Kritik terhadap Perang Salib dapat meliputi Perang Salib secara umum maupun periode Perang Salib tertentu.[1] Arus kritik biasanya ditujukan pada pelaksanaan perang, sementara konsep Perang Salib itu sendiri dikritik oleh segolongan pendapat yang lebih sedikit.[1][2] Kritik pelaksanaan perang lebih sering ditujukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan perang selanjutnya. Karena perang bernuansa religius ini menuntut standar yang lebih tinggi daripada perang lainnya, kritikus sezaman sering menyalahkan dosa-dosa tentara salib ketika mereka kalah perang, seperti keserakahan atau pergaulan bebas.[2]
Selain pelaksanaan perang, kritik juga ditujukan terhadap pendanaan perang dan khotbah yang memotivasi perang. Dalam kronikRoger dari Wendover dan Matthew dari Paris, misalnya, pajak baru dikritik sebagai sebuah contoh pemerasan yang berbahaya, sementara para pengkhotbah dituduh mendulang dana lewat khotbah suci mereka. [2] Pada abad ke-13Gereja Katolik Roma mengizinkan penebusan sumpah Perang Salib, artinya seseorang dapat mengganti partisipasi Perang Salib dengan tindakan atau sumbangan uang yang setara. Hal ini sebagian besar diterima di Eropa Barat tetapi tetap mendapat kritik.[1]
Kritik terhadap Perang Salib mulai meningkat ketika Perang Salib makin marak (1095–1291).[1] Sering kali, kritik tersebut dilatarbelakangi oleh kekecewaan dan, terutama saat Perang Salib Kedua (1147–1149) gagal, konsep Perang Salib sendiri mulai dipertanyakan.[1][2] Gerhoh dari Reichersberg, seorang teolog, telah mendukung Perang Salib Pertama (1095–1099) dan berubah setelah itu. Ia menyimpulkan bahwa Perang Salib dilatarbelakangi oleh keserakahan dan bahwa Tuhan telah menghendaki tentara salib tertipu oleh khotbah palsu sehingga menyebabkan kehancuran. [3]Sejarah Würzburg bahkan mengklaim bahwa Perang Salib Kedua diilhami oleh iblis:
Allah mengizinkan gereja Barat untuk jatuh disebabkan dosa-dosanya. Setelah itu muncullah nabi-nabi palsu, putra-putra Belial dan saksi Antikristus, yang menggoda orang Kristen dengan kata-kata kosong. Dengan khotbah mereka memaksa semua orang untuk melawan Saracen guna membebaskan Yerusalem ... begitu berpengaruhnya mereka sehingga penduduk dari hampir segala daerah dengan ikrar bersama menyerahkan diri untuk kehancuran bersama.
[4]
Selama Perang Salib Kedua, Isaac de l'Étoile, seorang biarawan teolog, mengkritik Ksatria Templar sebagai sebuah "kebrutalan baru" dan bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan non-Kristen tentang penjarahan dan pembantaian yang mereka lakukan atas nama Yesus.[1] Pada tahun 1214 abas biara Perseigne Adam, yang berperang di Tanah Suci dalam Perang Salib Keempat (1202–1204), menentang gagasan perang salib itu sendiri:
Kristus membayar harga darah-Nya sendiri bukan demi mendapatkan tanah Yerusalem, melainkan untuk mendapatkan dan menyelamatkan jiwa manusia.[1]
Gelombang kritik terhadap Perang Salib muncul ketika Perang Salib Ketujuh (1248–1250) gagal.[1][2]Humbert dari Romans, dalam risalahnya tentang khotbah perang salib, De praedicatione crucis, mengungkapkan kritik sezaman terhadap Perang Salib.[2] Ia juga membela gerakan perang salib selama Konsili Lyon Kedua pada tahun 1274. Di antara argumen yang ia kemukakan menentangnya adalah kekecewaan karena kegagalan dan pasifisme yang terang-terangan.[5]
Siberry, Elizabeth (2006). "Criticism of Crusading". Dalam Alan V. Murray (ed.). The Crusades: An Encyclopedia. Vol.1. ABC-CLIO. hlm.299–301. ISBN1576078620.
Throop, Palmer A. (1938). "Criticism of Papal Crusade Policy in Old French and Provençal". Speculum. 13 (4): 379–412. JSTOR2849662.