ENSIKLOPEDIA
Kehilangan keanekaragaman hayati


Hilangnya keanekaragaman hayati merupakan fenomena menurunnya keanekaragaman hayati (biodiversitas), seperti kepunahan suatu spesies di seluruh dunia, atau pengurangan atau hilangnya spesies secara lokal di habitat tertentu. Fenomena terakhir ini dapat bersifat sementara atau permanen, tergantung pada apakah degradasi lingkungan yang menyebabkan hilangnya spesies tersebut dapat dipulihkan melalui restorasi ekologis atau ketahanan ekologis,[2][3] atau terjadi secara permanen. Fenomena ini, umumnya, disebabkan oleh aktivitas manusia yang mendorong batas planet Bumi terlalu jauh.[1][4][5] Aktivitas ini mencakup kerusakan habitat, (contohnya deforestasi), dan penggunaan lahan secara intens[6] (contohnya pertanian monokultur).[7] Masalah lainnya mencakup polusi air dan udara, eksploitasi berlebih, introduksi species invasif,[8] dan perubahan iklim.
Hilangnya spesies secara permanen dalam lingkup global merupakan fenomena yang lebih dramatis dibandingkan perubahan komposisi spesies dalam lingkup regional. Meskipun demikian, perubahan kecil pada kondisi biodiversitas yang stabil dan sehat dapat berpengaruh dramatis pada jaring-jaring makanan dan rantai makanan. Hilangnya satu spesies dapat berdampak buruk pada keseluruhan rantai yang mengarah pada penurunan keseluruhan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang berkurang juga mengarah pada penurunan manfaat ekosistem dan pada akhirnya menimbulkan bahaya langsung bagi ketahanan pangan, yang berdampak bagi umat manusia.[9]
Faktor
Faktor utama yang mengakibatkan stres biotik dan laju hilangnya biodiversitas yang semakin cepat (selain ancaman lainnya) adalah:[10]
- Degradasi dan hilangnya habitat. Intensifikasi pemanfaatan lahan (dan hilangnya lahan atau habitat) telah diidentifikasi sebagai faktor penting dalam hilangnya layanan ekologis sebagai efek langsung serta hilangnya keanekaragaman hayati.[11]
- Perubahan iklim melalui tekanan panas dan tekanan kekeringan.
- Beban nutrisi yang berlebihan dan bentuk polusi lainnya.
- Eksploitasi berlebihan dan penggunaan secara tidak berkelanjutan (misalnya metode penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan).
- Konflik bersenjata yang mengganggu kehidupan dan mata pencaharian manusia, berkontribusi pada hilangnya habitat, dan meningkatkan eksploitasi berlebihan terhadap spesies yang bernilai ekonomi, yang menyebabkan penurunan populasi dan kepunahan lokal.[12]
- Spesies asing invasif yang bersaing untuk suatu relung, menggantikan spesies asli.[13]
- Aktivitas manusia yang mengancam bentuk kehidupan lainnya. Sekitar 30% mamalia, amfibi, dan spesies burung terancam punah.[14]
Pengamatan berdasarkan spesies
Secara umum

Analisis dari Swiss Re pada tahun 2020 menemukan bahwa 1 dari 5 negara dalam ancaman keruntuhan ekosistem akibat kerusakan habitat antropogenik dan peningkatan hilangnya satwa dan tanaman liar.[17][18] Jika hal ini terus berlanjut, keruntuhan ekosistem dapat terjadi.[19]
Pada tahun 2022, WWF melaporkan[20][21] berkurangnya rata-rata populasi dari 4,400 spesies hewan sekitar 68% dalam kurun waktu 1970 hingga 2016 di seluruh dunia.[22]
Vertebrata
Amfibi
Sejak tahun 1980an, populasi amfibi telah turun secara signifikan, termasuk kepunahan massal dalam skala lokal, telah teramati di beberapa wilayah di seluruh dunia. Hilangnya keanekaragaman hayati tipe ini merupakan salah satu ancaman terkritis kepada keanekaragaman hayati global. Faktor-faktor utama meliputi kerusakan dan modifikasi habitat, eksploitasi, polusi, penggunaan pestisida, spesies introduksi, dan radiasi ultraviolet-B. Bagaimanapun, penyebab dari berkurangnya jumlah amfibi sampai sekarang masih kurang dipahami, dan saat ini menjadi subjek penelitian.
