ENSIKLOPEDIA
Kopi arabika
| Kopi arabika | |
|---|---|
| Bunga Coffea arabica | |
| Buah Coffea arabica | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Asteridae |
| Ordo: | Gentianales |
| Famili: | Rubiaceae |
| Genus: | Coffea |
| Spesies: | C. arabica |
| Nama binomial | |
| Coffea arabica | |
Coffea arabica (/əˈræbɪkə/), yang juga dikenal sebagai kopi arabika, adalah spesies tumbuhan berbunga dalam famili kopi-kopian dan mengkudu, Rubiaceae. Spesies ini diyakini sebagai spesies kopi pertama yang dibudidayakan dan merupakan kultivar dominan yang mencakup sekitar 60% dari produksi global.[2] Sebagian besar sisa produksi kopi lainnya dipenuhi oleh kopi yang dihasilkan dari biji robusta (C. canephora) yang tingkat keasamannya lebih rendah, lebih pahit, dan mengandung lebih banyak kafeina. Populasi alami Coffea arabica terbatas pada kawasan hutan di Etiopia Selatan, Sudan Selatan, dan Yaman.[3][4][5]
Deskripsi
Tumbuhan liar spesies ini tumbuh setinggi 9 dan 12 m (30 dan 39 ft) dan memiliki sistem percabangan yang terbuka. Daunnya berhadapan, bertipe tunggal dengan bentuk elips-oval hingga jorong, berukuran panjang 6–12 cm (2,5–4,5 in) serta lebar 4–8 cm (1,5–3 in), berwarna hijau tua mengilat, dengan pertulangan daun yang menonjol dan tepi yang bergelombang.[6] Bunganya berwarna putih, berdiameter 10–15 mm, dan tumbuh dalam kelompok di ketiak daun sebanyak 2 hingga 9 kuntum. Bijinya terdapat di dalam buah batu (drupa—yang biasa disebut "ceri kopi") berdiameter 10–15 mm, yang akan berwarna merah cerah hingga ungu saat matang dan biasanya berisi dua biji, yang sering kali disebut biji kopi.[7][8]
Taksonomi
Nama botani Coffea arabica secara resmi dipublikasikan oleh Carl Linnaeus dalam karyanya Species plantarum pada tahun 1753.[9] Spesies ini telah dideskripsikan dan digambarkan sebelumnya; Linnaeus merujuk pada Antoine de Jussieu yang menamainya Jasminum arabicum dalam publikasi tahun 1715 setelah mempelajari spesimen yang dikirim kepadanya dari Kebun Botani Amsterdam.[10][11] Selain itu, spesies ini juga dimuat dalam Pinax karya Gaspard Bauhin tahun 1623 dengan nama 'Evonymus IV'[12] serta De plantis Aegypti liber karya Prospero Alpini yang terbit pada tahun 1592.[13]
Coffea arabica merupakan salah satu spesies poliploidi dari genus Coffea, karena memiliki empat salinan dari sebelas kromosom (total 44 kromosom), berbeda dengan spesies diploid yang hanya memiliki 2 salinan. Secara khusus, Coffea arabica sendiri merupakan hasil hibridisasi antara spesies diploid Coffea canephora dan Coffea eugenioides,[14][15] sehingga menjadikannya sebuah allotetraploid dengan dua salinan dari dua genom yang berbeda. Peristiwa hibridisasi yang mendasari asal-usul Coffea arabica ini diperkirakan terjadi antara 1,08 juta hingga 543.000 tahun yang lalu, dan berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan di Afrika Timur.[16][17]_
Distribusi dan habitat
Sebagai tumbuhan endemik di kawasan dataran tinggi barat daya Etiopia,[18] Coffea arabica ditanam di puluhan negara yang terletak di antara Pragaris Balik Selatan dan Pragaris Balik Utara.[19] Tumbuhan ini umumnya hidup sebagai semak lapis bawah. Spesies ini juga telah ditemukan di Plato Boma di Sudan Selatan. Selain itu, Coffea arabica ditemukan di Gunung Marsabit di utara Kenya, tetapi belum dipastikan apakah populasi di sana benar-benar asli atau hasil penaturalan; studi-studi terbaru cenderung mendukung bahwa populasi tersebut merupakan hasil penaturalan.[20][21] Spesies ini telah ternaturalisasi secara luas di wilayah luar habitat aslinya, seperti di berbagai bagian Afrika, Amerika Latin, Asia Tenggara, India, China, serta beragam pulau di Kepulauan Karibia dan Pasifik.[22]
Kopi arabika biasanya tumbuh di tempat yang tinggi dengan suhu sedang dan tanah yang berdrainase baik.[23] Spesies ini tumbuh subur di iklim tropis dengan curah hujan yang konsisten dan ternaungi sebagian.[24] Habitat aslinya berupa hutan pegunungan yang dicirikan oleh keanekaragaman hayati yang kaya.[25]
