Dibangun di Sasebo dan selesai pada 14 Juli 1919, Kuma merupakan kakak sulung dari kelima bersaudari kelas Kuma sekaligus menjadi kapal pertama yang menjadi versi revisi dari kelas Tenryuu yang konsep desainnya dipandang banyak memiliki kelemahan.[3]Kuma memiliki ciri khas dibanding adik-adiknya yang lain, yakni ia memiliki topi corong tambahan dari tahun 1929.[4]
Masa dinas
Segera setelah ditugaskan secara resmi pada 31 Agustus 1920, Kuma terlibat dalam peristiwa Intervensi Siberia melawan Tentara MerahBolshevik. Ia berperan mengawal pendaratan tentara Jepang di tanah Rusia. Setelahnya ia ditempatkan di Port Arthur dan banyak berpatroli di perairan Laut China Utara. Hampir semua kapal dalam kelas Kuma memiliki pola karier militer yang sama sebelum terjadinya Perang Dunia 2. Perbedaannya, hanya Kuma saja yang ikut dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua untuk mengawal pendaratan tentara Jepang ke China.[5]
Pada awal masa penyerangan ke Pearl Harbor, Kuma berpartisipasi dalam beberapa operasi berkelanjutan dalam menginvasi Filipina, mulai dari bagian utara sampai dengan selatan.[6] Setelahnya, ia lebih banyak ditugaskan untuk berpatroli di daerah Hindia Belanda dan Papua Nugini saja. Pada awalnya, ia lebih banyak berlayar di perairan Makassar sampai Papua Nugini, tetapi area patrolinya semakin luas ke arah Singapura, Kepulauan Andaman, dan Port Blair.[6]
Nasib
Kariernya sendiri berakhir pada saat sedang melakukan pelatihan anti-kapal-selam bersama dengan Uranami, pada 11 Januari 1944 di sebelat barat Penang, dimana kapal selam HMSTally-Ho
berhasil mendaratkan dua dari tujuh tembakan torpedonya ke badan Kuma dan menyebabkannya tenggelam akibat ledakan peledak kedalamannya sendiri yang sebelumnya terkena rembetan api dari kebakaran karena torpedo dari Tally-Ho.[7]
Uranami mengangkut para korban yang selamat, termasuk Kapten Sugino, tapi 138 kru Kuma yang lain tewas bersamanya.[7]Kuma dihapus dari daftar kapal pada 10 Maret 1944.
Penemuan bangkai
Reruntuhan kapalnya ditemukan pada Maret 2004 oleh Kevin Denlay beserta timnya. Namun 1 dasawarsa berselang, ada rumor bahwa ada pihak tak bertanggung jawab menjarah besi tua sejumlah kapal, termasuk Kuma.[8] Dan kabar lanjutannya, kemungkinan kapal reruntuhannya Kuma nyaris seluruhnya hilang diambil oleh mereka.
Jentsura, Hansgeorg (1976). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869-1945. Annapolis, MD: Naval Institute Press. ISBN0-87021-893-X.
Lacroix, Eric; Linton Wells (1997). Japanese Cruisers of the Pacific War. Naval Institute Press. ISBN0-87021-311-3.
Morrison, Samuel (2002). New Guinea and the Marianas: March 1944 - August 1944 (History of United States Naval Operations in World War II, Volume 8). University of Illinois. ISBN0-252-07038-0.
O’Connell, John F (2011). Submarine Operational Effectiveness in the 20th Century: 1939 - 1945). iUniverse Publishing. ISBN1-4620-4257-0.
Stille, Mark (2012). Imperial Japanese Navy Light Cruisers 1941-45. Osprey. ISBN1-84908-562-5.
Whitley, M.J. (1995). Cruisers of World War Two: An International Encyclopedia. Naval Institute Press. ISBN1-55750-141-6.