Hasil pemodelan menemukan bahwa tingkat kepunahan amfibi saat ini bisa 211 kali lebih besar daripada tingkat kepunahan alamiah. Estimasi ini bahkan meningkat hingga 25.000–45.000 kali jika spesies yang terancam punah juga dimasukkan dalam perhitungan.[23]
Burung
Beberapa pestidida, seperti insektisida, berperan penting dalam mengurangi populasi beberapa spesies burung.[24] Menurut studi yang didanai BirdLife International, terdapat 51 spesies burung yang terancam punah, dan delapan diantaranya dapat diklasifikasi sebagai punah atau dalam bahaya kepunahan.[25] Hampir 30% kepunahan disebabkan oleh perburuan dan penangkapan untuk perdagangan hewan peliharaan eksotis. Deforestasi, yang disebabkan oleh penebangan dan pertanian yang tidak berkelanjutan, bisa menjadi pendorong kepunahan berikutnya, karena burung kehilangan habitat dan makanan mereka.[26][27]
Invertebrata
Cacing tanah

Ilmuwan telah mempelajari hilangnya cacing tanah. Mereka menemukan berkurangnya biomass relatif sekitar 50-100% (dengan rata-rata minus 83%) menyamai atau melebihi apa yang dilaporkan untuk kelompok fauna lainnya.[28] Ini dengan jelas menyatakan bahwa cacing tanah juga berkurang di tanah lahan yang digunakan untuk pertanian intensif.[28] Cacing tanah berperan penting dalam cara bekerja ekosistem,[28] membantu prosesi biologis di tanah, air, dan bahkan menyeimbangkan gas rumah kaca.[29] Ada lima sebab dalam berkurangnya keragaman cacing tanah: (1) degradasi tanah dan kehilangan habitat, (2) perubahan iklim, (3) kontaminasi berbagai bentuk nutrien, (4) eksploitasi berlebih dan pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan, dan (5) spesies invasif".[29][30] Faktor-faktor seperti praktik pengolahan tanah dan penggunaan lahan yang intensif merusak tanah serta akar tanaman yang digunakan cacing tanah untuk membentuk biomassa mereka.[31] Hal ini menganggu dengan siklus karbon dan siklus nitrogen.
Pengetahuan tentang keanekaragaman cacing tanah masih cukup terbatas bahkan tidak sampai 50% dari mereka yang telah dideskripsikan (diidentifikasi/dicatat).[29] Metode-metode pertanian berkelanjutan dapat mencegah berkurangnya keragaman cacing tanah, contohnya pengurangan pengelolaan tanah.[29]: 32 Sekretaris Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity) Sedang berusaha untuk mengambil tindakan dan mempromosikan pemulihan serta pemeliharaan berbagai keanekaragaman spesies cacing tanah.[29]
Serangga
Serangga adalah kelas hewan yang paling banyak jumlahnya dan tersebar luas di kerajaan hewan, mencakup hingga 90% dari semua spesies hewan.[32][33] Pada tahun 2010-an, muncul laporan mengenai penurunan populasi yang meluas di berbagai ordo serangga. Tingkat keparahan yang dilaporkan mengejutkan banyak pengamat, meskipun sebelumnya sudah ada temuan mengenai penurunan polinator (penyerbuk). Terdapat pula laporan anekdot mengenai kelimpahan serangga yang lebih besar pada awal abad ke-20. Banyak pengemudi mobil mengetahui bukti anekdotal ini, contohnya, melalui fenomena kaca depan (windscreen), indikator populasi serangga.[34][35] Penyebab penurunan populasi serangga serupa dengan penyebab hilangnya keanekaragaman hayati lainnya. Faktor-faktor tersebut meliputi perusakan habitat, seperti pertanian intensif, penggunaan pestisida (khususnya insektisida), spesies asing yang diperkenalkan, dan – dalam tingkat yang lebih rendah dan hanya untuk wilayah tertentu – dampak perubahan iklim.[36] Penyebab tambahan yang mungkin khusus untuk serangga adalah polusi cahaya.[37][2][38]

Paling sering, penurunan ini melibatkan pengurangan jumlah (kelimpahan), meskipun dalam beberapa kasus seluruh spesies mengalami kepunahan. Penurunan tersebut jauh dari seragam. Di beberapa lokasi, ada laporan tentang peningkatan populasi serangga secara keseluruhan, dan beberapa jenis serangga tampaknya meningkat jumlahnya di seluruh dunia.[39] Tidak semua ordo serangga terdampak dengan cara yang sama; yang paling terdampak adalah lebah, kupu-kupu, ngengat, kumbang, capung, dan capung jarum. Banyak dari kelompok serangga lainnya sejauh ini kurang diteliti.[39] Selain itu, angka perbandingan dari dekade-dekade sebelumnya sering kali tidak tersedia Dalam beberapa studi global utama, perkiraan jumlah total spesies serangga yang terancam punah berkisar antara 10% hingga 40%,[40][41][42] akan tetapi semua perkiraan ini penuh dengan kontroversi.[43][44][45]
Tumbuhan
Pepohonan