Pohon kopi pertama kali dibawa ke Hawaii pada tahun 1813, dan mulai ditanam secara luas sekitar tahun 1850.[26] Kawasan penanamannya dahulu lebih luas daripada sekarang, khususnya di Kona,[26] dan tumbuhan ini tetap bertahan di alam liar setelah budidayanya di banyak daerah ditinggalkan. Di beberapa lembah, tumbuhan ini telah menjadi gulma yang sangat invasif.[27] Di Cagar Hutan Udawattakele dan Gannoruwa dekat Kandy, Sri Lanka, semak kopi juga menjadi spesies invasif yang problematik.[28]
Di Hawaii, budidaya kopi menjadi aktivitas pertanian utama pada abad ke-19.[29] Namun, tanaman yang lolos ke alam liar telah menyebar ke luar area perkebunan dan membentuk populasi liar. Populasi ini dapat mengubah ekosistem asli karena berkompetisi dengan spesies tumbuhan setempat.[30]
Kopi juga telah diproduksi di Queensland dan New South Wales, Australia, sejak dekade 1980-an dan 1990-an.[31] Otoritas Pengelolaan Tropis Basah telah mengklasifikasikan Coffea arabica sebagai gulma lingkungan untuk wilayah tenggara Queensland karena sifatnya yang invasif di area non-pertanian.[32][33]
Produksi kopi di Australia tergolong masih relatif kecil tetapi mengalami perluasan di wilayah subtropis. Kekhawatiran terhadap lingkungan muncul karena kemampuannya yang dapat menyebar ke habitat alami di sekitarnya.[34] Upaya pengelolaan saat ini difokuskan pada pembatasan penyebarannya di luar area budidaya.[35]
Sejarah
Catatan tertulis pertama mengenai minuman kopi yang dibuat dari biji kopi (biji botani) yang disangrai berasal dari para cendekiawan Arab, yang menulis bahwa minuman ini bermanfaat untuk memperpanjang jam kerja mereka. Inovasi bangsa Arab di Yemen dalam membuat seduhan dari biji yang disangrai ini mula-mula menyebar di kalangan masyarakat Hijaz, Mesir, dan Turki, hingga kemudian menyebar ke seluruh dunia. Cendekiawan lain meyakini bahwa tanaman kopi dibawa dari Yaman, berdasarkan tradisi Yaman bahwa stek kopi dan kat ditanam bersama di Udein ('dua ranting') di Yaman pada masa pra-Islam.[36] Produksi kopi arabika di Indonesia dimulai pada tahun 1699 melalui perluasan jaringan perdagangan Yaman. Kopi Indonesia, seperti kopi Sumatra dan Jawa, dikenal memiliki konsistensi kekentalan (*body*) yang tebal dan keasaman yang rendah. Karakteristik ini membuatnya sangat ideal untuk dicampur (*blending*) dengan kopi berkeasaman tinggi yang berasal dari Amerika Tengah dan Afrika Timur.[18]
Budidaya dan kegunaan


Coffea arabica menyumbang sekitar 60% dari total produksi kopi dunia.[2][37]
C. arabica membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun untuk dapat matang sepenuhnya. Tanaman ini tumbuh paling baik dengan curah hujan berkisar antara 12–18 meter (470–710 in) yang terdistribusi secara merata sepanjang tahun.[38][39] Kopi ini biasanya dibudidayakan pada ketinggian antara 1,200 dan 1,500 m (3,94 dan 4,92 ft),[40] namun terdapat pula perkebunan yang menanamnya di wilayah selevel permukaan laut hingga ketinggian 2,800 m (9 ft 2,2 in).[41]
Tanaman ini dapat mentoleransi suhu rendah, tetapi tidak tahan terhadap bun upas (*frost*), dan tumbuh paling optimal pada suhu rata-rata antara 15 dan 24 °C (59 dan 75 °F).[42] Kultivar komersial sebagian besar hanya tumbuh hingga sekitar 5 m, dan sering kali dipangkas hingga setinggi 2 m untuk memudahkan pemanenan. Berbeda dengan Coffea canephora, C. arabica lebih menyukai lingkungan tumbuh yang ternaungi ringan.[43]
Tiga hingga empat tahun setelah ditanam, C. arabica menghasilkan bunga-bunga kecil berwarna putih yang sangat harum. Keharumannya yang manis menyerupai aroma bunga melati.[44] Bunga yang mekar pada hari-hari cerah akan menghasilkan jumlah buah yang paling banyak. Namun, hal ini dapat menjadi masalah dan merugikan karena tanaman kopi cenderung memproduksi terlalu banyak buah; hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas panen bahkan merusak hasil panen pada tahun-tahun berikutnya, karena tanaman akan memprioritaskan pematangan buah dengan mengorbankan pertumbuhan vegetatifnya.[45]
