Menurut Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca, wilayah kerajaannya meliputi Labai Lawai atau Laman Sembilan Domong Sepuluh (sekarang meliputi Pantai-Darat Kapuas, hulu Kapuas, hulu Landak, Sanggau, Jelai-Kendawangan, Pesaguan, Kayong-Gerunggang, Jokak-Laur, Bihak-Krio, Kalteng).[2]
Kerajaan Hulu Aik memiliki lima rutinitas adat. Pertama, Bacampui Roba, upacara adat membakar ladang. Kedua, Bacampui Makan Bayam-Sawi yakni, upacara adat makan sayur-sayuran. Ketiga, Bacampui Puyak Kanukng Padi, upacara adat padi bunting. Keempat, Bacampui Maharu Padi Baru, upacara adat makan beras baru. Kelima, Maruba, membersihkan pusaka Kerajaan Hulu Aik.[3]
Kerajaan Hulu Aik adalah satu-satunya kerajaan Dayak yang masih berdiri di dunia sampai saat ini. Kerajaan tersebut memiliki peninggalan yang berupa pusaka-pusaka kerajaan dan Prasasti Lingga.[4]