Meskipun tumbuhan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, mereka belum mendapatkan perhatian yang sama seperti konservasi hewan.[46] Diperkirakan sepertiga dari seluruh spesies tumbuhan darat terancam punah dan 94% belum dievaluasi status konservasinya.[46] Tumbuhan yang berada pada tingkat trofik terendah memerlukan peningkatan konservasi untuk mengurangi dampak negatif pada tingkat trofik yang lebih tinggi.[47][48]
Pada tahun 2022, para ilmuwan memperingatkan bahwa sepertiga spesies pohon terancam punah. Hal ini akan mengubah ekosistem dunia secara signifikan karena respons tanaman, serta siklus karbon, air, dan nutrien mereka akan terdampak.[49][50][51] Kawasan hutan mengalami degradasi akibat faktor-faktor umum seperti penebangan, kebakaran, dan pengambilan kayu bakar.[52] Terutama dengan kebakaran hutan dan peningkatannya, hal ini akan memengaruhi pemulihan biomassa dan juga memengaruhi komposisi spesies.[53] The Global Tree Assessment (GTA) telah menetapkan bahwa 17.510 (29,9%) spesies pohon dianggap terancam punah. Selain itu, terdapat 142 spesies pohon yang tercatat sebagai Punah atau Punah di Alam Liar[50]
Solusi yang mungkin dapat ditemukan dalam metode silvikultural seperti pengelolaan hutan yang mempromosikan keragaman hayati pohon, seperti sistem tebang pilih, penjarangan atau pengelolaan pohon panen, serta tebang habis dan tebang trubus.[54] Tanpa solusi, pemulihan kekayaan spesies hutan sekunder dapat memakan waktu 50 tahun untuk pulih menyamai jumlah hutan primer, atau 20 tahun untuk memulihkan 80% kekayaan spesies.[55]
Spesies air tawar
Ekosistem air tawar, mencakup sungai, rawa, dan delta, mencakup 1% dari permukaan bumi. Mereka penting karena menjadi rumah bagi sekitar sepertiga dari spesies vertebrata.[56] Spesies air tawar telah menurun dua kali lebih cepat dibandingkan spesies yang hidup di darat atau di laut. Kehilangan yang cepat ini telah menempatkan 27 dari 29.500 spesies yang bergantung pada air tawar pada IUCN Red List.[56]
Populasi global dari ikan air tawar telah runtuh karena polusi air dan penangkapan ikan berlebih.[57] Populasi ikan migrasi telah menurun sebesar 76% sejak tahun 1970, dan populasi megafish (ikan berukuran besar) telah anjlok hingga 94% dengan 16 spesies dinyatakan punah pada tahun 2020.[58]
Biota laut
Keanekaragaman biota laut Mencakup organisme hidup apa pun yang bertempat tinggal di laut atau di estuari (muara).[59] Pada tahun 2018, sekitar 240.000 spesies laut telah didokumentasikan.[60] Namun, banyak spesies laut—perkiraan berkisar antara 178.000 hingga 10 juta spesies samudra—masih belum terdeskripsikan.[59] Oleh karena itu, kemungkinan besar sejumlah spesies langka (yang tidak terlihat selama beberapa dekade di alam liar) telah punah atau berada di ambang kepunahan, tanpa disadari.[61]
Aktivitas manusia memiliki pengaruh yang kuat dan merusak terhadap keanekaragaman hayati laut. Faktor utama kepunahan spesies laut adalah hilangnya habitat, polusi, spesies invasif, dan eksploitasi berlebihan.[62][63] Tekanan yang lebih besar diberikan pada ekosistem laut di dekat kawasan pesisir karena adanya permukiman manusia di wilayah tersebut.[64][65]
Eksploitasi berlebihan telah mengakibatkan kepunahan lebih dari 25 spesies laut. Ini mencakup burung laut, mamalia laut, alga, dan ikan.[59][66] Contoh spesies laut yang telah punah meliputi sapi laut Steller (Hydrodamalis gigas) dan anjing laut biksu Karibia (Monachus tropicalis). Tidak semua kepunahan disebabkan oleh manusia. Sebagai contoh, pada tahun 1930-an, limpet lamun (Lottia alveus) punah di Atlantik setelah populasi lamun Zostera marina menurun akibat terpapar penyakit.[67] Lottia alveus sangat terdampak karena Zostera marina adalah satu-satunya habitat mereka.[59]
Fungi
Diperkirakan bahwa 9,4% spesies fungi (jamur) terancam punah akibat perubahan iklim, sementara 62% terancam oleh kerusakan habitat.[68]
Makalah tinjauan pada tahun 2024 memproyeksikan kemungkinan kepunahan 8%–27% spesies jamur di bawah skenario RCP4.5 pada tahun 2070, sementara pada skenario RCP8.5, gabungan spesies tanaman dan jamur akan hilang sekitar 23% hingga 31%.[69]
Referensi
- 1 2 Bradshaw, Corey J. A.; Ehrlich, Paul R.; Beattie, Andrew; Ceballos, Gerardo; Crist, Eileen; Diamond, Joan; Dirzo, Rodolfo; Ehrlich, Anne H.; Harte, John; Harte, Mary Ellen; Pyke, Graham; Raven, Peter H.; Ripple, William J.; Saltré, Frédérik; Turnbull, Christine; Wackernagel, Mathis; Blumstein, Daniel T. (2021). "Underestimating the Challenges of Avoiding a Ghastly Future". Frontiers in Conservation Science. 1 615419. Bibcode:2021FrCS....1.5419B. doi:10.3389/fcosc.2020.615419.