Pada perkebunan yang dikelola dengan baik, pembungaan yang berlebihan dicegah dengan cara memangkas pohon. Bunga-bunga tersebut hanya bertahan selama beberapa hari, meninggalkan daun-daun hijau tua yang tebal, setelah itu buah mulai bermunculan.[46] Buah ini berwarna hijau tua seperti daunnya sampai kemudian mulai matang; seiring dengan terdegradasi klorofil dan terbentuknya antosianin, buah akan berubah menjadi merah sepenuhnya atau kuning tergantung varietas C. arabica. Pada tahap ini, buah tersebut disebut "ceri kopi" karena kemiripan bentuknya, dan siap untuk dipetik.[47]
Buah ceri kopi berbentuk jorong dan memiliki panjang sekitar 1 cm. Kopi bermutu rendah dapat dihasilkan akibat pemetikan buah yang terlalu awal atau terlalu lambat, sehingga pemetikan sering kali dilakukan secara manual dengan tangan agar dapat memilih buah dengan lebih baik, mengingat buah tidak matang pada waktu yang bersamaan.[48] Kadang kala buah juga dirontokkan dari pohon ke atas tikar, yang berarti buah matang dan mentah akan ikut terkumpul bersama.[49]
Pohon ini cukup sulit untuk dibudidayakan dan setiap pohon dapat menghasilkan antara 05 hingga 50 kilogram (11 hingga 110 pon) biji kopi kering, tergantung pada karakteristik individu pohon serta kondisi iklim pada musim tersebut. Bagian paling bernilai dari tanaman komersial ini adalah biji di dalamnya. Setiap buah memiliki dua lokulus yang berisi biji. Biji kopi sebenarnya merupakan dua biji yang berada di dalam buah; kadang-kadang, biji ketiga atau hanya satu biji tunggal yang membulat (disebut kopi lanang atau *peaberry*) tumbuh di dalam buah pada ujung-ujung cabang. Biji-biji ini dilapisi oleh dua membran; bagian luar disebut "kulit tanduk" (*parchment coat*) dan lapisan dalam disebut "kulit ari" (*silver skin*).[50]
Di Pulau Jawa, pohon kopi ditanam di sepanjang tahun dan dipanen sepanjang tahun pula. Namun, di beberapa wilayah Brasil, pohon-pohon ini memiliki musim tertentu dan hanya dipanen pada musim dingin. Tanaman ini rentan mengalami kerusakan pada kondisi pertumbuhan yang buruk seperti suhu dingin atau tanah dengan pH rendah, dan mereka juga lebih rentan terhadap hama dibandingkan tanaman C. robusta.[51]
Penyusutan populasi asli C. arabica diperkirakan dapat terjadi dalam jangka menengah akibat proyeksi pemanasan global, berdasarkan pemodelan IPCC.[52] Perubahan iklim—seperti kenaikan suhu, kekeringan yang lebih panjang, dan curah hujan yang berlebihan—tampaknya mengancam keberlanjutan produksi kopi arabika, yang memicu berbagai upaya untuk memuliakan kultivar baru yang adaptif terhadap perubahan kondisi tersebut[53].[54]
Kopi gourmet hampir secara eksklusif menggunakan varietas arabika ringan berkualitas tinggi. Di antara biji kopi arabika yang paling terkenal di dunia adalah biji kopi dari Jamaican Blue Mountain, Colombian Supremo, Tarrazú di Kosta Rika, Antigua di Guatemala, dan Sidamo Etiopia.[55][56][57]
Produk kopi campuran (*blend*) yang hanya terdiri dari varietas Arabika sering kali diberi label "100% Arabica" sebagai penanda kualitas. Pada tahun 2023, beberapa perusahaan penyangrai kopi skala besar menghapus deklarasi "100% Arabica" yang sebelumnya tertera pada sebagian kemasan produk mereka dan mulai mencampurkan kopi Robusta yang harganya lebih murah ke dalam bauran produk tersebut. Untuk menghindari perubahan besar pada desain visual kemasan, label Arabika digantikan oleh pelabelan lain dengan tetap mempertahankan desain ornamen sebelumnya, sehingga menyajikan sebuah kasus shrinkflasi. Dalam beberapa kasus, kopi tersebut masih diiklankan sebagai "100% Arabica" dalam selebaran promosi pada tahun 2024, tetapi tidak lagi dideklarasikan demikian pada kemasan fisiknya.
