Bahwa perawan tersuci Maria, sejak saat pertama perkandungannya, oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang Mahakuasa serta karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal.
Gereja mendasarkan ajarannya pada kenyataan yang disebutkan dalam Lukas 1:28, yaitu bahwa Malaikat AgungGabriel, yang membawa kabar kelahiran Yesus, menyapa Maria sebagai "penuh rahmat". Gereja percaya bahwa untuk mempersiapkan Maria sebagai "Bait Allah yang mempersembahkan Kristus pada dunia", maka sangat masuk akal bagi Maria untuk "disucikan" dengan rahmat Allah. Rahmat tersebut juga tidak terlepas dari karunia penebusan Yesus yang berlaku surut kepada bunda-Nya, terutama karena Maria menerima dan menaati kehendak Allah untuk menyerahkan dirinya menjadi bagian dari karya penebusan Allah bagi manusia.[4]
Doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda menjadi salah satu topik yang cukup populer dalam berbagai karya sastra masa lampau,[5] tetapi kurang menonjol sebagai acuan pembuatan karya-karya seni oleh karena sifatnya yang abstrak.[6]Ikonografi Maria Dikandung Tanpa Noda sering menampilkan gambar Bunda Maria yang sedang berdiri dengan tangan yang direntangkan atau tangan yang dikatupkan seperti sedang berdoa. Hari pesta Katolik untuk Maria Dikandung Tanpa Noda, yang secara resmi disebut Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda jatuh pada tanggal 8 Desember.[7]
Sebagian besar gereja-gereja Protestan menolak doktrin Maria Dikandung Tanpa Noda sebagai konsep yang tidak alkitabiah,[8] meskipun beberapa umat Anglikan mengakui doktrin ini sebagai salah satu bentuk penghayatan iman yang khusyuk.[9] Sementara itu, opini dari Ortodoksi Oriental mengenai doktrin tersebut terbagi menjadi dua: Shenouda III, Paus Gereja Ortodoks Koptik, menentang pengajaran tersebut,[10] sedangkan Gereja Tewahedo Ortodoks Etiopia dan Eritrea menerimanya.[11] Doktrin tersebut mendapat pertentangan dari Ortodoksi Timur karena adanya perbedaan pemahaman mengenai dosa asal dengan Gereja Katolik, meskipun Gereja juga menyetujui bahwa Maria dimurnikan dan dihindarkan dari dosa.[12] Patriarkh Anthimus VII dari Konstantinopel (1827–1913) menggambarkan dogma tersebut sebagai suatu bentuk "pembaruan Romawi".[13]
Hari raya
Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda yang dirayakan tiap tanggal 8 Desember diresmikan sebagai sebuah pesta perayaan umum Gereja pada tahun 1476 oleh Paus Siktus IV. Ia tidak membuat doktrin tersebut sebagai sebuah dogma sehingga membiarkan umat Katolik Roma untuk bisa percaya atau tidak tanpa risiko dituduh menentang ajaran gereja. Kebebasan ini ditegaskan sekali lagi oleh Konsili Trente. Keberadaan pesta perayaan ini adalah sebuah tanda kuat mengenai kepercayaan Gereja atas Maria Dikandung Tanpa Noda, bahkan jauh sebelum peresmiannya sebagai sebuah dogma pada abad ke-19.
Dalam Gereja Katolik Roma, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda adalah sebuah hari raya wajib, kecuali di beberapa tempat di mana konferensi para uskup setempat telah memutuskan untuk tidak mewajibkannya, setelah disetujui oleh Tahta Suci. Hari raya ini merupakan hari libur publik di beberapa negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik Roma seperti Italia. Di Filipina, walau disana tidak diperingati sebagai hari libur publik, semua sekolah Katolik merayakannya sehingga seakan-akan menjadikan hari itu seperti hari libur.
Sejarah
Bagi Gereja Katolik Roma, dogma Dikandung Tanpa Noda menjadi semakin penting setelah penampakannya di Lourdes pada tahun 1858. Di Lourdes seorang gadis berusia 14 tahun, Bernadette Soubirous, menyatakan bahwa seorang wanita cantik muncul di hadapannya. Wanita tersebut memperkenalkan dirinya sebagai "Yang Dikandung Tanpa Noda" dan para umat percaya bahwa wanita tersebut adalah Perawan Suci Maria.
Dalam hal ini, dogma Katolik Roma mengenai Dikandung Tanpa Noda yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX ini juga dipandang sebagai sebuah contoh penting dari penggunaan sensus fidelium yang berkembang di tengah-tengah umat dan Magisterium, tidak hanya bersandar sepenuhnya pada Kitab Suci dan tradisi.[14] Vatikan mengutip mengenai hal ini dalam Fulgens Corona di mana Paus Pius XII mendukung kepercayaan semacam itu:
Apabila pemujaan masyarakat kebanyakan pada Sang Perawan Suci Maria diberikan perhatian saksama sesuai dengan haknya, siapa yang berani meragukan bahwa Ia, yang lebih suci daripada para malaikat dan selalu suci selamanya, pernah sekali waktu, bahkan dalam saat yang paling pendek sekalipun, tidak terbebaskan dari noda dosa?[15]
Saat ini, tradisi Katolik Roma memiliki sebuah filosofi yang benar-benar terbentuk mengenai penelitian Dikandung Tanpa Noda dan penghormatan pada Perawan Suci Maria melalui bidang Mariologi dengan sekolah-sekolah Kepausan seperti Marianum yang secara khusus didirikan untuk tujuan tersebut.[16][17][18]
↑Herringer, Carol Engelhardt (2019). "Mary as Cultural Symbol in the Nineteenth Century". Dalam Maunder, Chris (ed.). The Oxford Handbook of Mary. Oxford University Press. ISBN9780198792550.
↑Publisher’s Notice in the Second Italian Edition (1986), reprinted in English Edition, Gabriel Roschini, O.S.M. (1989). The Virgin Mary in the Writings of Maria Valtorta (English Edition). Kolbe's Publication Inc. ISBN 2-920285-08-4
"St. Augustine and Original Sin" — a short article on the different understandings of Original Sin in Eastern and Western Christianity, without distinguishing Protestant theology from Roman Catholic. The latter holds that "original sin does not have the character of a personal fault in any of Adam's descendants" (Catechism of the Catholic Church, 405).