- 1 2
- ↑ Bongaarts, John (2019). "IPBES, 2019. Summary for policymakers of the global assessment report on biodiversity and ecosystem services of the Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services". Population and Development Review (dalam bahasa Inggris). 45 (3): 680–681. doi:10.1111/padr.12283. ISSN 0098-7921.
- ↑ Ripple WJ, Wolf C, Newsome TM, Galetti M, Alamgir M, Crist E, Mahmoud MI, Laurance WF (13 November 2017). "World Scientists' Warning to Humanity: A Second Notice". BioScience. 67 (12): 1026–1028. doi:10.1093/biosci/bix125. hdl:11336/71342.
Moreover, we have unleashed a mass extinction event, the sixth in roughly 540 million years, wherein many current life forms could be annihilated or at least committed to extinction by the end of this century.
- ↑ Cowie RH, Bouchet P, Fontaine B (April 2022). "The Sixth Mass Extinction: fact, fiction or speculation?". Biological Reviews of the Cambridge Philosophical Society. 97 (2): 640–663. doi:10.1111/brv.12816. PMC 9786292. PMID 35014169. S2CID 245889833.
- ↑ Allan, Eric; Manning, Pete; Alt, Fabian; Binkenstein, Julia; Blaser, Stefan; Blüthgen, Nico; Böhm, Stefan; Grassein, Fabrice; Hölzel, Norbert (2015-08). "Land use intensification alters ecosystem multifunctionality via loss of biodiversity and changes to functional composition". Ecology Letters. 18 (8): 834–843. doi:10.1111/ele.12469. ISSN 1461-0248. PMC 4744976. PMID 26096863.
- ↑ Kehoe L, Romero-Muñoz A, Polaina E, Estes L, Kreft H, Kuemmerle T (August 2017). "Biodiversity at risk under future cropland expansion and intensification". Nature Ecology & Evolution (dalam bahasa Inggris). 1 (8): 1129–1135. Bibcode:2017NatEE...1.1129K. doi:10.1038/s41559-017-0234-3. ISSN 2397-334X. PMID 29046577. S2CID 3642597. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 23, 2022. Diakses tanggal March 28, 2022.
- ↑ Walsh, Jake R.; Carpenter, Stephen R.; Vander Zanden, M. Jake (2016-04-12). "Invasive species triggers a massive loss of ecosystem services through a trophic cascade". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 113 (15): 4081–4085. doi:10.1073/pnas.1600366113. ISSN 1091-6490. PMC 4839401. PMID 27001838.
- ↑ Cardinale, Bradley; et al. (2012). "Biodiversity loss and its impact on humanity" (PDF). Nature. 486 (7401): 59–67. doi:10.1038/nature11148. PMID 22678280. S2CID 4333166.
...at the first Earth Summit, the vast majority of the world's nations declared that human actions were dismantling the Earth's ecosystems, eliminating genes, species and biological traits at an alarming rate. This observation led to the question of how such loss of biological diversity will alter the functioning of ecosystems and their ability to provide society with the goods and services needed to prosper.
- ↑ "Global Biodiversity Outlook 3". Convention on Biological Diversity. 2010.
- ↑ Allan, Eric; Manning, Pete; Alt, Fabian; Binkenstein, Julia; Blaser, Stefan; Blüthgen, Nico; Böhm, Stefan; Grassein, Fabrice; Hölzel, Norbert; Klaus, Valentin H.; Kleinebecker, Till; Morris, E. Kathryn; Oelmann, Yvonne; Prati, Daniel; Renner, Swen C.; Rillig, Matthias C.; Schaefer, Martin; Schloter, Michael; Schmitt, Barbara; Schöning, Ingo; Schrumpf, Marion; Solly, Emily; Sorkau, Elisabeth; Steckel, Juliane; Steffen-Dewenter, Ingolf; Stempfhuber, Barbara; Tschapka, Marco; Weiner, Christiane N.; Weisser, Wolfgang W.; et al. (2015). "Land use intensification alters ecosystem multifunctionality via loss of biodiversity and changes to functional composition". Ecol. Lett. 18 (8): 834–843. doi:10.1111/ele.12469. PMC 4744976. PMID 26096863.
