Lalove berbentuk seperti seruling dan terbuat dari bambu atau rotan pilihan dengan panjang kurang lebih seukuran tangan orang dewasa dan diameter tiga cm.[2] Pemilihan bahan dasar pembuatan Lalove dilakukan melalui ritual. Sebelum menebang bambu dari pegunungan, digelar upacara permohonan izin kepada roh penghuni wilayah tersebut dengan memberikan sesajen berupa ayam putih yang darahnya diambil sedikit sebelum dilepaskan kembali. Upacara juga disertai pembacaan mantera serta penyajian makanan tertentu.[3]
Setelah upacara selesai, dipilih bambu tertinggi, lurus, dan cukup tua untuk ditebang sambil mengucapkan “tebe” sebagai bentuk permisi. Tiga batang bambu yang terpilih kemudian dibawa ke sungai. Ranting-rantingnya dibersihkan dan dilempar ke dalam aliran air. Bambu yang pertama kali hanyut dianggap digunakan sebagai bahan utama Lalove.[3]
Bambu yang dipilih kemudian dipotong menjadi beberapa ruas dan dikeringkan secara alami. Salah satu ruas dibiarkan tertutup, kemudian disayat sedikit pada bagian bukunya. Sayatan tersebut dililit dengan rotan yang sudah diraut, sehingga terbentuk lubang sempit sebagai saluran udara dari mulut ke dalam bambu.[3]
Pada sisi berlawanan dari bagian yang disayat, dibuat enam lubang lain. Tiga lubang pertama dan tiga lubang kedua dipisahkan secara simetris. Untuk memperbesar suara, bagian ujung Lalove dimasukkan ke dalam batang bambu berukuran lebih besar yang disebut solonga.[3] Permainan Lalove memerlukan keterampilan khusus dari pemusik dalam pengaturan napas dan jari untuk mendapatkan teknik tiupan yang halus dan presisi, khususnya ketika dimainkan dalam kelompok.[4]
Penggunaan
Masyarakat lokal Suku Kaili memercayai bahwa musik Lalove bisa mengundang roh, sehingga sering dimainkan dalam upacara penyembuhan orang sakit (Balia).[4] Pada upacara Balia Jinja dan Balia Tomini, seruling lalove bersama dengan gendang gimba dan sebuah gong digunakan untuk memanggil arwah leluhur maupun makhluk gaib.[5] Oleh karena sifatnya yang sakral, alat musik ini dahulu hanya dimiliki oleh orang tertentu.[3]
Saat ini, penggunaan Lalove tidak hanya digunakan dalam ritual, tetapi juga sebagai pengiring tari kreasi modern. Lalove pernah dipadukan dengan musik Kakula dalam pertunjukan The Hawai’i Kakula Ensemble.[3] Selain itu, Lalove turut ditampilkan dalam berbagai perayaan dan pertunjukan seni, salah satunya dalam Festival Palu Nomoni, di mana 520 Lalove dimainkan untuk memperkenalkan budaya Kaili kepada masyarakat.[2] Selain dimainkan dalam ritual dan perayaan, seruling khas suku Kaili ini juga dimainkan dalam olahraga tradisional Sanjasio sejak awal hingga akhir permainan.[6]
Referensi
↑"Lalove". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-15.