Myōkō lahir pada 31 Juli 1929 dan merupakan kakak sulung dari empat bersaudari kelas Myōkō. Bersama dengan adik-adiknya, ia membentuk "Sentai-4" yang menjadi bagian dari Armada Ketiga yang bermarkas di Sasebo dan berlatih sebagai satu unit sepanjang dekade 1930-an.[4] Saat Insiden Shanghai Pertama terjadi pada Februari 1932, kelas Myōkō yang harusnya mengawal pendaratan tentara Jepang ke China, harus diletakkan sebagai "cadangan" dengan munculnya keempat kapal penjelajah kelas Takao. Selain itu, mereka juga berpindah dari 'Skuadron Tempur ke-4' ke 'Skuadron Tempur ke-5'.[4]
Pada masa Kampanye Kepulauan Solomon, Myōkō ikut dalam operasi transportasi dan pasokan logistik tentara Jepang ke area Guadalkanal. Lalu bersama dengan Maya, ia ikut membombardir Lapangan Udara Henderson. Operasinya di wilayah itu berakhir dengan evakuasi semua tentara di wilayah Guadalkanal kembali ke Jepang. Myōkō juga membantu dalam Kampanye Kepulauan Aleut, tepatnya juga untuk proses evakuasi 11.700 tentara Jepang di wilayah itu.
Myōkō menjadi bagian dari Armada Kurita (Kekuatan Tengah) di mana ia harus keluar dari medan pertempuran setelah terluka parah karena terkena torpedo pada saat Pertempuran Laut Sibuyan yang menewaskan Musashi. Ia pun kembali ke Singapura untuk mendapatan perbaikan darurat, lalu berencana untuk kembali ke Jepang agar perbaikannya lebih sempurna. Namun, di tengah jalan ia kembali terkena satu torpedo dari USSBergall dan membuatnya harus dibantu Ushio (yang menghalau mundur kapal selam tersebut) untuk kembali ke Singapura.