- ↑ Daskin, Joshua H.; Pringle, Robert M. (2018). "Warfare and wildlife declines in Africa's protected areas". Nature. 553 (7688): 328–332. Bibcode:2018Natur.553..328D. doi:10.1038/nature25194. PMID 29320475. S2CID 4464877.
- ↑ Walsh JR, Carpenter SR, Vander Zanden MJ (2016). "Invasive species triggers a massive loss of ecosystem services through a trophic cascade". Proc Natl Acad Sci U S A. 13 (15): 4081–5. Bibcode:2016PNAS..113.4081W. doi:10.1073/pnas.1600366113. PMC 4839401. PMID 27001838.
- ↑ Shah, Anup. "Loss of Biodiversity and Extinctions". Global Issues. Diakses tanggal 3 May 2019.
- ↑ Ritchie, Hannah (October 2025). "How does the Living Planet Index vary by region?". Our World in Data (OWID). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2026. See file description page for updated referencing and more complete archives.
- ↑ Whiting, Kate (17 October 2022). "6 charts that show the state of biodiversity and nature loss – and how we can go 'nature positive'". World Economic Forum. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 September 2023.
- ↑ Carrington D (October 12, 2020). "Fifth of countries at risk of ecosystem collapse, analysis finds". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 12, 2022. Diakses tanggal October 12, 2020.
- ↑ "Home". livingplanet.panda.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-01.
- ↑ Carrington, Damian (February 24, 2023). "Ecosystem collapse 'inevitable' unless wildlife losses reversed". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 25, 2023. Diakses tanggal February 25, 2023.
The researchers concluded: 'A biodiversity crash may be the harbinger of a more devastating ecosystem collapse.'
- ↑ "The 2022 Living Planet Report". livingplanet.panda.org (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 24, 2023. Diakses tanggal 2023-03-23.
- ↑ "Home". livingplanet.panda.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-04-01.
- ↑ Lewis, Sophie (September 10, 2020). "Animal populations worldwide have declined nearly 70% in just 50 years, new report says" (dalam bahasa American English). CBS News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 4, 2023. Diakses tanggal 2023-03-23.
- ↑ McCallum, M. L. (2007). "Amphibian Decline or Extinction? Current Declines Dwarf Background Extinction Rate" (PDF). Journal of Herpetology. 41 (3): 483–491. doi:10.1670/0022-1511(2007)41[483:ADOECD]2.0.CO;2. S2CID 30162903. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2008-12-17.
- ↑ Pennisi E (September 12, 2019). "Common pesticide makes migrating birds anorexic". Science. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 11, 2022. Diakses tanggal September 19, 2019.
- ↑ Vuong, Quan-Hoang; Nguyen, Minh-Hoang (2024). Better economics for the Earth: A lesson from quantum and information theories. AISDL. ISBN 979-8-3328-6579-4.
- ↑ "These 8 Bird Species Have Disappeared This Decade". Environment. September 5, 2018. Diarsipkan dari asli tanggal September 5, 2018. Diakses tanggal September 25, 2020.
- ↑ de Moraes KF, Santos MP, Gonçalves GS, de Oliveira GL, Gomes LB, Lima MG (July 17, 2020). "Climate change and bird extinctions in the Amazon". PLOS ONE. 15 (7) e0236103. Bibcode:2020PLoSO..1536103D. doi:10.1371/journal.pone.0236103. PMC 7367466. PMID 32678834.
- 1 2 3 Blakemore RJ (2018). "Critical Decline of Earthworms from Organic Origins under Intensive, Humic SOM-Depleting Agriculture". Soil Systems. 2 (2): 33. Bibcode:2018SoiSy...2...33B. doi:10.3390/soilsystems2020033.
Text was copied from this source, which is available under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. - 1 2 3 4 5 Dewi WS, Senge M (2015). "Earthworm diversity and ecosystem services under threat". Reviews in Agricultural Science. 3: 25–35. doi:10.7831/ras.3.0_25. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-02-02 – via J-STAGE.
- ↑ Phillips HR, et al. (2019). "Global distribution of earthworm diversity". Science. 366 (6464): 480–485. Bibcode:2019Sci...366..480P. doi:10.1126/science.aax4851. PMC 7335308. PMID 31649197.
- ↑ Briones, María Jesús I.; Schmidt, Olaf (October 2017). "Conventional tillage decreases the abundance and biomass of earthworms and alters their community structure in a global meta-analysis". Global Change Biology. 23 (10): 4396–4419. Bibcode:2017GCBio..23.4396B. doi:10.1111/gcb.13744. ISSN 1365-2486. PMID 28464547.