Galur

1: Belahan tengah
2: Biji (endosperma)
3: Kulit ari (testa, epidermis)
4: Kulit tanduk (cangkang, endokarp)
5: Lapisan pektin
6: Daging buah (mesokarp)
7: Kulit luar (perikarp, eksokarp)
Salah satu galur Coffea arabica (yang dinamai AC1, AC2, dan AC3 untuk menghormati ahli genetika Alcides Carvalho) secara alami mengandung sangat sedikit kafeina. Sementara biji dari tanaman C. arabica normal mengandung 12 mg kafeina per gram berat kering, mutan ini hanya mengandung 0,76 mg kafeina per gram, dengan kualitas seduhan yang diperkirakan serupa.[58]
Ancaman
Meskipun memiliki populasi liar yang sangat besar berkisar antara 13,5 hingga 19,5 miliar individu di seluruh habitat aslinya, C. arabica tetap dianggap terancam punah dalam Daftar Merah IUCN karena banyaknya ancaman yang dihadapi.[59] Sebagai tumbuhan lapis bawah, spesies ini membutuhkan hutan yang utuh, menjadikannya sangat rentan terhadap tingkat deforestasi di Etiopia yang secara historis tergolong signifikan. Sebelum terjadinya deforestasi besar-besaran, tutupan hutan diperkirakan mencakup antara 25–31% dari total luas daratan Etiopia, tetapi kini telah merosot hingga hanya menyisakan 4%, dan deforestasi masih terus berlangsung.[60] Selain itu, perubahan iklim dapat berdampak besar pada wilayah pertumbuhan C. arabica liar di Etiopia karena sensitivitasnya yang tinggi terhadap suhu. Perkiraan menunjukkan bahwa populasi tersebut dapat berkurang sebesar 50–80% seiring dengan penyusutan luas hunian sebesar 40–50% pada tahun 2088;[61] perubahan iklim juga dapat mengganggu keberhasilan reproduksi tanaman. Hama utama kopi, yaitu kumbang bubuk buah kopi (Hypothenemus hampei), kemungkinan diuntungkan oleh perubahan iklim[62] dan mulai mengolonisasi wilayah yang lebih tinggi yang sebelumnya terlalu dingin baginya, yang pada gilirannya dapat mengganggu kestabilan populasi kopi.[21]
Di samping itu, penyakit karat daun kopi yang disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix merupakan ancaman utama bagi ketersediaan pasokan Coffea arabica yang menimbulkan kerugian hingga $2 miliar dolar AS setiap tahunnya.[63] Sepanjang tahun 2012 hingga 2013, Hemileia vastatrix menjadi penyebab penurunan produksi Coffea arabica sebesar 16% di seluruh Amerika Tengah. Jamur ini merusak tanaman dengan memicu pengguguran daun secara cepat, sehingga menghambat tanaman dalam melakukan fotosintesis.[64]
Pelestarian variasi genetik C. arabica sangat bergantung pada pemeliharaan populasi kopi liar yang sehat di kawasan hutan hujan Afromontane di Yaman. Penelitian genetika menunjukkan bahwa praktik budidaya kopi mengancam keaslian genetik dari kopi liar karena memapar genotipe liar terhadap kultivar.[65][66] Hampir seluruh kopi yang dibudidayakan selama beberapa abad terakhir berasal dari segelintir tanaman liar asal Yaman, dan kopi yang tumbuh di perkebunan di seluruh dunia hanya mencakup kurang dari 1% dari total keanekaragaman yang ada di alam liar Yaman saja.[67]
Perubahan iklim juga menjadi ancaman bagi budidaya C. arabica karena sensitivitas suhunya. Beberapa studi memperkirakan bahwa pada tahun 2050, lebih dari setengah lahan yang digunakan untuk membudidayakan kopi bisa menjadi tidak produktif lagi. Spesies Coffea stenophylla yang lebih toleran terhadap panas kemungkinan dapat menggantikan C. arabica sebagai spesies kopi dominan dalam budidaya demi mengantisipasi risiko ini.[68]
Galeri
- Perkecambahan kopi
- Bunga kopi
- Buah kopi segar
- Biji kopi segar ("biji")
- Biji kopi yang telah difermentasi
- Biji kopi hasil fermentasi (hijau) tanpa cangkang
- Biji kopi hasil fermentasi yang telah disangrai
- Biji kopi yang belum disangrai ("hijau") (Coffea arabica) dari Brasil
Lihat pula
Referensi
- ↑ Moat, J.; O'Sullivan, R.J.; Gole, T.W.; Davis, A.P. (2020). "Coffea arabica". 2020 e.T18289789A174149937. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T18289789A174149937.en. ;
- 1 2 "Coffee: World Markets and Trade" (PDF). United States Department of Agriculture – Foreign Agricultural Service. 16 June 2017. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 December 2017. Diakses tanggal 8 December 2017 – via Cornell University.
- ↑ Meyer, Frederick G. 1965. Notes on wild Coffea arabica from Southwestern Ethiopia, with some historical considerations. Economic Botany 19: 136–151.
- ↑ Söndahl, M. R.; van der Vossen, H. A. M. (2005). "The plant: Origin, production and botany". Dalam Illy, Andrea; Viani, Rinantonio (ed.). Espresso Coffee: The Science of Quality (Edisi Second). Elsevier Academic Press. hlm. 21. ISBN 978-0-12-370371-2.
- ↑ Montagnon, Christophe; Rossi, Veronica; Guercio, Carolina; Sheibani, Faris (2022-08-20). "Vernacular Names and Genetics of Cultivated Coffee (Coffea arabica) in Yemen". Agronomy (dalam bahasa Inggris). 12 (8): 1970. Bibcode:2022Agron..12.1970M. doi:10.3390/agronomy12081970. ISSN 2073-4395.
- ↑ Nicaragua, Notes from (2018-01-09). "Coffea arabica". Plants and Trees of Nicaragua (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-03.
- ↑ "Coffea arabica (Arabian Coffee, Coffee, Coffee Plant) | North Carolina Extension Gardener Plant Toolbox". plants.ces.ncsu.edu. Diakses tanggal 2026-01-13.
