Lawang adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terletak di utara. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan dan merupakan gerbang masuk menuju Malang dari arah Surabaya. Lawang adalah kota kecil yang ramai dan strategis di tepi jalan nasional dan terdapat gerbang tol di ruas Jalan Tol Pandaan–Malang. Lawang memiliki pasar, stasiun, stadion, pabrik, rumah sakit, serta fasilitas lainnya.[1][2] Selain itu, Lawang juga memiliki berbagai tempat wisata populer seperti Pemandian Kalireco, Pari Bendo, Tlogo Land, dan pendakian Gunung Arjuno melalui kebun teh.[3][4]
Lawang sudah berkembang pesat sejak zaman kolonial Belanda, tepatnya dengan selesai dibangunnya Stasiun Lawang pada tahun 1879. Lokasinya yang dekat dengan Surabaya dan berada di kaki Gunung Arjuno yang sejuk membuat Lawang menjadi tujuan berlibur orang-orang Eropa pada masa itu. Masih banyak bangunan Belanda yang masih tersisa di Lawang, beberapa diantaranya bahkan masih aktif beroperasi seperti Hotel Niagara, rumah sakit jiwa, gedung Griya Bina, Gereja Jago, dan kebun teh di lereng Arjuno.[1][2]
Geografi
Peta administrasi dan lokasi Lawang
Lawang adalah kota kecil di utara Malang di perlintasan jalan nasional Surabaya-Malang. Lawang adalah salah satu satelit utama dari Kota Malang. Lawang diapit oleh Gunung Arjuno di barat dan lereng komplek Pegunungan Tengger di timur. Ujung barat kecamatan di lereng Arjuno adalah kawasan Kebun Teh Wonosari yang wilayahnya luas hingga Kecamatan Singosari.[5]
Batas wilayah Kecamatan Lawang adalah sebagai berikut:[5]
Wilayah Lawang berdekatan dengan pusat kerajaan besar di masa Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Singosari di Kecamatan Singosari, sehingga daerah ini memiliki bukti adanya pemukiman kuno. Salah satu peninggalannya adalah Prasasti Katiden I dan Katiden II yang ditemukan di Desa Ketindan dengan angka tahun (1390-an M). Prasasti tersebut dikeluarkan Raja Wikramawardhana dari Majapahit dan berisi pembebasan pajak terhadap warga Katiden. Sebagai gantinya, warga Katiden berkewajiban menjaga hutan dan hewan yang ada di Gunung Lejar (anak Gunung Arjuno). Hutan di Gunung Lejar memiliki banyak ilalang yang rawan terbakar saat musim kering sehingga perlu penanganan khusus.[1][6]
Direktur RSJ Lawang (D.J. Hulshoff Pol) bermain Tenis (1913)
Lawang dan Malang dikuasai oleh Belanda sekitar tahun 1770-an, kedua daerah tersebut berada di bawah Karesidenan Pasuruan. Lawang mengalami perkembangan pesat dengan dibangunnya jaringan rel Surabaya-Malang dan Stasiun Lawang yang selesai tahun 1879. Orang-orang Eropa yang tinggal di pesisir seperti Surabaya mulai berdatangan ke Lawang karena akses yang mudah serta suasana yang sejuk di lereng Gunung Arjuno. Berbagai bangunan seperti penginapan, sekolah, rumah ibadah, dan pemukiman mulai berdiri sehingga Lawang berubah menjadi kota kecil yang ramai. Banyak bangunan tersebut yang masih tersisa sampai saat ini seperti Hotel Niagara, rumah sakit jiwa, gedung Griya Bina (dulunya disebut gedung Bergzicht), Gereja Jago, dan kebun teh di lereng Arjuno. Di zaman itu, kebun teh tersebut juga banyak ditanami kopi dan kina. Wisata favorit orang Eropa yang menginap di Lawang saat itu antara lain Pemandian Polaman, Air terjun Baung di Pasuruan, dan peninggalan sejarah di Singosari.[1][2]
Lawang mengalami perubahan administrasi berkali-kali pada zaman kolonial. Pada tahun 1890-an, Lawang merupakan bagian dari Afdeeling atau Kabupaten Bangil di bawah Karesidenan Pasuruan. Dengan semakin majunya Kota Malang, Karesidenan Pasuruan dibubarkan dan diganti menjadi Karesidenan Malang pada tahun 1931. Lawang juga berpindah dari Kabupaten Bangil ke Kabupaten Malang pada tahun 1934. Lawang merupakan bagian dari District atau Kawedanan Singosari yaitu daerah pembantu bupati Malang. Diperkirakan ada sekitar 2 ribu orang Eropa di Lawang pada tahun 1939, sedangkan jumlah penduduk total adalah sekitar 20 ribu jiwa. Surat kabar Belanda di masa itu bertanya-tanya mengapa Lawang belum diangkat statusnya menjadi sebuah kota (gemeente) yang dipimpin walikota meskipun memiliki perkembangan yang pesat dan jumlah orang Eropa yang banyak.[2]
Orang Eropa di kolam renang Sumberporong (1920)
Orang Eropa di sebuah penginapan
Kereta api di Lawang
Suasana Pasar Lawang
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
Kecamatan Lawang terdiri dari 2 kelurahan dan 10 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[5]
Lawang memiliki banyak fasilitas kesehatan yang disediakan institusi pemerintah maupun swasta. Institusi kesehatan pemerintah di Lawang terdiri dari Rumah Sakit Jiwa Lawang milik Kemenkes, RS Bantuan 05.08.04 atau lebih dikenal sebagai Rumkitban milik TNI AD, serta RSUD Lawang dan Puskesmas Lawang milik Pemkab. RSJ Lawang sendiri memiliki nama resmi RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. RSJ Lawang merupakan salah satu rumah sakit jiwa tertua di Indonesia yang resmi beroperasi tahun 1902. Selain itu, Lawang juga memiliki rumah sakit swasta seperti RS Lawang Medika dan RS Siti Miriam. Di bidang edukasi dan pelatihan kesehatan, Lawang juga terdapat Poltekkes Malang Kampus 2, Museum Kesehatan Jiwa, serta UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Latkesmas) Murnajati yang dikelola Pemprov.[8][9]
Pendidikan
Lawang memiliki banyak fasilitas pendidikan dan pelatihan di berbagai bidang keilmuan. Dari bidang kesehatan terdapat Poltekkes Malang Kampus 2 dan UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Latkesmas) Murnajati. Dari bidang pertanian terdapat Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan Malang) dan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan yang dikelola Kementerian Pertanian. Sedangkan dari bidang keagamaan terdapat Sekolah Tinggi Teologi (STT) Tabernakel dan Sekolah Tinggi Teologi (STT) Aletheia.[10]
Tidak hanya pendidikan tinggi, pendidikan dasar dan menengah di Lawang juga berkembang. Salah satunya SMAN 1 Lawang yang mendapat predikat SMA terbaik di Kabupaten Malang berdasarkan nilai UTBK 2022 menurut data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi, sekolah tersebut memiliki peringkat 174 nasional dan peringkat 5 se-Malang Raya.[11]
Gedung Griya Bina - salah satu gedung peninggalan Belanda di Lawang, sebelumnya bernama Gedung Bergzicht yang berfungsi sebagai panti asuhan putri protestan. Sekarang gedung ini menjadi gedung pertemuan dan tempat resepsi pernikahan[1]
Hotel Niagara - hotel peninggalan Belanda dengan arsitektur unik, diresmikan tahun 1918[2]
PT Otsuka Indonesia - perusahaan farmasi dan alat kesehatan asal Jepang yang didirikan di Lawang pada tahun 1974