Armourers RAF memuat amunisi untuk digunakan melawan teroris komunis.
Pertemuan pengukuhan masyarakat kooperatif yang dibentuk oleh warga sipil Tionghoa yang dimukimkan kembali. Bersama mereka adalah pejabat dari Departemen Federal Koperasi Masyarakat, pekerja kesejahteraan dan polisi.
Penduduk tewas: 2,478 Penduduk hilang: 810 Korban sipil: 5,000+ Total tewas: 11,107
Kedaruratan Malaya adalah keadaan darurat (state of emergency) yang dinyatakan oleh pemerintahan kolonial Britania di Malaya tahun 1948 dan diberhentikan tahun 1960. Pertempuran terjadi antara tentara gerilya dan tentara pemerintah.
Pemberontakan Komunis di Malaya pada awalnya mulai di Sungai Siput, Perak, Malaysia pada pagi hari tanggal 16 Juni 1948. Pasukan Kolonial Inggris atau Malaya Britania menyadari aksi pemberontakan Komunis itu pada tanggal 18 Juni 1948.[1]
Pada tahun 1948 – 1955, Partai Komunis Malaya atau PKM memiliki banyak pasukan di seluruh negara bagian di Malaya, yakni sekitar 7.000 tentara – 8.000 tentara dari Tentara Pembebasan Nasional Malaya dengan dukungan suplai dari Min Yuen, Simpatisan dari Min Yuen sendiri sekitar 1.000.000 (1 juta) jiwa. Wilayah aktif PKM pada saat itu ada di Malaka, Pulau Pinang, Johor, Hulu Perak, Pahang, dan Kelantan dengan Markas utama berada di Betong, Pahang, Malaya Britania. Partai Komunis Malaya pada tahun 1948 hingga 1953 aktif di sekitaran Gunung Benom (terutama Bentong, Raub, Temerloh, Tekal, dan Jerantut) sebelum pergi ke wilayah Utara Semenanjung Malaysia atau Perbatasan Malaysia dengan Thailand pada tahun 1953 akibat tekanan dari Pemerintah Kerajaan Inggris di Malaya saat itu. Sebelum mundur ke perbatasan Malaysia-Thailand, Partai Komunis Malaya seringkali menyerang estet atau perkebunan yang dilakukan diam-diam dan menggunakan taktik Hit and Run yang berada di sekitaran Gunung Benom.[1]
Pada tahun 1955, Di Baling, Kedah. Terjadi nya Perundingan Baling yang di hadiri oleh Chin Peng, Rashid Maidin, dan Chen Tien sebagai perwakilan dari PKM, dan Tunku Abdul Rahman, David Saul Marshall, dan Tan Cheng Lock sebagai perwakilan kerajaan. Rundingan tersebut bertujuan untuk Menghentikan Darurat Malaya, Membubarkan PKM, dan Membuat kedamaian di Tanah Melayu atau Malaya. Rundingan itu awal nya terlihat berjalan dengan lancar, tetapi Chin Peng ingin PKMdiakui dan disahkan sebagai Partai Politik yang resmi di Malaya. Jika tidak, maka darurat akan terus dilanjutkan sampai seorang pasukan terakhir dan Rundingan Baling gagal karena jurang pemisah masih terlalu lebar.[1]
Pada tahun 1956 – 1960, Partai Komunis Malaya mengalami tekanan logistik besar-besaran karena perpindahan warga desa/kampung ke wilayah aman/perkotaan. Mereka berusaha mencari dukungan dengan Republik Rakyat Tiongkok karena dukungan dari Pekerja/Buruh di Malaya menurun.[1]
Setelah Kedaruratan Malaya selesai, Partai Komunis Malaya berusaha dukung dari petani, pekerja, dan warga miskin di wilayah Semenanjung Malaysia Utara dan Thailand Selatan sebelum kembali mengangkat senjata pada Tahun 1968.[1]