Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Boen San Bio (Hanzi:文山廟) adalah klenteng Tionghoa tertua kedua di Tangerang, Indonesia setelah Boen Tek Bio (1684) dibangun tahun 1689. Klenteng ini berlokasi di Jalan Ks Tubun, Pasar Baru, Kota. Tangerang.[1][2]
Sejarah
Sejumlah sumber yang dihubungi menjelaskan, Boen San Bio pada awalnya dibangun secara sangat sederhana oleh Lim Tau Koen, seorang pedagang asal Tiongkok pada tahun 1689. Pedagang tersebut membangun Klenteng tersebut dengan menempatkan Kim Sin Kongco Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten.
Pada awal berdirinya, klenteng tersebut hanya merupakan suatu bangunan yang sangat sederhana sekali yang terbuat dari tiang bambu dengan dinding gedeg (anyaman bambu) dan beratap daun rumbia. Pengunjung klenteng pada masa itu terdiri dari orang-orang dan pedagang Tionghoa yang tinggal di daerah sekitar Desa Pasar Baru dan sekitarnya. Baru sekitar 10 tahun kemudian, para jemaat tersebut mendirikan sebuah perkumpulan atau dalam bahasa Tionghoa disebut Kong Ek, yang mereka beri nama Perkumpulan Boen San Bio, yang merupakan cikal bakal bagi Vihara "Nimmala". Perkumpulan Boen San Bio ini berjalan untuk kurun waktu yang cukup panjang, yaitu hingga tahun 1977. Yayasan ini dibentuk pada tanggal 1 Maret 1978, disahkan oleh Wakil Notaris Chusu Nuduri Atmadiredja berdasarkan SK Menteri Kehakiman No. YA. 7/19/4 tgl 26 Juli, 1977,
Yayasan Vihara "Nimmala" ini didirikan oleh 24 orang tokoh masyarakat yang peduli akan kelangsungan hidup vihara tersebut. Mereka itu adalah Tagara Wijaya (Oey Tjie Hoeng), Ayung Sungoro (Song Ing Yung), Nandang Saputra (Pang Kim Tjeng), Ismail Ayuhan (Lie Kho Yoe), Samuel Hosan (Kwok Siang Hiong), Yuliarta Chandra (Tjan Keng Hay), Chairil Wijaya (Oey Pek Sien). Rachmad Kurniadi, Trisno Budijanto (Thio Tjuan Kie), Rustam Wijaya, Intang Mulyadinata, Sukawaha Locanawan, Yo Gin San, Karyanto Chandra, Lily Nurhalim, Talen Sukita Djui, Sidharta Pangestu, Indah Daya, Darmawan, Indah Sirih, Umar Wijaya, Bangga dan Padillah Naseric.
Perkumpulan Boen San Bio pada mulanya dibentuk untuk mengurus serta memelihara Vihara tersebut, disamping untuk mengatur serta mewadahi kepentingan masyarakat umat Buddha, Kong Hu Cu dan Lao Tze yang tinggal di daerah sekitarnya. Selain Klenteng Boen San Bio di dekat daerah tersebut juga berdiri Klenteng Boen Tek Bio, yang sudah berdiri lebih dulu yaitu pada tahun 1684. Jemaat yang melakukan kegiatan ritual atau ibadah di Boen Tek Bio memuja dan menyembah Kwan Im Hoed Tjouw, sementara jemaat di Boen San Bio memuja Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi).
Rekor Muri
Bangunan di vihara ini beragam dan serbaunik. Wisatawan dari mancanegara dan domestik kerap berkunjung. Oleh karena itu, pengurus mengem-bangkannya menjadi sebuah objek wisata ritual.
Selain itu, Vihara Nimmala sempat memperoleh beberapa rekor nasional dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pimpinan Jaya Suprana. Kesepuluh rekor MURI yang diraih, antara lain untuk Hiolo (Thian Sin Lo) tertinggi setinggi 1,2 m dan berdiameter 1,5 m yang terbuat dari batu onyx dengan berat 4.888 kilogram, 17 buah patung dewa-dewi yang juga terbuat dari batu onyx; pemasangan lampion terbanyak (718 buah), acara Bakti Sosial yang memberikan sembako pada 1.010 orang penderita kusta (lepra); upacara religius 108 orang perempuan yang mempersembahkan 108 mangkuk misoa; dan vihara yang seluruh pengurus intinya adalah perempuan.
