Ketegangan seksual adalah fenomena sosial yang terjadi ketika dua orang berinteraksi dan salah satu atau keduanya merasakan ketertarikan seksual, namun hubungan seksual tersebut ditunda atau tidak pernah terjadi.
Skenario yang umum terjadi adalah ketika kedua orang tersebut berada dalam lingkungan yang dekat, seperti rekan kerja atau dalam kelompok teman, namun tidak melakukan hubungan seksual untuk menghindari rasa canggung atau karena alasan lain.[1] Ketegangan seksual sering terjadi di antara individu ketika hubungan mereka dekat dan sering kali diwarnai godaan, namun orang-orang yang terlibat menyangkal atau menekan perasaan mereka satu sama lain. Sementara itu, bagi teman atau rekan kerja lain, ketegangan tersebut mungkin tampak jelas. Ketika orang-orang yang mengalami ketegangan seksual akhirnya berhubungan seks, hubungan tersebut dapat menjadi rumit dan canggung jika jenis hubungan baru tidak terbentuk, karena hubungan yang ada sebelumnya tidak lagi berlaku.
Ketegangan seksual juga dapat terjadi ketika dua individu yang sebelumnya pernah melakukan hubungan seksual masih merasakan ketertarikan satu sama lain, tetapi tidak ingin berhubungan seks lagi karena takut akan dampaknya terhadap situasi sosial mereka saat ini—seperti mempertahankan hubungan dengan pasangan lain. Ketegangan ini juga dapat dirasakan dalam situasi di mana dua individu menjalin hubungan tanpa kontak fisik, seperti dalam hubungan jarak jauh.
Dalam fiksi
Ketegangan seksual merupakan unsur umum dalam karya fiksi. Rasa rindu ini sering kali disiratkan melalui adegan-adegan keintiman; misalnya, ketika dua karakter berada sendirian dan berdekatan (atau bahkan saling bersentuhan), namun hasrat tersebut tidak pernah diungkapkan secara eksplisit. Tema umum lainnya adalah ketika karakter-karakter mulai tertarik satu sama lain seiring berjalannya cerita, dan jika hal ini dilakukan dengan apik, penonton dapat menyadari ketertarikan yang semakin tumbuh.
Ketegangan seksual memperkuat keterlibatan penonton dengan semua karakter yang terlibat. Namun, seperti yang telah ditemukan oleh beberapa serial televisi dengan penuh penyesalan, ketegangan tersebut menghilang ketika karakter-karakter tersebut bersatu dalam keharmonisan seksual. Hal ini tidak sama dengan kekerasan, yang membangun kredibilitas penjahat dan membuat babak bahaya berikutnya menjadi lebih kuat. Sebaliknya, kepuasan seksual memiliki efek yang sama terhadap ketegangan seksual seperti kematian korban terhadap unsur bahaya.[2]