Sisaprida merupakan suatu obat gastroprokinetik, yaitu obat yang meningkatkan pergerakan atau kontraksi dari lambung dan usus. Obat ini digunakan untuk mengobati gejala seperti kembung yang disebabkan kembalinya asam lambung ke esofagus. Obat dijual di bawah nama dagang Prepulsid (Janssen-Ortho) dan Propulsid (di Amerika Serikat). Obat ini ditemukan oleh Janssen Pharmaceutica pada tahun 1980. Di banyak negara, telah ditarik dari pasar atau memiliki indikasi yang terbatas.
Penggunaan medis
Pada pasien dewasa, sisaprida digunakan untuk mengatasi gangguan motilitas saluran cerna, khususnya gastroparesis dan refluks esofagitis. Pada pasien anak-anak, digunakan untuk gastroesophageal reflux yang berat, apabila terapi lain tidak berhasil.
Di banyak negara, obat telah ditarik atau memiliki indikasi yang terbatas karena laporan dari efek samping sindrom perpanjangan interval QT, yang dapat menyebabkan aritmia. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengeluarkan surat peringatan kepada dokter,[1] dan sisaprida telah sukarela dihapus dari pasar AS pada 14 Juli 2000. Penggunaannya di Eropa juga terbatas. Obat dilarang di India dan di Filipina pada tahun 2011.[2] Obat ini dilarang di India dan Filipina pada tahun 2011.[3]
Farmakologi
Mekanisme aksi
Sisaprida merupakan antagonis reseptor serotonin yang menstimulasi motilitas saluran cerna dengan cara meningkatkan tekanan sfingter esofagus bagian bawah dan meningkatkan bersihan asam esofagus.
Kontraindikasi
Pasien hipersensitif atau intoleransi terhadap sisaprida.
Pasien dengan penyakit organik seperti perdarahan lambung atau usus, obstruksi mekanik atau perforasi.
Telah dilaporkan terjadi aritmia jantung yang serius pada pasien yang diobati dengan sisaprida, meliputi takikardia ventrikular, fibrilasi ventrikular, torsade de pointes dan perpanjangan interval QT. Beberapa kasus yang terjadi adalah fatal.
Kasus-kasus tersebut terjadi pada:
pasien yang menggunakan sisaprida bersama dengan obat lain yang dapat menginhibisi enzim sitokrom P450 3A4 yang memetabolisme sisaprida, seperti antijamut azola, antibiotik makrolida, penghambat protease HIV.
pasien dengan faktor risiko, seperti pasien dengan riwayat perpanjangan interval QT, aritmia ventrikular, penyakit jantung iskemik, gagal jantung kongestif, gangguan ginjal, gangguan elektrolit (hipokalemia, hipomagnesemia) dan gangguan pernapasan.
pasien yang menggunakan sisaprida bersama dengan obat-obat yang dapat memperpanjang interval QT dan meningkatkan risiko aritmia, seperti antiaritmia, antidepresan trisiklik, fenotiazin, astemizol dan sparfloksasin.
Setiap 2 minggu pemakaian harus dilakukan evaluasi oleh dokter.
Pasien dengan atau yang diduga mempunyai faktor risiko aritmia jantung berikut ini, sebaiknya dievaluasi secara hati-hati sebelum menggunakan sisaprida:
Riwayat penyakit jantung termasuk aritmia ventrikular yang serius, blok atrioventrikular (derajat II atau III), disfungsi sinus node, gagal jantung kongestif, penyakit jantung iskemik.
Riwayat keluarga yang mengalami kematian mendadak (sudden death).
Faktor risiko untuk gangguan elektrolit, seperti pada pasien yang menggunakan diuretik hemat kalium, yang dikaitkan dengan pemberian insulin pada keadaan akut atau pasien dengan muntah dan/atau diare yang persisten.
Pada pasien seperti di atas harus dilakukan EKG, pemeriksaan elektrolit serum (kalium dan magnesium) dan fungsi ginjal, sebagai bagian dari evaluasinya. Sisaprida sebaiknya hanya digunakan dibawah pengawasan dokter, di mana harus dipertimbangkan risiko terhadap manfaat yang diperoleh.
Hati-hati pada pasien di mana peningkatan motilitas gastrointestinal dapat membahayakan.
Obat sebaiknya tidak digunakan selama kehamilan, pertimbangkan manfaat dibandingkan risiko terhadap janin.
Walaupun sisaprida diekskresikan didalam ASI dengan jumlah kecil, sebaiknya ibu tidak menyusui bayi ketika menggunakan obat ini.
Pada kasus yang jarang, telah dilaporkan abnormalitas fungsi hati dengan atau tanpa kolestasis, hiperprolaktinemia yang menyebabkan ginekomastia dan galaktorea (<0,1%), sawan konvulsif, gejala ekstrapiramidal.
Pernah dilaporkan: sinus tachycardia arrythmia, termasuk takikardia ventrikular, fibrilasi ventrikular, dan perpanjangan QT
Penggunaan sisaprida bersama dengan obat antiaritmia (kelas IA seperti kuinidin dan prokainamida; kelas III seperti sotalol), antidepresan trisiklik (amitriptilin), antidepresan tetrasiklik (maprotilin), antipsikotik (fenotiazin), astemizol, sparfloksasin dapat meningkatkan risiko aritmia dan memperpanjang interval QT.
Pasien yang mendapat obat antikoagulan, waktu koagulasi dapat meningkat. Untuk itu dianjurkan untuk mengukur waktu koagulasi selama beberapa hari setelah dimulai atau berhenti pengobatan dengan sisaprida dan menyesuaikan dosis antikoagulan jika perlu.
Absorpsi simetidin, ranitidin dapat dipercepat bila diberikan bersamaan dengan sisaprida. Pemberian simetidin bersamaan dengan sisaprida juga akan meningkatkan kadar puncak plasma dan biovailabilitas sisaprida.
Pemberian bersama dengan antikolinergik akan mengantagonis efek sisaprida terhadap motilitas saluran cerna.
Overdosis
Gejala overdosis seperti tremor, kejang, sesak napas, kehilangan gerakan ke kanan, katalepsi, katatonia dan diare dapat dilakukan pengobatan dengan cara pengosongan lambung atau arang aktif.
↑Maclennan, S; Augood, C; Cash-Gibson, L; Logan, S; Gilbert, RE (Apr 14, 2010). "Cisapride treatment for gastro-oesophageal reflux in children". The Cochrane database of systematic reviews (4): CD002300. doi:10.1002/14651858.CD002300.pub2. PMID20393933.
↑"Drugs banned in India". Central Drugs Standard Control Organization, Dte.GHS, Ministry of Health and Family Welfare, Government of India. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-02-21. Diakses tanggal 2013-09-17.