ini. Tersedia toilet, sekolah, tempat ibadah, lahan parkir, hotel, hingga penginapan (homestay). Fasilitas akomodasi, makan dan minum juga tersedia, seperti restoran, rumah makan dan warung camilan dalam kondisi yang layak.[4]
Sejarah
Bakkara adalah pusat pemerintahan kerajaan Batak zaman dulu. Kerajaan ini berada di bawah pemerintahan dinasti Singamangaraja.[5] Lembah Bakkara juga memiliki kemiripan dengan Lembah Stryn yang ada di Norwegia.[6]
Lembah Bakkara dibelah oleh dua aliran sungai besar yang berair deras. Sungai terbesar yang dominan adalah Sungai Aek Silang yang bersumber dari air terjun yang tercurah dari bentangan perbukitan. Sungai kedua yang lebih kecil bernama Aek Simangira. Keduanya mengaliri beberapa desa dan bermuara di Danau Toba.[8][9]
terdapat bebatuan hasil letusan supervolcano Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu, seperti bebatuan di sebagian lereng bukit Lembah Bakkara. Terdapat juga bebatuan metasedimen yang merupakan bebatuan dasar yang terjadi akibat letusan supervolcano Toba sekitar 200.000 tahun yang lalu di sekitaran perbukitan desa Siunong-Unong Julu.[10]
Iklim
Lembah Bakkara memiliki musim yang stabil, serta cuaca yang sangat baik. Hal ini berdampak baik bagi kesuburan tanah. Berbagai jenis tanaman tumbuh, seperti bawang merah, bawang putih, padi, kacang tanah, tomat, kelapa, jagung, dan lain sebagainya.[11]