Langlang Buana merupakan teater tradisional yang lahir dan tumbuh di Kepulauan Riau, tepatnya di Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri.[1] Tradisi Langlang Buana lahir sekitar akhir abad ke-19 yang menggabungkan antara tari dan cerita.[2]
Sejarah
Secara terperinci, tidak ada yang mengetahui kapan tepatnya teater tradisi langlang buana ini berdiri dan atas dasar apa pertunjukan ini dicetuskan. Namun, diketahui bahwa teater tradisi Lang Lang Buana ini pertama kali dicetuskan oleh Datok Kaya Wan Mohammad Benteng sekitar akhir abad ke-19. Kelompok teater yang dipimpin oleh Datok Kaya Wan Mohammad Benteng secara spontan diberi nama Langlang Buana sesuai dengan nama tokoh sentral yang ada di dalam lakon sekaligus judul dari lakon itu sendiri. Setelah beliau wafat, teater tradisi ini diteruskan oleh anaknya Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid sekitar tahun 1930.[3][4][5]
Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid yang berprofesi sebagai seorang guru Sekolah Rakyat. Pada saat itu, di pulau Ranai hanya ada satu sekolah yang berada di desa Tanjung. Jarak antara desa Tanjung dengan desa Kelanga tidak begitu jauh. Di desa Kelanga inilah, Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid mulai mengajak dan melatih masyarakat setempat untuk terlibat di dalam pementasan teater tradisi langlang buana. Pada masa kepemimpinan Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid, pertunjukan teater tradisi langlang buana sangat digemari oleh masyarakat Ranai. Ia juga membuat catatan yang berisi tentang alur cerita langlang buana. Sekitar tahun 1946, kelompok teater tradisi ini telah melakukan pertunjukan berkeliling kampung.[3][5]
Teater tradisi ini digelar tidak hanya di Pulau Ranai, tetapi sampai ke pulau-pulau lainnya, seperti Pulau Tiga, Kelarik, Sedanau, Midai dan Serasan. Mereka melakukan pementasan secara sukarela tanpa memungut bayaran. Setelah Datok Kaya Wan Mohammad Rasyid wafat, teater tradisi ini diteruskan salah satu muridnya yang bernama Pak Sahir. Teater kemudian dilanjutkan oleh Amar, Anwar, Bujang Isa, Darmawan, dan Hasyim. Sepeninggal Pak Sahir, terjadi beberapa perubahan dan penyesuaian. Yang mulanya hanya dimainkan oleh kaum laki-laki, kaum perempuan boleh ikut bermain di dalam pertunjukan. Waktu pementasannya pun dipersingkat. Pertunjukan pada acara perkawinan hanya berlangsung selama satu malam saja. Sedangkan durasi pertunjukan untuk acara perayaan disingkat menjadi tiga malam.[4][5]
Komponen pertunjukan
Busana
Pemeran teater langlang buana memakai busana bebas sesuai dengan jenis pakaian yang ada. Namun, sering kali yang digunakan berupa baju kurung teluk belanga. Pemeran pria memadankan baju kurung ini dengan kain sampin. Adapun, pemeran wanita memasangkannya dengan sarung yang memiliki lipatan kain berlipit-lipit yang disebut sebagai ikatan ombak mengalun. Kain sarung ini juga dikenali sebagai kain dagang yang dikenakan sebagai kerudung ketika bepergian.[5]
Aksesoris
Busana yang dikenakan pemeran teater Langlang Buana dilengkapi dengan hiasan kepala seperti songkok atau ikat kepala.[5]
Tata rias
Dahulu, adakalanya perempuan belum diizinkan untuk turut serta berlakon dalam teater Langlang Buana ini, sehingga peran perempuan dimainkan pula oleh lelaki. Dalam hal ini, pelakon lelaki dirias sebagaimana perempuan. Namun, riasan yang digunakan seadanya saja.[5]
Tata panggung
Teater tradisional Langlang Buana perlu ditampilkan di atas panggung walaupun pementasannya dilakukan di ruang terbuka. Hal ini dikarenakan, pelakon tidak boleh menginjak tanah selama pementasan, yang dikaitkan dengan kisah orang kayangan yang tidak dibolehkan menginjak tanah di bumi. Ukuran dari panggung ini dapat menyesuaikan dengan kondisi lapangan atau lokasi pentas.[5]
Musik pengiring
Penampilan teater Langlang Buana turut diiringi dengan permainan alat musik tradisional seperti biola, gendang, serta gong. Sementara itu, lagu-lagu yang dibawakan dalam pertunjukan antara lain Air Mawar, Lemak Lamun, Lakau, Kawang, Mak Inang, Laili, dan Melur. Pemilihan lagu disesuaikan dengan adegan yang sedang berlangsung di panggung.[5]
Tarian
Pertunjukan teater ini juga menampilkan tarian tradisional seperti Tari Inai, Tari Selendang Mak Inang, dan Tari Laili.[5]
Isi cerita
Teater Langlang Buana disajikan dalam bentuk tragedi sekaligus komedi. Cerita yang ditampilkan dalam teater ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang berusaha mewujudkan keinginannya untuk menikahi seorang putri dari kayangan. Dalam teater ini, penonton juga terlibat secara tidak langsung dengan memberikan masukan dan tanggapan.[5]
Fungsi
Pementasan seni teater Langlang Buana ini disajikan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti pernikahan, khatam Alqur’an, maupun penyambutan tamu atau pejabat yang berkunjung ke wilayah tersebut. Selain itu, kesenian ini juga sering diundang tampil di sejumlah daerah di Pulau Tujuh, antara lain Sedanau, Midai, Kelarik, dan Pulau Laut. Bahkan, rombongan teater pernah diundang ke Daik Lingga untuk meramaikan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.[5]
Warisan budaya takbenda Indonesia
Kesenian Langlang Buana yang berasal dari Kab. Natuna ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, setelah sidang penetapan WBTB pada tanggal 13 – 16 September 2016.[6]
12Arman, Dedi (20 sepetember 2016). "Langlang Buana Diambang Kepunahan". Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Diakses tanggal 19 Juni 2025.;