Latinisasi liturgi adalah proses adaptasi berbagai elemen Gereja Latin oleh gereja-gereja non-Latin, terutama oleh gereja timur, baik dalam hal teologi, praktik ibadat, maupun norma. Fenomena ini seringkali didorong oleh tekanan politik atau gerejawi dan membawa dampak, baik mempersatukan maupun memecah belah dan kontroversial. Latinisasi dapat mendekatkan persatuan suatu gereja dengan Gereja Katolik Roma, tetapi juga menekan tradisi lokal dan identitas gereja tersebut.
Klerus Katolik Koptik dan yang dipengaruhi gaya latin.
Latar belakang
Latinisasi dapat ditelusuri sejak Abad Pertengahan Awal, ketika ritus latin mempengaruhi kehidupan gerejawi Eropa Barat. Ritus Romawi kemudian menjadi sinonim dengan Gereja Katolik, sementara ritus-ritus lain di Eropa (seperti Ritus Galia dan Keltik) mulai meredup karena adaptasi Ritus Romawi.[1]
Perang Salib menciptakan jalan baru bagi latinisasi gereja-gereja timur. Interaksi kerajaan-kerajaan Eropa (Latin) dengan Armenia selama abad ke-11 hingga 14 sangat mempengaruhi latinisasi ritus mereka.[2] Sementara itu, Konsili Firenze yang "menyatukan" Ortodoks Konstantinopel dengan Roma membuka jalan bagi gereja-gereja Ritus Bizantin untuk bergabung dengan Gereja Katolik dan, dengan demikian, memuluskan latinisasi.[3]
Kasus Latinisasi
Sinode Diamper
Portugis yang telah menguasai Gowa dan misionaris Yesuit menghimpun Sinode Diamper untuk membawa umat Kristen Santo Thomas di India ke dalam sistem Padroado Latin. Sinode tersebut melarang berbagai praktik Ritus Suriah Timur dan mengadopsi elemen Latin, termasuk perubahan dalam teks liturgi, vestimentum, dan struktur hierarki gereja. Tindakan-tindakan ini menggiring kepada peristiwa Sumpah Salib Kunan pada tahun 1653 dan menambah perpecahan komunitas gereja tersebut.[4] Pada tahun 1934, Paus Pius XI menggelar reformasi liturgi untuk mengembalikan karakter oriental dari ritus Malabar, tetapi Qurbana Kudus dipulihkan pada tahun 1962. Sejak itu, liturgi Ekaristi telah mengalami reformasi lebih lanjut, tetapi Malayalam menggantikan Suryani sebagai bahasa liturgi.[5]
Gereja Maronit
Gereja Maronit mengukuhkan komuni yang tak terputus dengan Roma pada tahun 1182 (sehingga dalam catatan sejarah Gereja Katolik, Gereja Maronit tidak pernah berpisah dengan Roma). Namun, latinisasi dimulai secara progresif sejak abad ke-13. Saat Lebanon dikuasai oleh Utsmaniah pada abad ke-16, ketergantungan Gereja Maronit dengan Roma semakin meningkat. puncaknya adalah Konsili Lebanon tahun 1736.[6] Unsur-unsur liturgi Barat, seperti larangan komuni bayi dan pengenalan sakramental Latin, diintegrasikan ke dalam liturgi. Pada abad ke-19, liturgi Maronit dianggap sangat terlatinisasi, meskipun gerakan pembaharuan liturgi pada abad ke-20 telah berupaya untuk membalikkan proses tersebut sampai batas tertentu.[7]
Katolik Ruthenia
Komunitas gereja ritus Bizantin di Persemakmuran Polandia-Lituania beralih dari Konstantinopel ke Roma melalui Persatuan Brest pada tahun 1596. Latinisasi dimulai pada Sinode Zamość, dengan menambahkan unsur-unsur Latin ke dalam Ritus Bizantium, seperti penyisipan klausa Filioque ke dalam Kredo Nicea dan penyebutan nama Paus dalam Ektenia. Perubahan ini bertujuan untuk memperkuat persatuan dengan Roma tetapi dikritik oleh rekan-rekan Ortodoks dan beberapa teolog Katolik karena dianggap melemahkan tradisi Bizantium.[8]
Setelah Sinode Lviv pada tahun 1891, Gereja Ruthenia di Galicia mengalami Latinisasi lagi. Sinode menetapkan penyelarasan beberapa praktik liturgi agar lebih dekat dengan praktik Gereja Latin. Misalnya, warna liturgis disesuaikan tetap, Liturgi Ilahi yang didaraskan (ekuivalen dengan misa rendah), standardisasi pengaturan altar menurut norma Latin (enam lilin di altar, lampu tabernakel dll.) dan dorongan untuk prosesi Sakramen Maha Kudus pada hari raya besar.[9]
Gereja Katolik Khaldea
Anafora Addai dan Mari dalam Ritus Suriah Timur tidak memakai Kalimat Perjamuan Kudus yang biasanya dipakai pada hampir semua liturgi gereja apapun. Gereja Katolik Kaldea yang berpisah dari Gereja Dari Timur memodifikasi anafora dengan memasukkan Kalimat Perjamuan Kudus di dalamya, agar sesuai dengan teologi ekaristi Katolik dan gereja lainnya.[10] Sejak tahun 2005, reformasi liturgis mengembalikan beberapa tradisi lama ke dalam ibadat gereja.[11]
↑Wainwright, Geoffrey; Westerfield Tucker, Karen B., ed. (2006). The Oxford history of Christian worship. Oxford; New York: Oxford University Press. ISBN978-0-19-513886-3.
↑Чинности и Рішеня руского провинціяльного Собора в Галичині[Acts and Decisions of the Ruthenian Provincial Council in Galicia] (dalam bahasa Ukraina). Lviv. 1891. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)