Antara Boen Tek Bio dan Boen San Bio
Hubungan antara Boen Tek Bio dan Boen San Bio boleh dikata erat sekali. Hal itu terbukti ketika Boen Tek Bio melakukan renovasi atas bangunan Klentengnya pada tahun 1844, maka sejumlah perangkat berupa patung atau Kim Sin YMS Kwan Im Hoed Tjouw, Kim Sin YM Kha Lam Ya, Kim Sin YM Kwan Seng Tee Koen, dan Kim Sin YM Hok Tek Tjeng Sin dititipkan di Klenteng Boen San Bio.
Setelah selesainya renovasi, Kim Sin Kwan Im Hoed Tjouw, Kim Sin YM Kha Lam Ya, Kim Sin YM Kwan Seng Tee Koen, dan Kim Sin YM Hok Tek Tjeng Sin dipindahkan kembali ke Boen Tek Bio dengan suatu prosesi yang sangat meriah karena bertepatan dengan Tahun Naga. Maka untuk mengenang peristiwa tersebut, setiap tahun Naga yang jatuh setiap 12 tahun sekali selalu diperingati pula dengan upcara prosesi tersebut dan acara semacam ini hanya terjadi di kota Tangerang.
Pada tahun 2000, yang juga merupakan tahun istimewa, yaitu Tahun Naga Logam, juga diperingati secara meriah. Tahun Naga Logam ini akan berulang setiap 60 tahun.
Kramat Mbah Surya Kentjana
Keberadaan makam, menurut sebuah sumber, memang sudah ada sejak dulu. Makam tersebut sebelumnya terletak di dekat sungai Cisadane, tetapi masih di dalam lingkup tanah vihara. Untuk menjaga agar makam tersebut terkena gerusan sungai Cisadane dan juga pelebaran jalan di depan vihara, yang semakin bertambah lebar, maka makam tersebut lalu dipindahkan ke tempat yang sekarang ini dengan memperoleh perawatan. sebagaimana layaknya sebuah makam seorang tokoh terhormat. Sebuah cungkup yang bagus juga dibangun untuk makam MBah Raden Surja Kentjana sebagai penghormatan atas bangsawan dari Pajajaran tersebut. Hingga kini masih cukup banyak juga orang yang datang untuk berziarah ke makam tersebut.
Pendopo dan perahu Peh Cun
Pada tahun 1900 Kapitan CinaOey Giok Koen pernah menyumbangkan sepasang perahu naga merah dan kuning ke Klenteng Boen San Bio.
Ketika Kapitan Oey Gio Koen bersama Istrinya yang sedang hamil tua, berjalan-jalan melewati Klenteng Boen San Bio menggunakan Bendi, tiba-tiba roda bendi yang dinaikinya terlepas dari asnya dan istrinya terjatuh tepat di depan Klenteng, ketika istrinya terjatuh kapitan berucap "Kalau istrinya saya bisa melahirkan dengan selamat, anak saya laki-laki, dan sehat, saya akan menyumbangkan sepasang perahu naga ke Klenteng Boen San Bio", tidak lama kemudian istri kapitan melahirkan anak laki-laki dan sehat yang diberi nama Oey Kim Toen, kapitan menepati janjinya untuk menyumbangkan sepasang perahu naga merah dan kuning Ke Boen San Bio, yang saat ini menjadi salah satu altar di Klenteng Boen San Bio
Klenteng Boen San Bio (Vihara Nimmala) memiliki dua saudara yaitu KlentengBoen Tek Bio (Vihara Padumutara) berada di Pasar Lama Tangerang yang di bangun tahun 1684, dan Klenteng Boen Hay Bio (Vihara Karuna Jala) berada di Pasar Lama Serpong di bangun tahun 1694 ketiganya dibangun dipinggiran kali Cisadane dan berada pada satu garis lurus.
Arti filosofi dari ketiga klenteng tersebut Kebajikanya (Tek) Setinggi Gunung (San) dan Seluas Lautan (Hay)
Referensi
↑Boen Tek Bio. "Boen Tek Bio - Sejarah". Boen Tek Bio (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 2017-10-08. Diakses tanggal 10 October 2017.