Kimia basah merupakan suatu cabang kimia analitik yang menggunakan metode klasik, seperti observasi, untuk menganalisis suatu material. Istilah kimia basah (wet chemistry) digunakan karena sebagian besar pekerjaan analitik dilakukan dalam fase cair.[1] Kimia basah juga dikenal sebagai kimia bangku (bench chemistry), karena banyak pengujian dilakukan langsung di bangku laboratorium.[2]
Bahan
Kimia basah umumnya menggunakan peralatan gelas laboratorium seperti gelas piala dan gelas ukur untuk mencegah bahan terkontaminasi atau terpengaruh oleh sumber lain yang tidak diinginkan.[3] Bensin, pembakar Bunsen, dan krus juga dapat digunakan untuk menguapkan serta mengisolasi zat hingga diperoleh dalam bentuk kering.[4][5] Kimia basah tidak dilakukan dengan instrumen canggih, karena sebagian besar instrumen tersebut bekerja dengan pemindaian otomatis terhadap zat.[6] Meskipun demikian, instrumen sederhana seperti neraca tetap digunakan untuk mengukur massa suatu zat sebelum dan sesudah suatu perubahan terjadi.[7] Banyak laboratorium di tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi mengajarkan kepada siswa metode dasar kimia basah.[8]
Metode
Metode kualitatif
Metode kualitatif menggunakan perubahan informasi yang tidak dapat dinyatakan secara numerik untuk mendeteksi terjadinya suatu perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan warna, bau, tekstur, pembentukan endapan, atau ciri fisik lain yang dapat diamati secara langsung tanpa pengukuran kuantitatif. Pendekatan ini umumnya digunakan untuk identifikasi awal suatu zat atau untuk memastikan keberadaan komponen tertentu dalam suatu sampel sebelum dilakukan analisis lanjutan yang lebih kuantitatif.[9][10]
Uji kimia
Ketika dibakar, timah menghasilkan nyala putih yang terang.
Uji kimia menggunakan pereaksi tertentu untuk menunjukkan keberadaan suatu senyawa kimia spesifik dalam larutan yang belum diketahui komposisinya. Pereaksi tersebut memicu reaksi khas ketika berinteraksi dengan zat sasaran, sehingga memungkinkan identifikasi senyawa yang terdapat dalam larutan berdasarkan perubahan yang terjadi, seperti pembentukan endapan, perubahan warna, atau munculnya lapisan tertentu.[11]
Salah satu contohnya adalah uji Heller, yaitu metode untuk mendeteksi keberadaan protein. Dalam uji ini, larutan yang diduga mengandung protein ditempatkan dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan asam kuat secara perlahan. Pada batas pertemuan antara larutan dan asam akan terbentuk cincin keruh (kerak putih), yang menandakan terjadinya denaturasi protein oleh asam. Terbentuknya cincin keruh tersebut merupakan indikator positif adanya protein dalam cairan. Metode ini secara klasik digunakan dalam pemeriksaan klinis, khususnya untuk mendeteksi protein dalam urin seseorang sebagai penanda gangguan fungsi ginjal.[12][13][14]
Uji nyala
Uji nyala merupakan salah satu metode uji kimia klasik yang paling dikenal dan digunakan khusus untuk mengidentifikasi ionlogam. Dalam metode ini, sampel logam atau senyawa logam dipanaskan dalam nyala api, sehingga atom-atom logam tereksitasi dan kemudian memancarkan cahaya dengan warna khas ketika kembali ke keadaan energi yang lebih rendah.[15]
Warna nyala yang dihasilkan bergantung pada jenis logam yang diuji dan dapat digunakan sebagai ciri identifikasi. Sebagai contoh, kalsium (Ca) menghasilkan nyala berwarna jingga kemerahan, sedangkan tembaga (Cu) menghasilkan nyala berwarna biru kehijauan. Prinsip emisi warna inilah yang juga dimanfaatkan untuk menghasilkan warna-warna cerah pada kembang api. Meskipun bersifat sederhana dan kualitatif, uji nyala api masih banyak digunakan dalam pendidikan dan analisis awal untuk identifikasi ion logam.[11]
Metode kuantitatif
Metode kuantitatif merupakan pendekatan analisis yang menggunakan data yang dapat diukur dan dinyatakan secara numerik untuk menunjukkan terjadinya suatu perubahan kimia atau fisika. Parameter yang umum digunakan dalam metode ini antara lain perubahan volume, konsentrasi, massa, atau besaran terukur lainnya. Dengan memanfaatkan data numerik tersebut, metode kuantitatif memungkinkan penentuan jumlah atau kadar suatu zat secara akurat dan dapat direproduksi, sehingga sangat penting dalam analisis laboratorium, pengendalian mutu, dan penelitian ilmiah.[16]
Analisis gravimetri
Padatan disaring dari suatu cairan, yang ditampung di dalam labu Erlenmeyer.
