Kultivasi diri atau kultivasi pribadi (Hanzi:修身; Pinyin:xiūshēn; Wade–Giles:hsiu-shen; harfiah: 'mengembangkan diri sendiri') adalah pengembangan pikiran atau kapasitas seseorang melalui upaya mandiri.[1] Pengembangan diri merupakan upaya membudidayakan, mengintegrasikan, dan mengoordinasikan pikiran serta tubuh. Meskipun pengembangan diri dapat dipraktikkan dan diterapkan sebagai bentuk terapi kognitif dalam psikoterapi, konsep ini melampaui sekadar penyembuhan dan swabantu karena juga mencakup pengembangan diri, peningkatan diri, dan aktualisasi diri. Hal ini diasosiasikan dengan upaya untuk melampaui dan memahami keadaan normal manusia, meningkatkan serta mengasah kapasitas diri, serta mengembangkan atau mengungkapkan potensi manusia yang bersifat bawaan.[2]
Pengembangan diri juga merujuk pada model filosofis dalam Mohisme, Konfusianisme, Taoisme, dan filsafat Tionghoa lainnya, serta dalam Filsafat Yunani Kuno, dan merupakan komponen penting dari nilai-nilai etika Asia Timur yang mapan. Meskipun istilah ini berlaku untuk tradisi budaya dalam Konfusianisme dan Taoisme, tujuan serta aspirasi pengembangan diri dalam tradisi-tradisi tersebut sangatlah berbeda.[3]
Referensi
↑"self-cultivation". Merriam-Webster Online-Dictionary. Diakses tanggal 2019-05-01.
Gramsci, A. (1992). Prison notebooks, Vol. 2. New York, NY: Columbia University Press. [Google Scholar]
Heidegger, M. (1969). Identity and difference (J. Stambaugh, Trans. with an introduction.). New York, NY: Harper & Row Publishers. [Google Scholar]
Heidegger, M. (1977). The question concerning technology and other essays ( W. Lovitt, Trans. with an introduction.). New York: Harper Torchbooks. [Google Scholar]
Heidegger, M. (1978). Letter on humanism. In D. F. Krell (Ed.), Basic writings (2nd ed., pp.213–265). London: Routledge. [Google Scholar]
Huang, C. -C. (2010). Humanism in East Asian Confucian Contexts. Bielefeld: Transcript Verlag.[Crossref], [Google Scholar]
Legge, J. (Trans.). (1861). Confucian analects. The Chinese classics, volume 1. (D. Sturgeon, Ed.). Chinese Text Project. Retrieved 21 March 2017, from http://ctext.org/analects [Google Scholar]
Wittgenstein, L. (1997). Philosophical investigations (2nd ed.). (G. E. M. Anscombe, Trans.). Malden, MA: Blackwell. [Google Scholar]
Wittgenstein, L. (2001). Tractatus Logico-philosophicus (D. F. Pears & B. F. McGuinness, Trans.). New York, NY: Routledge. [Google Scholar]
Yu, K. P. (2013). The hows and whys of the classics of filial piety孝經的道與理 (Xiaojing de dao yu li). Hong Kong: InfoLink. [Google Scholar]