Serdadu Jepang yang tetap tinggal (Jepang:残留日本兵code: ja is deprecated ; zanryū nipponhei) adalah tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (IJA) dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) di Teater PasifikPerang Dunia II yang terus bertempur setelah Jepang menyerahdi akhir perang karena berbagai alasan. Tentara Jepang yang bertahan meragukan bahwa Jepang telah menyerah, tidak menyadari bahwa perang telah berakhir karena komunikasi terputus oleh serangan Sekutu, takut mereka akan dieksekusi jika menyerah kepada pasukan Sekutu, atau merasa terikat oleh kehormatan dan kesetiaan untuk tidak pernah menyerah.
Setelah Jepang resmi menyerah pada 2 September 1945, pasukan Jepang yang bertahan di Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik yang pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Jepang terus melawan polisi setempat, pasukan pemerintah, dan pasukan Sekutu yang ditempatkan untuk membantu pemerintahan yang baru dibentuk. Selama hampir 30 tahun setelah berakhirnya perang, puluhan pasukan bertahan ditemukan di hutan-hutan Asia Tenggara dan Pasifik, dengan pasukan bertahan terakhir yang terverifikasi, Prajurit Teruo Nakamura, menyerah di Pulau Morotai pada tahun 1974.[1] Meskipun surat kabar di seluruh Asia Timur dan Pasifik melaporkan lebih banyak pasukan bertahan dan pencarian berlanjut hingga tahun 2005, tidak ada lagi pasukan bertahan yang ditemukan.
Tentara Jepang yang memisahkan diri setelah berakhirnya Perang Dunia II
1945-1949
Kapten Sakae Oba, yang memimpin kompi 46 orangnya dalam aksi-aksi gerilya melawan pasukan AS setelah Pertempuran Saipan, tidak menyerah sampai 1 Desember1945, tiga bulan setelah perang berakhir.
Mayor Sei Igawa (井 川 省) menjadi sukarelawan perwira staf dan komandan Viet Minh di Vietnam. Igawa tewas dalam pertempuran dengan pasukan Prancis pada tahun 1946.[2][3]
Letnan Angkatan Laut Hideo Horiuchi (堀 内 秀雄) menjadi sukarelawan Letnan Kolonel pejuang kemerdekaan sukarela Indonesia. Horiuchi ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda pada tanggal 13 Agustus1946 saat luka-lukanya dirawat di sebuah desa setelah pertempuran dengan pasukan Belanda.
Letnan Ei Yamaguchi dan 33 prajuritnya muncul pada Peleliu pada akhir Maret 1947, menyerang detasemen Marinir yang ditempatkan di pulau itu. Bala bantuan kemudian dikirim bersama dengan seorang laksamana Jepang yang mampu meyakinkan mereka bahwa perang telah berakhir. Mereka akhirnya menyerah pada bulan April 1947.
Rahmat Shigeru Ono, Tentara Jepang yang memilih untuk mendukung Kemerdekaan Indonesia demi memenuhi janji Bangsanya yaitu Mengusir bangsa Barat dan Menganggap Jepang adalah Saudara sebangsa. Janjinya baru terpenuhi saat dirinya memutuskan untuk meninggalkan Jepang dan berjuang dalam Perang Kemerdekaan Indonesia
1950
Mayor Takuo Ishii (石井卓 雄) terus berjuang sebagai penasihat Viet Minh di Vietnam, perwira staf dan komandan. Ishii tewas dalam pertempuran dengan pasukan Prancis pada tanggal 20 Mei1950.[4][5]
Prajurit Satu Yuichi Akatsu terus berperang di Pulau Lubang dari 1944 sampai menyerah di desa Filipina dari Looc. Pada Maret 1950.[6]
Kopral Shoichi Shimada (岛 田庄 一) terus bertempur di Pulau Lubang sampai ia terbunuh dalam bentrokan dengan tentara Filipina bulan Mei 1954.[7]
Letnan Kikuo Tanimoto menjadi sukarelawan sebagai penasihat dan komandan Viet Minh di Vietnam. Tanimoto kembali ke Jepang pada tahun 1954, setelah kemerdekaan Vietnam.
1960
Prajurit Bunzō Minagawa bertahan dari 1944 sampai bulan Mei 1960 di Guam.[8]
Kopral Shoichi Yokoi, yang bertugas di bawah Ito, ditangkap di Guam pada bulan Januari 1972.[10]
Prajurit Satu Kinshichi Kozuka bertahan dengan Onoda selama 28 tahun sampai ia terbunuh dalam sebuah baku tembak dengan polisi Filipina pada Oktober 1972.[11]
Letnan Hiroo Onoda, yang bertahan dari Desember 1944 sampai Maret 1974 di Pulau Lubang di Filipina dengan Akatsu, Shimada dan Kozuka, menyerah kepada mantan komandannya di bulan Maret 1974.[7]