Labia memanjangTampilan dekat labia yang membesar, posisi berdiriWanita Khoikhoi, gambar dari "Travels of Le Vaillant", 1783
Labia yang memanjang (juga dikenal sebagai sinus pudoris atau makronimfa,[1] dan secara sehari-hari disebut sebagai celemek Khoikhoi atau celemek Hottentot) adalah ciri fisik pada wanita Khoekhoe tertentu yang memiliki, baik secara alami maupun melalui peregangan buatan, labia minora yang relatif memanjang, yang dapat menggantung hingga 10 sentimeter (4in) di luar bagian vulva lainnya ketika mereka sedang dalam posisi berdiri tegak.
Sejarah
Sebutan "celemek" tampaknya muncul dari kecenderungan deskripsi awal orang Eropa yang salah mengidentifikasi sepasang labia tersebut sebagai satu organ tunggal yang lebar, yang mereka sebut dalam bahasa Prancis sebagai tablier, atau "celemek".[2]
Karakteristik dari ciri ini telah diketahui sejak tahun 1680-an, dengan catatan Eropa pertama mengenai subjek ini dibuat oleh Anderson dan Iverson, yang mengunjungi Tanjung Harapan pada tahun 1644, terkait dengan orang "Hottentot" di wilayah tersebut,[3] namun baru didokumentasikan secara ekstensif pada akhir abad ke-18 dan ke-19.[4][butuh sumber yang lebih baik] Kasus Sarah Baartman merupakan hal yang signifikan. Selama bertahun-tahun, identifikasi Baartman dipertanyakan karena ia menunjukkan ciri ini. Secara historis, labia minora yang memanjang dikatakan sebagai gambaran dari seorang "Negro". Oleh karena itu, karena ciri inilah Baartman dianggap sebagai bagian dari apa yang disebut "ras inferior".[5][butuh klarifikasi]
Ketika Kapten James Cook mencapai Cape Town pada tahun 1771, menjelang akhir pelayaran pertamanya, ia mengakui "sangat berkeinginan untuk menentukan pertanyaan besar di antara para ahli sejarah alam, apakah para wanita di negeri ini memiliki atau tidak memiliki kelopak berdaging atau celemek yang disebut sinus pudoris"; pada akhirnya seorang dokter menggambarkan perawatan pasien dengan labia yang berkisar antara 1,3 hingga 7,6 atau 10,2 sentimeter (1⁄2 hingga 3 atau 4in) panjangnya.[6]
Di Afrika Timur, Monica Wilson mencatat adat tersebut melalui kerja lapangannya dengan orang Nyakyusa pada tahun 1930-an, dan di Afrika bagian Selatan Isaac Schapera yang bekerja dengan orang Nama, kelompok terbesar di antara Khoikhoi, juga membahas peregangan labia dalam The Khoisan Peoples of South Africa (1930).[7] Menurut Schapera, beberapa wanita diamati memiliki labia minora memanjang yang terkadang menonjol hingga 10 cm di bawah vulva saat berdiri.[8] Terdapat perdebatan di antara para antropolog awal ini mengenai apakah dan dalam keadaan apa kejadian labia memanjang tersebut harus dianggap sebagai ciri fisiologis atau hasil manipulasi buatan.[8]
Praktik budaya
Labia dapat dibentuk melalui peregangan labia yang disengaja, sebuah praktik kekeluargaan yang biasanya dilakukan oleh bibi yang lebih tua pada anak perempuan mulai usia lima tahun. Praktik ini sebelumnya masuk dalam kategori Tipe IV mutilasi alat kelamin wanita,[9][10][butuh sumber yang lebih baik] namun pada tahun 2008 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mereklasifikasi praktik tersebut sebagai prosedur modifikasi tubuh karena kurangnya bukti bahaya yang nyata serta adanya persepsi positif yang dilaporkan mengenai seksualitas wanita oleh mereka yang mempraktikkannya.[11]
↑Pieterse, Jan Nederveen (1992). White on Black: Images of Africa and Blacks in Western Popular Culture. Yale University Press. hlm.180. ISBN9780300063110. "The Female Hottentot, with natural Apron." The "Hottentot apron", a late-eighteenth and early-nineteenth-century medical myth of grossly overdeveloped labia, is here represented as fact. (Lithograph by J. Pafs, Great Britain, 1795)