- ↑ "Coffea arabica - Plant Finder". www.missouribotanicalgarden.org. Diakses tanggal 2026-01-13.
- ↑ Linnaeus, Carl (1753). Species plantarum. Vol. 1. hlm. 172.
- ↑ Jusieu, A. de (1715). "Histoire du café". Histoire de l'Académie Royale des Sciences. 1713: 388 (291 in the 1739 re-edition).
- ↑ Jussieu menyatakan bahwa kopi telah dikenal di Eropa selama sekitar enam puluh tahun pada saat itu.
- ↑ Bauhin, C. (1623). Pinax theatri botanici. hlm. 428 (erroneously cited as 498 by Linnaeus).
- ↑ Alpini, P. (1592). De plantis Aegypti liber. hlm. 26 (erroneously cited as 36 by Linnaeus).
- ↑ Scalabrin, Simone; Toniutti, Lucile; Di Gaspero, Gabriele; Scaglione, Davide; Magris, Gabriele; Vidotto, Michele; Pinosio, Sara; Cattonaro, Federica; Magni, Federica; Jurman, Irena; Cerutti, Mario; Suggi Liverani, Furio; Navarini, Luciano; Del Terra, Lorenzo; Pellegrino, Gloria (2020-03-13). "A single polyploidization event at the origin of the tetraploid genome of Coffea arabica is responsible for the extremely low genetic variation in wild and cultivated germplasm". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 10 (1) 4642. Bibcode:2020NatSR..10.4642S. doi:10.1038/s41598-020-61216-7. ISSN 2045-2322. PMC 7069947. PMID 32170172.
- ↑ Lashermes, P.; Combes, M.-C.; Robert, J.; Trouslot, P.; D'Hont, A.; Anthony, F.; Charrier, A. (1999-03-01). "Molecular characterisation and origin of the Coffea arabica L. genome". Molecular and General Genetics. 261 (2): 259–266. doi:10.1007/s004380050965. ISSN 0026-8925. PMID 10102360. S2CID 7978085.
- ↑ Bawin Y, Ruttink T, Staelens A, et al. (2020). "Phylogenomic analysis clarifies the evolutionary origin of Coffea arabica". Journal of Systematics and Evolution. 59 (5): 953–963. doi:10.1111/jse.12694. S2CID 234481707.
- ↑ Salojärvi, Jarkko; Rambani, Aditi; Yu, Zhe; Guyot, Romain; Strickler, Susan; Lepelley, Maud; Wang, Cui; Rajaraman, Sitaram; Rastas, Pasi; Zheng, Chunfang; Muñoz, Daniella Santos; Meidanis, João; Paschoal, Alexandre Rossi; Bawin, Yves; Krabbenhoft, Trevor J.; Wang, Zhen Qin; Fleck, Steven J.; Aussel, Rudy; Bellanger, Laurence; Charpagne, Aline; Fournier, Coralie; Kassam, Mohamed; Lefebvre, Gregory; Métairon, Sylviane; Moine, Déborah; Rigoreau, Michel; Stolte, Jens; Hamon, Perla; Couturon, Emmanuel; Tranchant-Dubreuil, Christine; Mukherjee, Minakshi; Lan, Tianying; Engelhardt, Jan; Stadler, Peter; Correia De Lemos, Samara Mireza; Suzuki, Suzana Ivamoto; Sumirat, Ucu; Wai, Ching Man; Dauchot, Nicolas; Orozco-Arias, Simon; Garavito, Andrea; Kiwuka, Catherine; Musoli, Pascal; Nalukenge, Anne; Guichoux, Erwan; Reinout, Havinga; Smit, Martin; Carretero-Paulet, Lorenzo; Filho, Oliveiro Guerreiro; Braghini, Masako Toma; Padilha, Lilian; Sera, Gustavo Hiroshi; Ruttink, Tom; Henry, Robert; Marraccini, Pierre; Van de Peer, Yves; Andrade, Alan; Domingues, Douglas; Giuliano, Giovanni; Mueller, Lukas; Pereira, Luiz Filipe; Plaisance, Stephane; Poncet, Valerie; Rombauts, Stephane; Sankoff, David; Albert, Victor A.; Crouzillat, Dominique; de Kochko, Alexandre; Descombes, Patrick (2024). "The genome and population genomics of allopolyploid Coffea arabica reveal the diversification history of modern coffee cultivars". Nature Genetics. 56 (4): 721–731. doi:10.1038/s41588-024-01695-w. PMC 11018527. PMID 38622339.
- 1 2 Martinez-Torres, Maria Elena (2006). Organic Coffee. Ohio University. ISBN 978-0-89680-247-6. Diakses tanggal 26 January 2016.
