Masyarakat di Rantau Kuantan dalam beberapa sumber disebutkan sebagai Melayu Muda (Deutro Melayu). Namun tidak tertutup kemungkinan juga berasal dari kalangan Melayu Tua (Proto Melayu). Namun para ahli lebih cenderung menyebutnya Melayu Muda (Dutro Melayu) karena peradabannya yang tumbuh dan berkembang di pinggir sungai besar. Adapun bahasa yang digunakan mirip seperti bahasa Minangkabau meski terdapat beberapa dialek yang berbeda-beda.[2]
Referensi
↑Hasbullah,, Rendi Ahmad Asori, Oki Candra, Olahraga dan Magis: Kajian terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Cetakan Pertama, (Pekanbaru: ASA Riau, 2015), hal. 53-54. ISBN: 978-602-1096-63-5