Krangkong (Ludwigia adscendens) merupakan tumbuhan semak dari famili Onagraceae. Spesies ini memiliki kebiasaan tumbuh di air (hidrofit). Krangkong berasal dari bioma beriklim tropis basah di kawasan tropis dan subtropis. Di Indonesia, krangkong memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya buang buang (Sumatra), krangking (Jawa), atau ganggeng landeuh (Sunda). Nama ilmiah L. adscendens pertama kali dipublikasikan oleh botanis Hiroshi Hara pada tahun 1953.[1] Tanaman ini terkadang dipanen dari alam liar sebagai sumber makanan dan obat-obatan lokal.[2][3]
Pemerian
Krangkong adalah tanaman herba menahun dengan batang menjalar dan menaik yang berakar pada bukunya. Batang tegaknya mencapai tinggi 60 cm, sementara batang menjalar yang mengapung di air dapat mencapai panjang 4 meter. Ketika tumbuh di lahan kering, tanaman ini memiliki daun kecil yang rapat, berbulu lebat, dan jarang berbunga.[3]
Tanaman ini memiliki daun tunggal dengan bilah elips, yang panjangnya 0,4–7 cm dan lebar 0,7–3 cm. Tangkai daunnya pendek 0,5–1,0 cm. Bunganya yang berwarna krem muncul tunggal di ketiak daun, dan masing-masing memiliki 5 sepal, 5 petal, dan 10 stamen.[4]
Sebaran dan habitat
Krangkong saat ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis Afrika, utara ke Turki, Asia Timur dari Pakistan melalui Indochina ke Australia, di Mesoamerika, dan Karibia. Namun, diduga ia berasal dari Amerika Selatan.[5]
Tanaman ini dapat ditemukan di kolam air tawar, parit, rawa, sawah bera dan sawah basah, sangat umum, dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1.600 meter.[3]
Kegunaan
Bagian aerial Ludwigia bersifat mucilaginous (memiliki konsistensi kental atau seperti agar-agar), dan dianggap antiseptik dan emolien. Mereka banyak digunakan di Asia, termasuk Indonesia dan Malaysia, untuk tapal sakit kepala, luka, luka bakar, bisul, borok, impetigo, jerawat dan gangguan kulit lainnya. Di Indo-Cina, tunas muda krangkong yang dihancurkan dicampur dengan minyak jarak (Ricinus communis L.), dan digunakan untuk mengobati kurap. Karena sifat antiseptiknya, Ludwigia juga digunakan dalam oftalmia (peradangan mata), demam, sakit tenggorokan, dan gigitan ular dan anjing. Di Cina, rebusan bagian aerial krangkong digunakan sebagai obat. Dalam rebusan, Ludwigia dianggap astringen dan diuretik dan umumnya digunakan di wilayah tersebut untuk diare dan disentri, sebagai karminatif dan sebagai pencahar. Di Tiongkok dan Indo-Tiongkok, rebusan bagian aerial L. adscendens diresepkan untuk nyeri rematik.
Di Asia Tenggara Daratan (Indo-Cina), bagian muda L. adscendens dimakan sebagai salad. Di Indonesia, L. adscendens dikatakan berbahaya bagi ternak karena dapat menyebabkan gastroenteritis. Namun, di Indo-Tiongkok dan Afrika, tanaman ini dianggap sebagai pakan ternak yang baik. Di Semenanjung Malaysia, Ludwigia dibajak di sawah sebagai pupuk hijau.[6]
Referensi
↑"Krangkong". Plantamor. Diakses tanggal 2025-11-20.