Pace adalah sebuah kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Nganjuk, ProvinsiJawa Timur, Indonesia.[1][2] Pace memiliki lokasi yang strategis karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri dan dilewati jalan provinsi yang menghubungkan Kediri dengan Nganjuk Kota. Pusat ekonomi Pace adalah Pasar Pahing di Desa Pacekulon. Geografi Pace berupa dataran rendah yang didominasi persawahan di sebelah utara sedangkan di sebelah selatan banyak perbukitan dan mulai banyak ditemukan perkebunan jati.[3] Kecamatan Pace adalah lokasi terciptanya kesenian asli Nganjuk yaitu wayang timplong tepatnya di Desa Jetis.[4]
Sejarah
Era Kecamatan Pace (Abad ke-17 - ke-19). Awal Mula: Kecamatan Pace bermula dari sebuah Kadipaten yang didirikan sekitar abad ke-17. Wilayah ini dibuka oleh Tumenggung Wirosroyo (juga dikenal sebagai KRT Hirosroyo), seorang pengikut Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam yang melakukan perjalanan ke arah timur pasca-perang. Pusat Pemerintahan: Wilayah Pace Kulon awalnya merupakan pusat administrasi tradisional kadipaten ini sebelum akhirnya berkembang menjadi pemukiman yang lebih luas.Status Otonom: Pada masa lalu, Kadipaten Pace berdiri sendiri sebagai entitas pemerintahan sebelum akhirnya mengalami reorganisasi di bawah pengaruh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang menyatukan beberapa kabupaten kecil (seperti Berbek dan Glocok) menjadi wilayah Nganjuk.
Asal-usul Nama dan Legenda Lokal. Nama "Pace": Secara harfiah, nama ini merujuk pada buah Pace (mengkudu), namun secara historis melambangkan identitas wilayah kadipaten lama yang pernah berdaulat. Kisah Desa Jampes: Nama desa di Pace seperti Jampes memiliki sejarah unik, berasal dari kata "Campes" (apes). Konon, para penjahat atau pencuri selalu bernasib buruk atau "apes" ketika memasuki wilayah ini. Di desa ini juga terdapat makam tokoh legendaris Maling Sondong. Babat Desa Pace Wetan: Menurut cerita rakyat, berdirinya Desa Pace Wetan tidak lepas dari perjuangan dua tokoh bernama M. Kuat dan M. Bejo.
Warisan Budaya dan Kesenian. Pace juga dikenal sebagai tempat lahirnya kekayaan budaya unik Kabupaten Nganjuk: Wayang Timplong: Kesenian khas Nganjuk ini diciptakan oleh Mbah Bancol yang berasal dari Dusun Kedungbajul, Desa Jetis, Kecamatan Pace. Wayang ini berbeda dari wayang kulit karena terbuat dari kayu pipih (mirip wayang klithik). Tradisi Sedekah Bumi: Hingga kini, masyarakat Pace masih rutin mengadakan ritual Suroan atau Sedekah Bumi di lokasi-lokasi keramat seperti Makam Sentono untuk menghormati jasa KRT Wirosroyo.
Perkembangan Administrasi Modern. Pusat Ekonomi: Wilayah ini berkembang menjadi pusat perdagangan penting dengan adanya Pasar Pahing di Pacekulon yang menjadi titik temu pedagang dari berbagai daerah di Nganjuk dan Kediri. Struktur Saat Ini: Kecamatan Pace kini mencakup 18 desa dengan luas wilayah dan kepadatan penduduk yang menjadikannya salah satu penyangga ekonomi utama di Kabupaten Nganjuk. Informasi tata kelola saat ini dapat dipantau melalui Portal Kecamatan Pace.#[5]
Geografi
Peta Pace
Bagian timur dan utara Kecamatan Pace terletak di dataran rendah dengan lahan yang didominasi persawahan sedangkan bagian selatan berupa perbukitan. Desa paling utara adalah Kepanjen sedangkan desa paling selatan adalah Joho. Pace memiliki batas wilayah sebagai berikut