- ↑ Erwin, Terry L. (1997). Biodiversity at its utmost: Tropical Forest Beetles (PDF). hlm. 27–40. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 November 2018. Diakses tanggal 16 December 2017. In: Reaka-Kudla, M.L.; Wilson, D. E.; Wilson, E. O., ed. (1997). Biodiversity II. Joseph Henry Press, Washington, D.C. ISBN 978-0-309-05227-6.
- ↑ Erwin, Terry L. (1982). "Tropical forests: their richness in Coleoptera and other arthropod species" (PDF). The Coleopterists Bulletin. 36: 74–75. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 23 September 2015. Diakses tanggal 16 September 2018.
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- ↑
- 1 2 "Science". AAAS (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-04.
- ↑ "Wayback Machine" (PDF). www.ipbes.net. Diakses tanggal 2026-05-04.
- ↑ Sánchez-Bayo, Francisco; Wyckhuys, Kris A. G. (2019-04-01). "Worldwide decline of the entomofauna: A review of its drivers". Biological Conservation. 232: 8–27. doi:10.1016/j.biocon.2019.01.020. ISSN 0006-3207.
- ↑ van Klink, Roel; Bowler, Diana E.; Gongalsky, Konstantin B.; Swengel, Ann B.; Gentile, Alessandro; Chase, Jonathan M. (2020-04-24). "Meta-analysis reveals declines in terrestrial but increases in freshwater insect abundances". Science. 368 (6489): 417–420. doi:10.1126/science.aax9931.
- ↑ Komonen, Atte; Halme, Panu; Kotiaho, Janne S. (19 March 2019). "Alarmist by bad design: Strongly popularized unsubstantiated claims undermine credibility of conservation science". Rethinking Ecology. 4: 17–19. doi:10.3897/rethinkingecology.4.34440.
- ↑ Desquilbet, Marion; Gaume, Laurence; Grippa, Manuela; Céréghino, Régis; Humbert, Jean-François; Bonmatin, Jean-Marc; Cornillon, Pierre-André; Maes, Dirk; Dyck, Hans Van; Goulson, David (2020-12-18). "Comment on 'Meta-analysis reveals declines in terrestrial but increases in freshwater insect abundances'". Science. 370 (6523) eabd8947. doi:10.1126/science.abd8947. hdl:2078.1/254935. ISSN 0036-8075. PMID 33335036.
- ↑ Jähnig, Sonja C.; et., al. (2021). "Revisiting global trends in freshwater insect biodiversity". Wiley Interdisciplinary Reviews: Water. 8 (2). Bibcode:2021WIRWa...8E1506J. doi:10.1002/wat2.1506. hdl:1885/275614.
- 1 2 Corlett RT (February 2016). "Plant diversity in a changing world: Status, trends, and conservation needs". Plant Diversity. 38 (1): 10–16. Bibcode:2016PlDiv..38...10C. doi:10.1016/j.pld.2016.01.001. PMC 6112092. PMID 30159445.
- ↑ Krauss J, Bommarco R, Guardiola M, Heikkinen RK, Helm A, Kuussaari M, Lindborg R, Ockinger E, Pärtel M, Pino J, Pöyry J, Raatikainen KM, Sang A, Stefanescu C, Teder T, Zobel M, Steffan-Dewenter I (May 2010). "Habitat fragmentation causes immediate and time-delayed biodiversity loss at different trophic levels". Ecology Letters. 13 (5): 597–605. Bibcode:2010EcolL..13..597K. doi:10.1111/j.1461-0248.2010.01457.x. PMC 2871172. PMID 20337698.
- ↑ Nic Lughadha, Eimear; Bachman, Steven P.; Leão, Tarciso C. C.; Forest, Félix; Halley, John M.; Moat, Justin; Acedo, Carmen; Bacon, Karen L.; Brewer, Ryan F. A.; Gâteblé, Gildas; Gonçalves, Susana C.; Govaerts, Rafaël; Hollingsworth, Peter M.; Krisai-Greilhuber, Irmgard; de Lirio, Elton J. (2020). "Extinction risk and threats to plants and fungi". Plants, People, Planet (dalam bahasa Inggris). 2 (5): 389–408. Bibcode:2020PlPP....2..389N. doi:10.1002/ppp3.10146. ISSN 2572-2611.
- ↑ "Prevent tree extinctions or face global ecological catastrophe, scientists warn". The Guardian (dalam bahasa Inggris). 2 September 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 8, 2022. Diakses tanggal 15 September 2022.
- 1 2 Rivers, Malin; Newton, Adrian C.; Oldfield, Sara; Global Tree Assessment Contributors (2022-08-31). "Scientists' warning to humanity on tree extinctions". Plants, People, Planet (dalam bahasa Inggris). 5 (4): 466–482. doi:10.1002/ppp3.10314. ISSN 2572-2611. S2CID 251991010.
