Kehidupan
Lahir pada tahun 1900 di Pasuruan, Jawa Timur, orang tua Kwee adalah keturunan Tionghoa Peranakan 'Cabang Atas' yang berasal dari kalangan pejabat Cina di Hindia Belanda.[2][4] Ayahnya, Kwee Tjiong Khing, adalah cucu dari Kwee Sioe Liem, Kapitan Cina Pasuruan, dan cicit dari Kwee Sam Hway (1801–1865), Letnan Cina Malang pertama, serta cucu dari tuan tanah asal Surabaya, Tan Tong Liep (1831–1907).[4][5] Ibu Kwee Thiam Tjing, Liem Liang Nio, adalah anak dari Liem Bong Wan (lahir pada tahun 1856) dan keponakan dari Liem Bong Lien, Letnan Cina Pasuruan (1855–1918).[4][6] Ia pun mendapat gelar 'Sia', karena merupakan keturunan dari pejabat Cina, tetapi ia tidak pernah menggunakan gelar tersebut.[7] Keluarga Kwee di Malang dan Madura ini dapat ditelusuri keberadaannya di Indonesia sejak abad ke-17.[8][9]
Meskipun hidup relatif nyaman, keluarga Kwee tidak lagi menjadi bagian dari tingkatan teratas pada Cabang Atas, karena ayah Kwee hanya bekerja sebagai penyelia di sebuah pabrik gula di Malang.[7] Walaupun begitu, Kwee tetap dapat bersekolah di sekolah menengah berbahasa Belanda, yakni ELS dan MULO di Malang.[1][2] Hingga tahun 1902, agar dapat diterima di sekolah berbahasa Belanda, selain memiliki uang yang cukup, siswa non-Eropa harus berlatar belakang aristokrat Jawa atau Peranakan Cabang Atas.[7] Pendidikan Belanda dan latar belakang Peranakan dari Kwee dapat dilihat pada tulisannya, yang menunjukkan bahwa ia familiar dengan bahasa Melayu, Belanda, Jawa, dan Hokkien.[2]
Setelah bekerja sebentar di sebuah perusahaan impor-ekspor, Kwee Thiam Tjing beralih ke dunia jurnalistik.[2] Pada tahun 1925, Kwee bergabung ke dewan editorial dari koran Soeara Publiek asal Surabaya.[1] Pada tahun 1926, ia dipenjara selama satu bulan karena menulis dukungan untuk pemberontakan Suku Aceh di Sumatera Utara, sehingga melanggar hukum pers kolonial.[1][2] Pada akhir tahun 1929, Kwee menjadi editor di koran Sin Tit Po asal Surabaya yang dimiliki oleh Liem Koen Hian. Pada tahun 1931, ia pun menjadi kepala editor di koran tersebut.[1]
Pada tahun 1932, bersama Liem, Kwee mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI), sebuah partai politik sayap kiri yang mengadvokasi partisipasi etnis Cina pada gerakan nasionalis Indonesia.[1] Ia awalnya menjabat sebagai sekretaris PTI.[1] Pada saat itu, politik etnis Cina didominasi oleh partai Chung Hwa Hui yang konservatif, pro-Belanda, dan dilihat sebagai juru bicara dari pejabat Cina, serta didominasi oleh kelompok yang disebut sebagai kelompok Sin Po yang mengadvokasi kesetiaan ke Republik Tiongkok.[7] Melalui PTI, Liem dan Kwee mengajukan alternatif ketiga, yakni bahwa Tionghoa Indonesia adalah milik Indonesia dan seharusnya berpartisipasi dalam kebangkitan dan pemerdekaan Indonesia dari kolonialisme.[7]
Mulai tahun 1933 hingga 1934, Kwee pindah ke Jember dan menerbitkan korannya sendiri, yakni Pembrita Djember.[1][7] Setelah koran tersebut tutup, Kwee diundang oleh Kwee Hing Tjiat untuk menulis di Mata Hari, sebuah koran asal Semarang yang dimiliki oleh Kian Gwan, konglomerat multinasional terbesar di Asia pada saat itu (didirikan pada tahun 1863 oleh Oei Tjie Sien dan dikembangkan oleh anaknya, Mayor Oei Tiong Ham).[1][7] Walaupun menerima tawaran tersebut, ia tetap tidak yakin dengan koran tersebut, karena koran tersebut berhubungan erat dengan Chung Hwa Hui.[7] Selama bekerja di Mata Hari, Kwee mendapat surat sarkastik dari temannya yang menganggapnya berkolaborasi dengan kapitalis.[7] Pada tahun 1936, Kwee telah keluar dari Mata Hari dan sepertinya telah pindah ke Bandung, Jawa Barat, di mana ia menjadi pekerja lepas di sejumlah koran hingga akhirnya kembali ke Jawa Timur sekitar tahun 1940.[7]
Pendudukan Jepang di Hindia Belanda (1942–1945) mengakhiri sebagian besar pers dan organisasi politik kolonial.[2] Kwee lalu ditunjuk menjadi ketua dari sebuah Tonarigumi, yang merupakan pendahulu dari rukun tetangga.[2] Selama menjabat, ia berusaha melindungi wanita dan anak asal Belanda dari pasukan pendudukan Jepang.[2] Pada tahun 1947 di Malang, di tengah revolusi Indonesia, dengan menggunakan pseudonim Tjamboek Berdoeri, Kwee menerbitkan karyanya yang paling terkenal, yakni Indonesia dalem Api dan Bara.[1][2][3] Sejarawan Benedict Anderson pun menyebut bahwa buku tersebut adalah 'buku terbaik hingga saat ini yang ditulis oleh seorang Indonesia mengenai kekacauan tersebut' (Anderson, 2018).[2]
Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupannya setelah tahun 1946.[2] Mulai tahun 1960 hingga 1970, Kwee tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia bersama anaknya, Jeanne Kwee, dan menantunya, Stanley Gouw.[1][7] Pada tahun 1970, Kwee kembali ke Indonesia. Mulai tahun 1971 hingga 1973, ia menulis serial autobiografi untuk koran milik Mochtar Lubis, yakni Indonesia Raya.[1] Pada tahun 1974, koran tersebut dilarang untuk terbit oleh rezim Soeharto.[2] Kwee Thiam Tjing akhirnya meninggal di Jakarta pada tanggal 28 Mei 1974.[1] Jenazah Kwee lalu dimakamkan di TPU Tanah Abang I di Jakarta. TPU Tanah Abang I kemudian digusur untuk dijadikan Taman Prasasti, sehingga makam Kwee pun digali kembali dan tulang-belulangnya dikremasi agar abunya dapat ditabur di Laut Jawa.