Disebutkan bahwa wilayah Meureudu pernah menjadi pertimbangan sebagai lokasi ibu kota Kesultanan Aceh. Air dari Krueng Meureude ditimbang dengan air dari Krueng Aceh, dan hasilnya menunjukkan bahwa air Krueng Meureudu lebih baik. Namun, konspirasi politik di kalangan elit Kesultanan Aceh yang menyebabkan hasil penimbangan air tersebut diganti. Akibatnya, ibu kota kesultanan tetap berada di sekitar aliran Krueng Aceh di Banda Aceh. Untuk mempersiapkan pemindahan ibu kota kesultananan, Sultan Iskandar Muda pernah mendirikan sebuah benteng di tepi Krueng Meureudu.[5][6]
Hidrologi DAS
Krueng Meureudu merupakan aliran utama dalam sistem daerah aliran sungai yaitu DAS Meureude yang memiliki luas daerah tangkapan air mencapai 398,4km2 (153,8sqmi)[1] yang mencakup kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Luas tangkapan air dalam sistem DAS tersebut di dominasi oleh kabupaten Pidie Jaya yaitu sekitar 304km2 (30.400ha), khususnya di wilayah kecamatan Meuredu.[7]
Selain dimanfaatkan sebagai kebutuhan air baku, aliran Krueng Meureudu juga digunakan untuk mengairi Daerah Irigasi di kawasan tersebut seluas 1.995km2 (199.500ha).[7]