Dakwah Perang SalibKardinal Simon de Brie berkhotbah tentang Perang Salib di hadapan Raja Louis IX dari Prancis
Dakwah atau khotbah Perang Salib merupakan langkah yang cukup berpengaruh untuk mengobarkan Perang Salib setelah diserukan oleh Paus Gereja Katolik.[1] Penyampaian khotbah biasanya berjalan di bawah mandat paus langsung.[2] Gerakan ini memiliki dua tujuan besar, yaitu untuk menjaring prajurit baru dan menghimpun dana perang.[3]
Para pengkhotbah
Seruan Perang Salib disampaikan secara luas oleh kalangan rohaniwan, mulai dari pastorparoki hingga paus.[1] Perang Salib Pertama resmi dimulai setelah Paus Urbanus II menyampaikan khotbahnya dalam Konsili Clermont pada November1095. Gerakan ini juga digerakkan oleh banyak pengkhotbah populer yang sebenarnya tidak memiliki status resmi, salah satunya adalah Peter the Hermit (Peter si Pertapa).[4]
Meskipun Paus Urbanus II telah mendorong para uskup untuk ikut menyuarakan gerakan salib ini, hanya sedikit dari mereka yang melaksanakannya. Namun, keberhasilan Perang Salib Pertama pada akhirnya mengubah pandangan para uskup terhadap pentingnya khotbah tersebut.[2] Menariknya, setidaknya ada satu ekspedisi awal, yaitu Perang Salib 1129, yang berhasil dihimpun tanpa adanya khotbah sama sekali, melainkan murni melalui upaya perekrutan oleh para perwira yang diutus langsung dari negara-negara Tentara Salib.[3]
Sejumlah gerakan Perang Salib rakyat yang kemudian dikenal luas berlangsung tanpa dukungan resmi Gereja. Di antaranya adalah Perang Salib pada 1212 dan Perang Salib pada 1251.[5] Gerakan-gerakan ini dipimpin oleh para pengkhotbah yang mengusung narasi mesianik dan visioner, serta menjanjikan tercapainya Tanah Perjanjian(Promised Land) yang diyakini tidak dapat diraih oleh kalangan kaya dan berkuasa.[4]
Seiring waktu, kepausan berupaya memperkuat pengawasan terhadap khotbah-khotbah Perang Salib dengan mengambil alih kendali proses perekrutan dan penyebaran propaganda. Untuk tujuan tersebut, Takhta Suci mulai memanfaatkan para agen dan utusan khusus, di samping struktur hierarki Gereja yang sudah ada.[2]
Sejak masa Bernard dari Clairvaux, tokoh utama yang menyerukan Perang Salib Kedua (1147-1149), Ordo Sistersian memainkan peran penting dalam penyebaran khotbah resmi Perang Salib. Namun, tidak semua aktivitas khotbah dilakukan atas persetujuan Gereja. Seorang biarawan Sistersian bernama Radulf, misalnya, pernah mengkampanyekan Perang Salib Kedua tanpa izin otoritas gereja dan kemudian dijatuhi hukuman.[5][6] Kedatangan utusan resmi paus (papal legate) untuk mengkhotbahkan Perang Salib tercatat mulai dilakukan pada 1173-1174,[2] menandai makin besarnya peran kepausan dalam mengatur dan mengarahkan gerakan Perang Salib di Eropa.