Kusnah (3 Juli 1905 – 28 Agustus 1960) atau sering dipanggil dengan nama Ibu Ruswo adalah pahlawan perempuan dari Yogyakarta. Pada masa perang kemerdekaan, beliau berjuang dengan menjadi kurir dan mengkoordinasi dapur umum. Karena kedekatannya dengan para gerilyawan dalam melayani keperluan para pejuang, beliau diberi predikat sebagai Ibu Prajurit. Beliau juga berjuang melalui organisasi-organisasi wanita dan organisasi sosial dengan semangat nasionalisme yang tinggi. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Gerilya.[1]
Biografi
Ibu Ruswo lahir di Yogyakarta pada tahun 1905, yang dalam catatan keluarga tertulis dalam penanggalan Jawa sebagai 29 Bakda Mulud tahun 1835 (Jawa). Saat lahir, ia diberi nama Kusnah oleh orang tuanya. Nama Ruswo berasal dari suaminya, yang dinikahinya pada tahun 1921. Setelah menikah dengan Ruswo, ia mulai dikenal sebagai Nyi Kusnah Ruswo Prawiroseno atau lebih akrab disebut Ibu Ruswo. Sebagai anak dari keluarga Jawa biasa, ia hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Setelah dewasa, ia menikah dengan Ruswo, seorang pegawai Kantor Pos yang rajin dan berdedikasi. Sayangnya, pernikahan mereka tidak dikaruniai anak.
Setelah menikah, Ibu Ruswo dan Pak Ruswo mulai terlibat dalam gerakan perjuangan. Ibu Ruswo aktif di berbagai organisasi perempuan dan sosial, termasuk kepanduan dan lainnya. Dalam perjuangannya, ia sering menghadapi risiko penangkapan oleh Belanda. Namun, berkat ketekunan dan kecerdikan Pak Ruswo dalam pekerjaannya, aktivitas perjuangan Ibu Ruswo dapat tersamarkan, sehingga ia berhasil menghindari kejaran pemerintah Belanda.
Organisasi kepanduan
Pada tahun 1928, INPO (Indonesische Nationale Padvinders Organisatie) atau dalam bahasa Indonesia menjadi Kepanduan Nasional Indonesia berdiri dan berpusat di Jakarta. Saat itu, Bapak dan Ibu Ruswo turut berperan aktif dalam mendirikan cabang-cabangnya di Yogyakarta serta menjadi bagian dari kepengurusannya. Seiring waktu, INPO bergabung dengan Jong Java Padvindery (Kepanduan Gerakan Jong Java) dan akhirnya melebur menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) yang berpusat di Yogyakarta. Ibu Ruswo sendiri tetap aktif dalam kepengurusan KBI ini.[2]
Organisasi perempuan
Ibu Ruswo juga berperan aktif dalam organisasi P4A (Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak). Keterlibatannya dalam organisasi ini didorong oleh keprihatinannya terhadap maraknya perdagangan perempuan dan anak pada masa itu. Melalui P4A, ia berupaya memberantas praktik tersebut secara lebih efektif. Selain itu, Ibu Ruswo turut berjuang melindungi buruh wanita dari perlakuan tidak adil yang sering dilakukan oleh pengusaha Jepang dan Tionghoa.
Secara keseluruhan, perjuangan Ibu Ruswo berfokus pada pembelaan dan perlindungan martabat perempuan serta anak-anak melalui berbagai organisasi wanita dan sosial. Salah satu caranya adalah dengan bergabung dalam Wanita Setya Rahayu, yang kemudian menjadi Isteri Indonesia. Melalui organisasi ini, ia menggalang dana dengan membuka stan makanan dan minuman saat perayaan Sekaten. Dana yang terkumpul digunakan untuk membantu para pejuang kemerdekaan, khususnya dalam penyediaan logistik, sehingga meringankan beban mereka dalam memenuhi kebutuhan perjuangan.[1]
Perjuangan
Ibu Ruswo memiliki peran aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, Indonesia terbebas dari penjajahan Belanda tetapi jatuh ke tangan Jepang, yang dinilai lebih kejam. Rakyat semakin menderita karena kekayaan Indonesia dikuras habis. Para pemimpin pun berusaha menyusun kekuatan untuk melawan Jepang. Saat Jepang berkuasa, segala sesuatu yang berhubungan dengan Belanda dihapus atau diganti dengan nama Jepang, termasuk organisasi-organisasi wanita yang dilebur menjadi Fujinkai untuk memudahkan pengawasan. Hal ini sangat membatasi pergerakan wanita dalam perjuangan. Dalam situasi tersebut, Ibu Ruswo berjuang melalui BPP (Badan Pembantu Prajurit), sebuah organisasi yang dibentuk untuk membina tentara PETA, Heiho, dan lainnya. BPP berpusat di Jakarta dengan ketua Oto Iskandar Dinata, sementara di Yogyakarta, Ibu Ruswo ditunjuk sebagai pengurus harian di bawah kepemimpinan BPH. Puruboyo.[1]