- ↑ Hoffmann, James (2018). The World Atlas of Coffee 2nd Edition (dalam bahasa English). Great Britain: Mitchell Beazley. hlm. 12. ISBN 978-1-78472-429-0. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Charrier, A.; Berthaud, J. (1985). "Botanical Classification of Coffee". Dalam Clifford, M. H.; Wilson, K. C. (ed.). Coffee: Botany, Biochemistry and Production of Beans and Beverage. Westport, Connecticut: AVI Publishing. hlm. 14. ISBN 978-0-7099-0787-9.
- 1 2 Moat, J.; O'Sullivan, R. J.; Gole, T.; Davis, A. P. (2020). "Coffea arabica". 2020 e.T18289789A174149937. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T18289789A174149937.en.
- ↑ Kew World Checklist of Selected Plant Families, Coffea arabica
- ↑ "Arabica coffee manual for Lao PDR". www.fao.org. Diakses tanggal 2026-03-29.
- ↑ "Introduction". www.fao.org. Diakses tanggal 2026-03-29.
- ↑ Ahmed, Selena; Brinkley, Sarah; Smith, Erin; Sela, Ariella; Theisen, Mitchell; Thibodeau, Cyrena; Warne, Teresa; Anderson, Evan; Van Dusen, Natalie; Giuliano, Peter; Ionescu, Kim Elena; Cash, Sean B. (2021). "Climate Change and Coffee Quality: Systematic Review on the Effects of Environmental and Management Variation on Secondary Metabolites and Sensory Attributes of Coffea arabica and Coffea canephora". Frontiers in Plant Science. 12 708013. Bibcode:2021FrPS...1208013A. doi:10.3389/fpls.2021.708013. ISSN 1664-462X. PMC 8531415. PMID 34691093.
- 1 2 Hargreaves, Dorothy; Hargreaves, Bob (1964). Tropical Trees of Hawaii. Kailua, Hawaii: Hargreaves. hlm. 17.
- ↑ "Coffea arabica (PIER species info)". Diarsipkan dari asli tanggal 21 October 2012. Diakses tanggal 15 July 2011.
- ↑ Nyanatusita, Bhikkhu; Dissanayake, Rajith (2013). "Udawattakele: 'A Sanctuary Destroyed From Within'" (PDF). Loris, Journal of the Wildlife and Nature Protection Society of Sri Lanka. 26 (5 & 6): 44.
- ↑ parrishkauaird (2023-10-25). "Coffee Culture in Kauai: A Rich History and Enduring Relevance". Kauai Vacation Rentals (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-04-03.
- ↑ "The History Of Kona Coffee Beans in Hawaiʻi". Honolulu Coffee (dalam bahasa Inggris). 2020-09-24. Diakses tanggal 2026-03-29.
- ↑ "Coffee". AgriFutures Australia (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2 September 2022.
- ↑ Cripps, Sally (21 September 2015). "Coffee eradication wins weed award". Queensland Country Life (dalam bahasa Australian English).
- ↑ Batianoff, George N.; Butler, Don W. (2002). "Assessment of invasive naturalized plants in south-east Queensland" (PDF). Plant Protection Quarterly. 17 (1): 27–34.
- ↑ "Coffee". Weed Identification – Brisbane City Council (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-03.
- ↑ "World Coffee Research | Australia". World Coffee Research (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-03-29.
- ↑ Western Arabia and the Red Sea, Naval Intelligence Division, London 2005, p. 490 ISBN 0-7103-1034-X
- ↑ Marchant, Andrew (February 4, 2023). "Intro to Arabica Coffee - Is 100% Arabica the Best Coffee?". Make Espresso (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 1, 2023. Diakses tanggal March 1, 2023.
- ↑ Nigam, Poonam (1999-01-01). "Cocoa and Coffee Fermentations". Encyclopedia of Food Microbiology (dalam bahasa American English): 466–473. doi:10.1006/rwfm.1999.1795. ISBN 978-0-12-227070-3.
- ↑ Wagner, Sigrun; Jassogne, Laurence; Price, Elizabeth; Jones, Martin; Preziosi, Richard (2021-01-11). "Impact of Climate Change on the Production of Coffea arabica at Mt. Kilimanjaro, Tanzania". Agriculture (dalam bahasa Inggris). 11 (1): 53. Bibcode:2021Agric..11...53W. doi:10.3390/agriculture11010053. ISSN 2077-0472.
- ↑ B.k, Kamal; Acharya, Bibek; Srivastava, Arvind; Pandey, Madhav (2021-06-08). "Effect of different Altitudes in Qualitative and Quantitative Attributes of Green Coffee Beans (Coffea arabica) in Nepal". International Journal of Horticulture, Agriculture and Food Science (dalam bahasa Inggris). 5 (3): 1–7. doi:10.22161/ijhaf.5.3.1. ISSN 2456-8635.
- ↑ Schmitt, Christine B. (2006). Montane Rainforest with Wild Coffea Arabica in the Bonga Region (SW Ethiopia): Plant Diversity, Wild Coffee Management and Implications for Conservation. Cuvillier Verlag. hlm. 4. ISBN 978-3-86727-043-4.
- ↑ Taye Kufa Obso (2006). Ecophysiological Diversity of Wild Arabica Coffee Populations in Ethiopia: Growth, Water Relations and Hydraulic Characteristics Along a Climatic Gradient. Cuvillier Verlag. hlm. 10. ISBN 978-3-86727-990-1.
