Koloni lepra, yang juga dikenal sebagai koloni kusta, leprosarium, atau rumah lazar, adalah komunitas terisolasi yang didirikan khusus untuk mengkarantina dan merawat penderita lepra, suatu penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.[1][2] Keberadaan koloni ini merupakan hasil dari praktik panjang pengucilan sosial terhadap penderita penyakit kulit menahun yang dianggap menular dan tidak dapat disembuhkan. Dalam banyak masyarakat, penderita lepra dijauhkan dari permukiman umum dan dipaksa tinggal dalam komunitas tertutup, baik yang bersifat sukarela maupun yang didirikan oleh otoritas sipil dan keagamaan. Koloni lepra berkembang sebagai bentuk kompromi antara kebutuhan medis dan tekanan sosial, di mana penderita tetap dapat menerima perawatan terbatas tanpa dianggap mengancam masyarakat luas.[3][4]
Penyakit lepra sendiri diyakini menyebar dari Afrika Timur ke wilayah Timur Dekat, Eropa, dan Asia sejak abad ke-5 SM sebelum mencapai wilayah lain di dunia.[5] Dalam banyak kebudayaan, lepra tidak hanya dilihat sebagai penyakit medis, melainkan juga sebagai kutukan ilahi atau tanda hukuman moral. Akibatnya, penderita sering kali dikaitkan dengan dosa, najis, dan pengucilan spiritual. Tak jarang, berbagai jenis penyakit kulit yang parah turut disamakan dengan lepra, memperluas cakupan diskriminasi terhadap kelompok ini.[3] Meski demikian, sejumlah ordo keagamaan di Eropa dan Asia, termasuk biara-biara Kristen dan komunitas Buddhis, menyediakan tempat perlindungan dan perawatan dasar bagi penderita, meskipun tetap dalam ruang lingkup isolasi.[6]
Kemajuan ilmiah pada akhir abad ke-19, khususnya penemuan G.A. Hansen atas bakteri M. leprae sebagai penyebab utama lepra, mendorong kebijakan medis yang lebih sistematis.[7] Dalam konteks kolonialisme Eropa yang tengah mencapai puncaknya, koloni lepra menjadi bagian dari strategi kesehatan publik di berbagai wilayah jajahan.[8] Meskipun pengembangan pengobatan modern, terutama sejak 1940-an, secara ilmiah telah meniadakan kebutuhan akan karantina permanen, warisan koloni lepra tetap bertahan, terutama di negara-negara seperti Jepang, di mana komunitas eks-lepra masih menjalani kehidupan dalam keterpisahan sosial dan ekonomi hingga hari ini.[9]
Koloni atau rumah lepra merebak di Timur Tengah, terutama Eropa dan India, dan sering kali dijalankan oleh ordo-ordo monastik. Dulunya, kusta sangat ditakuti. Koloni lepra yang diurus oleh ordo Katolik Roma sering kali disebut rumah lazar, yang mengambil nama dari Lazarus, santo pelindung orang lepra.[10]