Tugas Ibu Ruswo di BPP sangat berat dan penuh risiko, karena jika terjadi kesalahan, hukumannya bisa berupa pemenggalan atau eksekusi. Namun, dengan kehati-hatian dan ketekunan, ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Pengalaman selama masa penjajahan Belanda membantunya dalam perjuangan bawah tanah bersama para pejuang kemerdekaan, termasuk Bung Karno. Bahkan, Ibu Ruswo pernah menyelamatkan Bung Karno dari sergapan intel Belanda (PID). Pengorbanan dan jasanya juga diakui oleh pemerintah Jepang, yang memberikan penghargaan kepadanya pada April 1945, bertepatan dengan hari kelahiran Kaisar Jepang Tenno Heika. Oleh pemerintah Jepang beliau dianugerahi bintang “UTSKU PERAK”.[3]
Setelah masa kemerdekaan, BPP kemudian menjelma menjadi BPKKP (Badan Penolong Keluarga Korban Perjuangan). Di tempat ini Ibu Ruswo menjadi pengurus aktif di BPKKP, sehingga setiap prajurit mengenal dan mengakui jasa baik Ibu Ruswo. Ibu Ruswo dianggap sebagai ibunya sendiri dan diberi predikat sebagai IBU PRAJURIT.[1]
Koordinator logistik dapur umum revolusi
Ibu Ruswo memainkan peran penting dalam mengoordinasikan dapur umum. Pada saat pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang bertempat di kantor BPKKP, diputuskan bahwa Ibu Ruswo mendapat tugas untuk memberi logistik berupa makan dan minum bagi para BKR atau tentara. Bersama para ibu di kota, ia bertanggung jawab menyiapkan logistik bagi para prajurit. Penyediaan logistik saat itu penuh risiko, karena tidak hanya mencakup persiapan makanan, tetapi juga proses mencari bahan, memasak, dan mendistribusikannya ke seluruh prajurit. Tugas ini sangat berbahaya dan menantang mengingat situasi perang yang berlangsung. Ibu Ruswo juga memastikan bahwa logistik dapat tersalurkan dengan baik hingga ke prajurit di luar daerah, seperti Magelang, Ambarawa, bahkan Semarang.[4]
Saat Agresi Militer Belanda II, Ibu Ruswo tetap aktif membantu para gerilyawan dalam memenuhi kebutuhan dapur umum. Rumahnya dijadikan Pos Komando SWK 101 sekaligus sebagai pusat logistik. Ia juga mengoordinasikan para ibu di Yogyakarta dan sekitarnya untuk berpartisipasi dalam penyediaan serta pendistribusian makanan bagi para pejuang.[1]
Kurir pesan gerilya
Selain aktif dalam dapur umum Revolusi, Ibu Ruswo dan Pak Ruswo juga berperan aktif dalam mengumpulkan laporan serta informasi, sekaligus menjadi penghubung dengan Komando TNI. Keduanya sering bertugas sebagai kurir, mengantarkan surat perintah dan dokumen penting dari Jenderal Sudirman kepada Letnan Kolonel Suharto, yang saat itu menjabat sebagai komandan WK-III. Selain itu, mereka juga menyampaikan surat-surat penting antara Letkol Suharto dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.[1]
Demi menjaga keamanan dokumen-dokumen tersebut, mereka menyembunyikannya di dalam stang sepeda yang ditutup dengan pegangan (handvat) atau di bawah sadel. Dengan cara ini, surat-surat tetap aman dan tidak terdeteksi saat ada pemeriksaan oleh tentara Belanda.
Anugerah tanda jasa
Atas perjuangannya yang tak kenal lelah dan penuh pengabdian, pada tahun 1958 Ibu Ruswo dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Presiden Soekarno di Sitinggil Kraton Yogyakarta. Pada kesempatan yang sama, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Ibu Sudirman, yang mewakili Jenderal Sudirman, juga menerima penghargaan dari pemerintah.
Setelah beberapa waktu menderita sakit, Ibu Ruswo wafat pada 28 Agustus 1960 di RS Panti Rapih Yogyakarta. Putra-putra TNI mengusulkan agar jenazahnya disemayamkan di Asrama Tentara Batalyon 438 Beteng Yogyakarta (kini Museum Benteng Vredeburg), tetapi Pak Ruswo memutuskan agar jenazah terlebih dahulu disemayamkan di rumahnya di Jalan Yudonegaran 99 A. Pagi harinya, jenazah sempat disemayamkan di Asrama Tentara Batalyon 438 selama beberapa jam sebelum akhirnya, berdasarkan keputusan pemerintah, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, pemerintah daerah mengabadikan namanya dengan mengganti nama Jalan Yudonegaran, tempat tinggalnya, menjadi Jalan Ibu Ruswo.[1]