- ↑ Prado, Sara Guiti; Collazo, Jaime A.; Stevenson, Philip C.; Irwin, Rebecca E. (2019-05-14). "A comparison of coffee floral traits under two different agricultural practices". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 7331. Bibcode:2019NatSR...9.7331P. doi:10.1038/s41598-019-43753-y. ISSN 2045-2322. PMC 6517588. PMID 31089179.
- ↑ "Coffea arabica (Arabian Coffee, Coffee, Coffee Plant) | North Carolina Extension Gardener Plant Toolbox". plants.ces.ncsu.edu. Diakses tanggal 2026-03-05.
- ↑ Unigarro, Carlos Andres; Cayón Salinas, Daniel Gerardo; León-Burgos, Andrés Felipe; Flórez-Ramos, Claudia Patricia (2025-11-06). "Flowering and Fruiting of Coffea arabica L.: A Comprehensive Perspective from Phenology". Plants (dalam bahasa Inggris). 14 (21): 3396. Bibcode:2025Plnts..14.3396U. doi:10.3390/plants14213396. ISSN 2223-7747. PMC 12608170. PMID 41225946.
- ↑ Mohammed, Taha; Worku, Mohammed (2025-08-27). "Pruning and fertilising effects on yield and yield components of arabica coffee in its centre of origin in southwest Ethiopia". The Journal of Agricultural Science (dalam bahasa Inggris). 163 (5): 493–502. doi:10.1017/S002185962510021X. ISSN 0021-8596.
- ↑ Unigarro, Carlos Andres; Cayón Salinas, Daniel Gerardo; León-Burgos, Andrés Felipe; Flórez-Ramos, Claudia Patricia (2025-11-06). "Flowering and Fruiting of Coffea arabica L.: A Comprehensive Perspective from Phenology". Plants (dalam bahasa Inggris). 14 (21): 3396. Bibcode:2025Plnts..14.3396U. doi:10.3390/plants14213396. ISSN 2223-7747. PMC 12608170. PMID 41225946.
- ↑ "Link of the Month". www.valentine.gr. Diakses tanggal 2026-04-03.
- ↑ Gutema, T.; Adicha, A.; Tadesse, A. (2025-12-18). "Assessment of coffee post-harvest handling in major growing areas of Ari and South Omo zone, South Ethiopia". Research in Agriculture & Life Sciences. doi:10.5281/zenodo.17972908 – via InvenioRDM.
- ↑ Bastian, Februadi; Hutabarat, Olly Sanny; Dirpan, Andi; Nainu, Firzan; Harapan, Harapan; Emran, Talha Bin; Simal-Gandara, Jesus (2021-11-17). "From Plantation to Cup: Changes in Bioactive Compounds during Coffee Processing". Foods (dalam bahasa Inggris). 10 (11): 2827. doi:10.3390/foods10112827. ISSN 2304-8158. PMC 8620865. PMID 34829108.
- ↑ "Coffee: The World in Your Cup." Seattle, WA: Burke Museum at the University of Washington.
- ↑ Davis, Aaron P.; Gole, Tadesse Woldemariam; Baena, Susana; Moat, Justin (2012). "The impact of climate change on indigenous arabica coffee (Coffea arabica): Predicting future trends and identifying priorities". PLOS ONE. 7 (11) e47981. Bibcode:2012PLoSO...747981D. doi:10.1371/journal.pone.0047981. PMC 3492365. PMID 23144840.
- ↑ Bunn, Christian; Läderach, Peter; Ovalle Rivera, Oriana; Kirschke, Dieter (2015-03-01). "A bitter cup: climate change profile of global production of Arabica and Robusta coffee". Climatic Change (dalam bahasa Inggris). 129 (1): 89–101. Bibcode:2015ClCh..129...89B. doi:10.1007/s10584-014-1306-x. ISSN 1573-1480.
- ↑ van der Vossen, Herbert; Bertrand, Benoît; Charrier, André (2015). "Next generation variety development for sustainable production of arabica coffee (Coffea arabica L.): A review". Euphytica. 204 (2): 244. Bibcode:2015Euphy.204..243V. doi:10.1007/s10681-015-1398-z. S2CID 17384126.
- ↑ "Os melhores grãos do mundo". Revista Veja (dalam bahasa Portugis). Editora Abril. 31 July 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 5 August 2008. Diakses tanggal 29 July 2008. Edition 2071. Print edition p. 140
- ↑ Fussell, Betty (5 September 1999). "The World Before Starbucks". The New York Times. Diakses tanggal 29 July 2008.
- ↑ Fabricant, Florence (2 September 1992). "Americans Wake Up and Smell the Coffee". The New York Times. Diakses tanggal 29 July 2008.
- ↑ Silvarolla, Maria B.; Mazzafera, Paulo; Fazuoli, Luiz C. (2004). "Plant biochemistry: A naturally decaffeinated arabica coffee". Nature. 429 (6994): 826. Bibcode:2004Natur.429..826S. doi:10.1038/429826a. PMID 15215853. S2CID 4428420.