- ↑ Gao L, Guan K, He L, Jiang C, Wu X, Lu X, Ainsworth EA (15 November 2024). "Tropospheric ozone pollution increases the sensitivity of plant production to vapor pressure deficit across diverse ecosystems in the Northern Hemisphere". Science of the Total Environment. 951 175748. Bibcode:2024ScTEn.95175748G. doi:10.1016/j.scitotenv.2024.175748. PMID 39182770. Diakses tanggal 3 April 2026.
- ↑ Corlett, Richard T. (February 2016). "Plant diversity in a changing world: Status, trends, and conservation needs". Plant Diversity (dalam bahasa Inggris). 38 (1): 10–16. Bibcode:2016PlDiv..38...10C. doi:10.1016/j.pld.2016.01.001. PMC 6112092. PMID 30159445.
- ↑ Byrne B, Liu J, Bowman KW, Pascolini-Campbell M, Chatterjee A, Pandey S, Miyazaki K, Van Der Werf GR, Wunch D, Wennberg PO, Roehl CM, Sinha S (28 August 2024). "Carbon emissions from the 2023 Canadian wildfires". Nature. 633 (8031): 835–839. Bibcode:2024Natur.633..835B. doi:10.1038/s41586-024-07878-z. PMC 11424480. PMID 39198654.
- ↑ Latterini, Francesco; Mederski, Piotr; Jaeger, Dirk; Venanzi, Rachele; Tavankar, Farzam; Picchio, Rodolfo (2023-02-28). "The Influence of Various Silvicultural Treatments and Forest Operations on Tree Species Biodiversity". Current Forestry Reports. 9 (1): 59–71. Bibcode:2023CForR...9...59L. doi:10.1007/s40725-023-00179-0. S2CID 257320452. Diakses tanggal 2023-04-29.
- ↑ Rozendaal, Danaë M. A.; Bongers, Frans; Aide, T. Mitchell; Alvarez-Dávila, Esteban; Ascarrunz, Nataly; Balvanera, Patricia; Becknell, Justin M.; Bentos, Tony V.; Brancalion, Pedro H. S.; Cabral, George A. L.; Calvo-Rodriguez, Sofia; Chave, Jerome; César, Ricardo G.; Chazdon, Robin L.; Condit, Richard (March 2019). "Biodiversity recovery of Neotropical secondary forests". Science Advances (dalam bahasa Inggris). 5 (3) eaau3114. Bibcode:2019SciA....5.3114R. doi:10.1126/sciadv.aau3114. ISSN 2375-2548. PMC 6402850. PMID 30854424.
- 1 2 Tickner D, Opperman JJ, Abell R, Acreman M, Arthington AH, Bunn SE, Cooke SJ, Dalton J, Darwall W, Edwards G, Harrison I, Hughes K, Jones T, Leclère D, Lynch AJ, Leonard P, McClain ME, Muruven D, Olden JD, Ormerod SJ, Robinson J, Tharme RE, Thieme M, Tockner K, Wright M, Young L (April 2020). "Bending the Curve of Global Freshwater Biodiversity Loss: An Emergency Recovery Plan". BioScience. 70 (4): 330–342. doi:10.1093/biosci/biaa002. PMC 7138689. PMID 32284631.
- ↑ Reid, Andrea J.; Carlson, Andrew K.; Creed, Irena F.; Eliason, Erika J.; Gell, Peter A.; Johnson, Pieter T. J.; Kidd, Karen A.; MacCormack, Tyson J.; Olden, Julian D.; Ormerod, Steve J.; Smol, John P.; Taylor, William W.; Tockner, Klement; Vermaire, Jesse C.; Dudgeon, David (2019). "Emerging threats and persistent conservation challenges for freshwater biodiversity". Biological Reviews (dalam bahasa Inggris). 94 (3): 849–873. doi:10.1111/brv.12480. ISSN 1464-7931. PMID 30467930.
- ↑ Harvey F (February 23, 2021). "Global freshwater fish populations at risk of extinction, study finds". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 15, 2022. Diakses tanggal February 24, 2021.
- 1 2 3 4 Sala E, Knowlton N (2006). "Global Marine Biodiversity Trends". Annual Review of Environment and Resources. 31 (1): 93–122. doi:10.1146/annurev.energy.31.020105.100235.
- ↑
- ↑ Briand, F. (October 2012). "Species Missing in Action – Rare or Already Extinct?". National Geographic.
- ↑ Worm B, Barbier EB, Beaumont N, Duffy JE, Folke C, Halpern BS, Jackson JB, Lotze HK, Micheli F, Palumbi SR, Sala E, Selkoe KA, Stachowicz JJ, Watson R (November 2006). "Impacts of biodiversity loss on ocean ecosystem services". Science. 314 (5800): 787–90. Bibcode:2006Sci...314..787W. doi:10.1126/science.1132294. JSTOR 20031683. PMID 17082450. S2CID 37235806.
