Kenegerian Koto Rajo yang terdapat di Kecamatan Kuantan Hilir Seberang telah eksis sejak abad ke-12 dan disebutkan sebagai wilayah kekuasaan Sang Sapurba dari Sriwijaya ketika berhasil menaklukkan Kuantan.[1] Demikian pula di masa Adityawarman yang berhasil menguasai Pagaruyung sekitar abad ke-14/15 M. Di masa kolonialisme Belanda, Koto Rajo menjadi salah satu daerah yang termasuk ke dalam bagian Distrik Kuantan di mana kepala pemerintahannya adalah seorang raja. Salah satu yang terkenal adalah Raja Tuanku Pandak yang berpostur kecil tetapi dikenal tegas dan pemberani. Di masa kini, Kenegerian Koto Rajo termasuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.[2]
Penduduk
Di Kenegerian Koto Rajo sendiri, masyarakatnya beretnis Minangkabau Rantau Kuantan yang terdiri dari empat suku (klan) besar, yakni Suku Melayu, Suku Limo Kampuong, Suku Tigo Kampuong, dan Suku Cemin. Masing-masing suku memiliki umah godang sebagai rumah tempat berkumpulnya para Mamak dan Anak-Kemenakan untuk bersilaturahmi saat Lebaran Idul Fitri tiba atau untuk merundingkan berbagai permasalahan yang sedang terjadi.
Tokoh
Beberapa tokoh daerah maupun lokal yang berasal dari Kenegerian Koto Rajo antara lain:
Tokoh Pendidikan Riau, Sejarah dan Penelitian. Menjadi rektor pertama di Universitas Riau hingga dua periode (1980-1984 dan 1985-1989). Diabadikan sebagai nama jalan di Pekanbaru dan nama perpustakaan daerah Kabupaten Kuantan Singingi. Berkontribusi besar dalam penulisan buku "Sejarah Riau".
Tokoh pendidikan lokal dan pernah menjadi kepala SD di beberapa tempat.
Referensi
↑Hasbullah,, Rendi Ahmad Asori, Oki Candra, Olahraga dan Magis: Kajian terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Cetakan Pertama, (Pekanbaru: ASA Riau, 2015), hal. 53-54. ISBN: 978-602-1096-63-5