- ↑ "Kew scientists reveal that 60% of wild coffee species are threatened with extinction, causing concern for the future of coffee production | Kew". www.kew.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-03.
- ↑ Masha, Mamush; Bojago, Elias; Belayneh, Mengie; Tadila, Gemechu; Abera, Alemayehu (2024-12-01). "Quantifying forest degradation rates and their drivers in Alle district, southwestern Ethiopia: Implications for sustainable forest management practices". Geomatica. 76 (2) 100009. doi:10.1016/j.geomat.2024.100009. ISSN 1195-1036.
- ↑ Moat, Justin; Gole, Tadesse W.; Davis, Aaron P. (February 2019). "Least concern to endangered: Applying climate change projections profoundly influences the extinction risk assessment for wild Arabica coffee". Global Change Biology (dalam bahasa Inggris). 25 (2): 390–403. Bibcode:2019GCBio..25..390M. doi:10.1111/gcb.14341. ISSN 1354-1013. PMC 6900256. PMID 30650240.
- ↑ Jaramillo, Juliana; Muchugu, Eric; Vega, Fernando E.; Davis, Aaron; Borgemeister, Christian; Chabi-Olaye, Adenirin (2011-09-14). "Some Like It Hot: The Influence and Implications of Climate Change on Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampei) and Coffee Production in East Africa". PLOS ONE (dalam bahasa Inggris). 6 (9) e24528. Bibcode:2011PLoSO...624528J. doi:10.1371/journal.pone.0024528. ISSN 1932-6203. PMC 3173381. PMID 21935419.
- ↑ Talhinhas, Pedro; Batista, Dora; Diniz, Inês; Vieira, Ana; Silva, Diogo N.; Loureiro, Andreia; Tavares, Sílvia; Pereira, Ana Paula; Azinheira, Helena G.; Guerra-Guimarães, Leonor; Várzea, Vítor; Silva, Maria do Céu (2016-06-24). "The coffee leaf rust pathogen Hemileia vastatrix: one and a half centuries around the tropics". Molecular Plant Pathology (dalam bahasa Inggris). 18 (8): 1039–1051. doi:10.1111/mpp.12512. ISSN 1464-6722. PMC 6638270. PMID 27885775.
- ↑ Boudrot, Audrey; Pico, Jimmy; Merle, Isabelle; Granados, Eduardo; Vílchez, Sergio; Tixier, Philippe; Filho, Elías de Melo Virginio; Casanoves, Fernando; Tapia, Ana; Allinne, Clémentine; Rice, Robert A.; Avelino, Jacques (2016-04-04). "Shade Effects on the Dispersal of Airborne Hemileia vastatrix Uredospores". Phytopathology. 106 (6): 572–580. Bibcode:2016PhPat.106..572B. doi:10.1094/PHYTO-02-15-0058-R. ISSN 0031-949X. PMID 26828230.
- ↑ Anthony, F.; Combes, M.; Astorga, C.; Bertrand, B.; Graziosi, G.; Lashermes, P. (April 2002). "The origin of cultivated Coffea arabica L. varieties revealed by AFLP and SSR markers". Theoretical and Applied Genetics (dalam bahasa Inggris). 104 (5): 894–900. doi:10.1007/s00122-001-0798-8. ISSN 0040-5752. PMID 12582651.
- ↑ Silvarolla, M. B.; Mazzafera, P.; Fazuoli, L. C. (2004). "Plant biochemistry: A naturally decaffeinated arabica coffee". Nature. 429 (6994): 826. Bibcode:2004Natur.429..826S. doi:10.1038/429826a. PMID 15215853. S2CID 4428420.
- ↑ Rosner, Hillar y (October 2014). "Saving Coffee". Scientific American. 311 (4): 68–73. Bibcode:2014SciAm.311d..68R. doi:10.1038/scientificamerican1014-68. PMID 25314878.
- ↑ "Climate change: Future-proofing coffee in a warming world". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2021-04-19. Diakses tanggal 2021-04-24.
Bacaan lanjutan
- Silvarolla, Maria B.; Mazzafera, Paulo; Fazuoli, Luiz C. (2004). "A naturally decaffeinated arabica coffee". Nature. 429 (6994): 826. Bibcode:2004Natur.429..826S. doi:10.1038/429826a. PMID 15215853. S2CID 4428420.
- Weinberg, Bennet Alan; Bealer, Bonnie K. (2001). The World of Caffeine: The Science and Culture of the World's Most Popular Drug. New York: Routledge. ISBN 978-0-415-92722-2.
Pranala luar
- World Checklist of Rubiaceae
- Understanding the difference between Arabica and Robusta Diarsipkan 20 August 2016 di Wayback Machine.
- CoffeeResearch.org
| Coffea arabica |
|
|---|---|
| Internasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |
- ↑ "Caffe arabica" (PDF). usda.mannlib.cornell.edu. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-12-08. Diakses tanggal 2026-04-03.