- ↑ Gamfeldt L, Lefcheck JS, Byrnes JE, Cardinale BJ, Duffy JE, Griffin JN (2015). "Marine biodiversity and ecosystem functioning: what's known and what's next?". Oikos. 124 (3): 252–265. Bibcode:2015Oikos.124..252G. doi:10.1111/oik.01549. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 14, 2021. Diakses tanggal April 24, 2021.
- ↑ Halpern BS, Frazier M, Potapenko J, Casey KS, Koenig K, Longo C, Lowndes JS, Rockwood RC, Selig ER, Selkoe KA, Walbridge S (July 2015). "Spatial and temporal changes in cumulative human impacts on the world's ocean". Nature Communications. 6 (1) 7615. Bibcode:2015NatCo...6.7615H. doi:10.1038/ncomms8615. PMC 4510691. PMID 26172980.
- ↑ Doney, Scott C.; Fabry, Victoria J.; Feely, Richard A.; Kleypas, Joan A. (2009). "Ocean Acidification: The Other CO2 Problem". Annual Review of Marine Science (dalam bahasa Inggris). 1: 169–192. doi:10.1146/annurev.marine.010908.163834. PMID 21141034.
- ↑ Georgian, Samuel; Hameed, Sarah; Morgan, Lance; Amon, Diva J.; Sumaila, U. Rashid; Johns, David; Ripple, William J. (2022). "Scientists' warning of an imperiled ocean". Biological Conservation. 272 109595. Bibcode:2022BCons.27209595G. doi:10.1016/j.biocon.2022.109595. S2CID 249142365.
- ↑ Carlton, J. T.; Vermeij, G. J.; Lindberg, D. R.; Carlton, D. A.; Dubley, E. C. (1991). "The First Historical Extinction of a Marine Invertebrate in an Ocean Basin: The Demise of the Eelgrass Limpet Lottia alveus". The Biological Bulletin (dalam bahasa Inggris). 180 (1): 72–80. doi:10.2307/1542430. ISSN 0006-3185. JSTOR 1542430. PMID 29303643. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 23, 2023. Diakses tanggal March 23, 2023.
- ↑ Lughadha, Eimear Nic; Bachman, Steven P.; Leão, Tarciso C. C.; Forest, Félix; Halley, John M.; Moat, Justin; Acedo, Carmen; Bacon, Karen L.; Brewer, Ryan F. A.; Gâteblé, Gildas; Gonçalves, Susana C.; Govaerts, Rafaël; Hollingsworth, Peter M.; Krisai-Greilhuber, Irmgard; de Lirio, Elton J.; Moore, Paloma G. P.; Negrão, Raquel; Onana, Jean Michel; Rajaovelona, Landy R.; Razanajatovo, Henintsoa; Reich, Peter B.; Richards, Sophie L.; Rivers, Malin C.; Cooper, Amanda; Iganci, João; Lewis, Gwilym P.; Smidt, Eric C.; Antonelli, Alexandre; Mueller, Gregory M.; Walker, Barnaby E. (29 September 2020). "Extinction risk and threats to plants and fungi". Plants People Planet (dalam bahasa Inggris). 2 (5): 389–408. Bibcode:2020PlPP....2..389N. doi:10.1002/ppp3.10146. hdl:10316/101227. S2CID 225274409.
- ↑ Wiens, John J.; Zelinka, Joseph (2024-01). "How many species will Earth lose to climate change?". Global Change Biology (dalam bahasa Inggris). 30 (1). doi:10.1111/gcb.17125. ISSN 1354-1013.
Pranala luar
- Anup Shah (2014). "Loss of Biodiversity and Extinctions". globalissues.org.
- "How does Biodiversity loss affect me and everyone else?". panda.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-17. Diakses tanggal 2020-11-25.
- "TOPICS IN BIODIVERSITY LOSS". Global Change Project of the Paleontological Research Institution. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-12-19. Diakses tanggal 2017-01-24.
- "Forests, desertification and biodiversity". United Nations Sustainable Development. Diakses tanggal 2018-03-05.
- "Climate Change and Biodiversity Loss". Center for Health and the Global Environment. 2017-07-19. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-03-06. Diakses tanggal 2018-03-05.
- "Harry Furzers guide to the galaxy". Harry Furzers dungeon of science information. 2018-07-19. Diakses tanggal 2018-03-05.[pranala nonaktif permanen]
- "How Overpopulation Leads to Habitat Loss and Mass Extinction". Max Katz-Balmes.
- "Biodiversity loss could be making us sick – here's why". The Conversation. August 4, 2020.
- Global Biodiversity Outlook Convention on Biological Diversity
- Biodiversity: Why the nature crisis matters, in five graphics. BBC, September 30, 2020
| Basis data pengawasan otoritas: Nasional |
|---|