Kanabidiol adalah senyawa kimia yang ada dalam tanaman Kanabis, atau lebih dikenal sebagai ganja atau mariyuana. Di Indonesia, ganja dianggap ilegal dan termasuk ke dalam obat-obatan terlarang.
Kanabidiol juga memiliki efek antipsikotik, tetapi para ahli menduga efek antipsikotik tersebut digunakan untuk mencegah pemecahan bahan kimia di otak yang memengaruhi rasa sakit dan suasana hati. Hal ini dapat membantu memperbaiki suasana hati pada penderita gangguan kejiwaan, salah satunya skizofrenia. Kanabidiol juga dapat memblokir efek psikoaktif tetrahidrokanabinol, sehingga mengurangi nyeri dan kecemasan.
Manfaat
Penggunaan ganja memang kontroversial. Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa dari segi medis, ada banyak manfaat kanabidiol yang bisa diperoleh, di antaranya:
Sklerosis multipel
Obat semprot hidung yang mengandung tetrahidrokanabinol dan kanabidiol telah terbukti efektif dapat mengurangi nyeri, ketegangan otot, dan buang air kecil pada penderita sklerosis multipel.
Gangguan otot (distonia)
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi kanabidiol setiap hari selama 6 minggu dapat menurunkan gangguan otot sebanyak 20-50%. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan manfaat kanabidiol ini.
Insomnia
Minum 160 miligram (mg) kanabidiol sebelum tidur dapat meningkatkan kualitas tidur pada penderita insomnia. Namun, dosis yang lebih rendah dari ini mungkin tidak memberikan efek yang signifikan.
Penyakit Parkinson
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mengonsumsi kanabidiol setiap hari selama 4 minggu dapat mengatasi gejala psikotik, khususnya pada penderita Parkinson dan psikosis.
Skizofrenia
Suatu penelitian menemukan bahwa mengonsumsi kanabidiol 4 kali sehari selama 4 minggu dapat mengatasi gejala psikotik. Bahkan, pengaruhnya hampir sama efektifnya dengan obat antipsikotik berupa amisulpride. Namun, tingkat keefektifannya tetap ditentukan oleh dosis kanabidiol dan lama perawatannya.
Berhenti merokok
Sebuah studi mengungkapkan bahwa menghirup kanabidiol melalui alat isap selama seminggu dapat mengurangi kebiasaan merokok. Penurunannya pun terbilang cukup signifikan, yaitu 40% membuat berhenti merokok.
Efek samping
Kanabidiol cenderung aman dikonsumsi secara oral dan hanya untuk orang dewasa saja. Namun, kanabidiol tetap seperti obat lainnya yang memiliki efek samping.
Beberapa efek samping kanabidiol adalah:
Mulut kering
Tekanan darah rendah
Sakit kepala ringan
Mengantuk
Tremor
Gampang marah atau sensitif
Kelelahan
Suara serak
Batuk
Demam
Sakit pinggang
Dosis
Dosis kanabidiol berbeda-beda bagi seseorang, tergantung dari kondisi kesehatan dan penyakit yang diderita. Berikut ini dosis kanabidiol secara umum, yaitu:
Dosis 300mg setiap hari, maksimal selama 6 bulan.
Dosis 1200–1500mg setiap hari, maksimal 4 minggu.
Dosis 2,5mg kanabidiol yang disemprotkan ke bawah lidah sebanyak 2 kali sehari, maksimal 2 minggu. Dosis ini umumnya diberikan untuk penderita penyakit multiple sklerosis multipel atau epilepsi.
Interaksi
Potensi interaksi obat terjadi ketika digunakan secara bersamaan dengan obat lain, sehingga dapat mengubah cara kerja obat herbal. Sebagai akibatnya, obat herbal tidak bekerja dengan maksimal atau bahkan menimbulkan racun yang membahayakan tubuh.
Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat apa saja yang sedang dikonsumsi dan beri tahukan kepada dokter. Berikut adalah interaksi kanabidiol dengan obat-obatan lainnya, yakni:
Klobazam mengurangi kecepatan organ hati dalam mengurai obat klobazam. Hal ini dapat meningkatkan efek samping klobazam dalam tubuh.
Rufinamida, topiramat, dan zonisamida diuraikan di dalam tubuh untuk diserap. Konsumsi bersamaan dengan kanabidiol dapat mengganggu proses ini. Akibatnya, kadar rufinamida, topiramat, dan zonisamida meningkat di dalam tubuh.
↑Mechoulam R, Parker LA, Gallily R (November 2002). "Cannabidiol: an overview of some pharmacological aspects". Journal of Clinical Pharmacology. 42 (11 Suppl): 11S –19S. doi:10.1002/j.1552-4604.2002.tb05998.x. PMID12412831.
↑Scuderi C, Filippis DD, Iuvone T, Blasio A, Steardo A, Esposito G (May 2009). "Cannabidiol in medicine: a review of its therapeutic potential in CNS disorders". Phytotherapy Research (Review). 23 (5): 597–602. doi:10.1002/ptr.2625. PMID18844286.