Ia berhasil menembus penghargaan World Reader’s Award 2016 yang diselenggarakan di Hongkong atas buku yang ditulisnya "Cantik Itu Luka". Penghargaan itu pun menjembatani buku-bukunya untuk diterbitkan di tiga negara Eropa, yaitu Jerman, Polandia, dan Norwegia. 30 negara lainnya ikut menerjemahkan novel tersebut.
Ia terpilih sebagai salah satu "Global Thinkers of 2015" dari jurnal Foreign Policy.[3] Pada tahun 2016, ia menjadi penulis Indonesia pertama yang dinominasikan untuk Man Booker International Prize.[4]
Kehidupan awal
Kegemaran membacanya sejak ia kecil. Ketika ayahnya memiliki taman bacaan yang kemudian ditutup. Sehingga ia berpindah-pindah mencari taman bacaan untuk membaca. Bacaan komik yang ia sukai saat kecil hingga membuatnya bercita-cita menjad komikus.[5]
Ia menikahi Ratih Kumala yang juga seorang penulis yang karyanya juga pernah diterjemahkan ke bahasa asing. Dari hasil pernikahannya ini ia memiliki seorang anak perempuan.[6]
Pendidikan
Ia sempat berkuliah di jurusan Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Namun hanya bertahan 2 semester saja dan kemudian beralih ke Institut Seni Indonesia.[5]
Perjalanan
Skripsinya diterbitkan dengan judul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Aksara Indonesia, 1999; diterbitkan kedua kali oleh Penerbit Jendela, 2002; dan diterbitkan ketiga kali oleh Gramedia Pustaka Utama, 2006). Karya fiksi pertamanya, sebuah kumpulan cerita pendek, diterbitkan setahun kemudian: Corat-coret di Toilet (Aksara Indonesia, 2000).
Novelnya yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas telah diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama pada tahun 2021. Film ini masuk dalam daftar nominasi Festival Film Indonesia 2022.[7] Tahun 2021, film ini meraih penghargaan Golden Leopard dalam Festival Film Locarno.[8]
Pada 2019 ia mendirikan penerbit Moooi Pustaka. Fokusnya menerbitkan karya sastra terjemahan langsung dari bahasa aslinya. Agar penerjemahan non-bahasa inggris bisa berkembang sekaligus menawarkan bacaan sastra yang lebih beragam ke pembaca lokal.[9]
↑Dalam tulisannya, Topsfield, menyitir kembali apresiasi The Jakarta Post yang menyatakan Eka sebagai salah satu orang yang sedang dalam jalannya menjadi penulis berpengaruh. Bahkan Benedict Anderson menyatakan bahwa setengah abad setelah Pramoedya telah lahir penerusnya.[2]
↑Berdasar dua novel pertama yang dialihbahasakan dan dipasarkan secara internasional, Jon Fasman (Pemimpin Redaksi The Economist biro Asia Tenggara dan penulis novel The Unpossessed City juga The Geographer’s Library) menyatakan bahwa apa yang Eka putuskan untuk ditulis pasti layak untuk dibaca[1]