Laut Bercerita adalah novel karya Leila S. Chudori yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Jakarta pada tahun 2017. Novel ini berkisah tentang persahabatan, cinta, keluarga, dan kehilangan para tokoh-tokohnya. Mengambil latar sosial kehidupan mahasiswa pada tahun 90-an dan 2000 membuat novel ini bisa membawa pembaca untuk melihat kembali peristiwa-peristiwa di masa lalu. Novel ini juga diadaptasi ke dalam film pendek berdurasi 30 menit.
Laut Bercerita adalah novel yang ditulis oleh Leila setelah Pulang. Novel ini bercerita tentang kisah persahabatan, keluarga yang mencari penjelasan atas kehilangan seorang anak tanpa titik terang bertahun-tahun, juga cinta. Riset dalam pembuatan novel ini dimulai pada 2008 ketika Tempo menerbitkan edisi khusus Soeharto hingga akhirnya terbit pada 2017. Ketika menulis buku ini, Leila menghadirkan Nezar Patria dalam pembuatannya sebagai saksi dari kejadian 1998 yang mana juga membantu Leila menemukan referensi untuk karakter dalam tokoh yang diceritakan.
Setelah diterbitkan, banyak pembaca yang menyukai novel ini karena ikut menggambarkan kejadian 1998. Selain itu, menarik bahwa sang penulis sendiri adalah saksi dari kejadian masa itu.
Alur cerita
Novel ini ditulis dalam sudut pandang ‘Aku’ dari kedua karakter Biru Laut Wibisono dan Asmara Jati. Biru Laut adalah seorang Mahasiswa, yang mempunyai adik bernama Asmara Jati. Baik Laut atau Asmara Jati, keduanya menjadi tokoh utama dalam Novel tersebut.
Bermula pada tahun 1991, Leila mengawali novelnya dengan mengisahkan kehidupan sekelompok mahasiswa yang berkegiatan di suatu rumah di Seyegan, Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswa ini memiliki ketertarikan yang sama terhadap bacaan termasuk sastra. Dalam hal ini, termasuk sastra yang sempat dilarang untuk dibicarakan ketika itu, sastra karya Pramoedya Ananta Toer.
Dalam novel ini, alur yang digunakan tidak berurutan. Dari 1991, pembaca akan diarahkan menuju bab berikutnya yakni tahun 1998. Leila menulis berdasarkan peristiwa saat ini (ketika Biru Laut berada dalam penjara) dan masa lalu (ketika Biru laut masih menjadi mahasiswa dan buron).
Sebelum berada di penjara, konflik yang dihadapi Laut cukup banyak. Termasuk bagaimana ketika ia dan teman-temannya mengatur diskusi dan aksi demi membela petani Jagung di Blangguan yang tanahnya diambil secara tidak adil oleh pemerintah. Selain itu, novel ini juga bercerita bagaimana salah satu sahabat Laut berkhianat dan membocorkan informasi kepada intel. Aktivisme-aktivisme dan pembelaan ini yang kemudian diketahui oleh intel mengantarkan Laut kepada penjara.
Selanjutnya, Novel ini menceritakan bagaimana keluarga Laut termasuk Asmara Jati mengupayakan untuk mencari mahasiswa-mahasiswa yang hilang—termasuk Laut—yang tidak diketahui keberadaannya hingga beberapa tahun. Asmara Jati juga sempat menulis surat imajinatif yang ia sampaikan kepada Laut:
"Mas Laut,
Bapak sudah menyusulmu pagi tadi.
Peluklah ia karena beliau sangat rindu padamu
Empat tahun piring makanmu tidak boleh kami singkirkan, empat tahun kamarmu dan buku-bukumu berdiri tegak persis pada tempatnya tanpa sebutir debu pun yang berani melekat karena Bapak rajin merawatnya. Sesekali jika dia memangku ranselmu yang sudah butut itu dan mengelus-elusnya, seolah barang yang setia melekat di punggungmu itu adalah pengganti dirimu.”[1]