Analisis gravimetri adalah metode analisis kuantitatif yang menentukan jumlah atau konsentrasi suatu zat berdasarkan pengukuran massa. Metode ini dapat diterapkan baik pada zat padat yang terbentuk sebagai endapan maupun pada zat terlarut yang diperoleh setelah pelarutnya dihilangkan.[17]
Pada analisis berbasis endapan, massa larutan dicatat sebelum reaksi berlangsung. Selanjutnya, suatu pereaksi ditambahkan hingga endapan terbentuk secara sempurna dan tidak bertambah lagi. Endapan tersebut kemudian dipisahkan, dikeringkan hingga massa konstan, lalu ditimbang. Dari massa endapan yang diperoleh, konsentrasi zat dalam larutan semula dapat dihitung.[17]
Untuk analisis zat terlarut, larutan dapat diproses dengan penyaringan hingga semua padatan terpisah, atau dengan cara menguapkan seluruh pelarut. Setelah seluruh cairan menguap, residu padat yang tersisa dikeringkan sepenuhnya dan ditimbang untuk menentukan konsentrasinya. Metode penguapan total pelarut merupakan pendekatan yang paling umum digunakan dalam analisis gravimetri karena relatif sederhana dan memberikan hasil yang teliti apabila dilakukan dengan benar.[18]
Analisis volumetri
Analisis volumetri atau titrasi merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan pada pengukuran volume larutan untuk menentukan jumlah atau konsentrasi suatu zat. Dalam metode ini, suatu pereaksi (titran) dengan volume dan konsentrasi yang telah diketahui ditambahkan secara bertahap ke dalam larutan yang mengandung zat dengan konsentrasi tidak diketahui.[17]
Jumlah titran yang diperlukan hingga reaksi mencapai kondisi tertentu berbanding lurus dengan jumlah zat yang dianalisis, sehingga dari data tersebut dapat dihitung kandungan zat dalam larutan sampel. Apabila perubahan reaksi tidak dapat diamati secara langsung, maka digunakan indikator untuk menandai terjadinya reaksi. Salah satu contoh yang umum adalah indikator pH, yang akan mengalami perubahan warna sesuai dengan tingkat keasaman atau kebasaan larutan.[17]
Titik tepat terjadinya perubahan warna indikator dikenal sebagai titik akhir (endpoint). Karena perubahan warna ini dapat terjadi secara tiba-tiba, ketelitian tinggi dalam pengukuran volume dan pengamatan sangat diperlukan agar hasil analisis akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.[19]
Kolorimetri
Kolorimetri merupakan metode analisis yang bersifat unik karena menggabungkan pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatif. Pada analisis kualitatif, kolorimetri digunakan untuk mengamati perubahan warna sebagai indikasi terjadinya suatu reaksi atau perubahan kimia. Perubahan ini dapat berupa pergeseran intensitas atau gradasi warna, maupun perubahan menjadi warna yang sama sekali berbeda.[11]
Sementara itu, pada aspek kuantitatif, kolorimetri memanfaatkan instrumen optik untuk mengukur panjang gelombang cahaya yang diserap atau dipantulkan oleh suatu larutan. Perubahan panjang gelombang atau intensitas serapan cahaya tersebut dapat diukur secara presisi dan berkorelasi langsung dengan perubahan konsentrasi atau komposisi zat dalam campuran atau larutan. Oleh karena itu, kolorimetri banyak digunakan dalam analisis laboratorium untuk penentuan konsentrasi senyawa secara relatif sederhana namun andal.[20]
Penggunaan
Teknik kimia basah digunakan secara luas untuk melakukan analisis kimia, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Dalam analisis kualitatif, metode ini dimanfaatkan untuk mengamati perubahan yang mudah dikenali, seperti perubahan warna larutan yang menjadi dasar kolorimetri.[21]
Selain itu, kimia basah sangat sering diterapkan dalam pengukuran kuantitatif, yakni penentuan jumlah atau konsentrasi suatu zat secara teliti. Metode yang umum digunakan antara lain gravimetri, yang didasarkan pada pengukuran massa, serta titrimetri, yang menentukan konsentrasi zat melalui reaksi kimia dengan larutan standar. Teknik-teknik ini merupakan dasar penting dalam analisis kimia klasik dan masih digunakan secara luas dalam pendidikan, penelitian, serta pengujian laboratorium rutin.[17]
↑Federherr, E.; Cerli, C.; Kirkels, F. M. S. A.; etal. (2014-12-15). "A novel high-temperature combustion based system for stable isotope analysis of dissolved organic carbon in aqueous samples. I: development and validation". Rapid Communications in Mass Spectrometry. 28 (23): 2559–2573. Bibcode:2014RCMS...28.2559F. doi:10.1002/rcm.7052. ISSN1097-0231. PMID25366403.
↑Jackson, P.; Baker, R. J.; McCulloch, D. G.; etal. (June 1996). "A study of Technegas employing X-ray photoelectron spectroscopy, scanning transmission electron microscopy and wet-chemical methods". Nuclear Medicine Communications. 17 (6): 504–513. doi:10.1097/00006231-199606000-00009. ISSN0143-3636. PMID8822749. S2CID26111444.