Kampung Arab Al Munawar adalah sebuah kampung wisata yang terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang, Sumatera Selatan. Kampung ini berada di tepi Sungai Musi yang oleh sebagian masyarakat setempat disebut sebagai "laot" atau laut. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu permukiman tua keturunan Arab di Palembang. Di kampung ini terdapat berbagai keturunan Arab, antara lain Assegaf, Al-Habsy, Al-Kaaf, Hasny, dan Syahab.[1]
Kampung Arab Al Munawar menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di Palembang. Pada tahun 2018, kawasan ini sempat ditata untuk menonjolkan potensi wisata, terutama dalam rangka penyelenggaraan Asian Games 2018. Penataan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan budaya dan kehidupan masyarakat keturunan Arab di Palembang kepada wisatawan.[2]
Kampung Arab Al Munawar dapat dikunjungi setiap hari, kecuali hari Jumat, mulai pukul 08.30 hingga 17.00 WIB.
Sejarah
Selain di Surabaya, Palembang juga memiliki kampung yang dihuni oleh penduduk keturunan Timur Tengah. Kampung Arab Al Munawar telah ada sejak masa kolonial Belanda. Nama kampung ini disebut berasal dari tokoh sepuh bernama Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawar. Ia kemudian menjadi pemimpin setelah pihak Belanda melakukan pendekatan kepada komunitas Arab di Palembang. Habib Hasan Abdurrahman Al-Munawar diberi pangkat kapten dan wafat pada tahun 1970.
Penduduk dan geografi
Kampung Arab Al Munawar dihuni oleh sekitar 30 kepala keluarga yang merupakan keturunan Arab. Kawasan permukiman Arab di Palembang berada di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir maupun Ulu. Kampung Arab Al Munawar sendiri terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang.
Arsitektur rumah
Salah satu keunikan Kampung Arab Al Munawar adalah bangunan rumahnya. Setidaknya terdapat delapan rumah yang menjadi bagian dari cagar budaya di kawasan ini. Rumah-rumah tersebut antara lain dikenal dengan sebutan rumah tinggi, rumah darat, rumah tipe indie, rumah kembar darat, dan rumah kembar laut. Beberapa bangunan disebut telah berusia lebih dari 300 tahun.
Bangunan-bangunan tua di Kampung Arab Al Munawar tetap dirawat secara rutin untuk menjaga nilai sejarah dan kearifan lokalnya. Ciri khas rumah di kawasan ini antara lain penggunaan warna putih yang dipadukan dengan hijau, ungu, dan merah jambu. Sebagian rumah memiliki ornamen bergaya Timur Tengah dan pengaruh Eropa yang masih tampak klasik. Selain itu, terdapat pula bangunan yang memperlihatkan pengaruh arsitektur lokal, seperti bentuk rumah limas, rumah adat Sumatera Selatan.
Rumah-rumah di kampung ini umumnya memiliki jendela dan pintu berukuran besar. Sebagian besar material kayunya menggunakan kayu ulin tua yang masih kuat. Ciri lainnya adalah bentuk rumah panggung dengan lantai bawah berbahan marmer bermotif tradisional. Marmer tersebut disebut didatangkan dari Italia. Pada bagian atas rumah terdapat ukiran kayu, sementara beberapa bangunan juga memiliki kubah bergaya Turki yang menghadap ke Sungai Musi.[3]
Budaya dan kuliner
Kegiatan kesenian tradisional seperti gambus menjadi salah satu unsur budaya yang dikenal di Kampung Arab Al Munawar. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada hari-hari tertentu, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad, bulan Ramadan, dan Tahun Baru Islam.
Kampung ini juga dikenal dengan kuliner khas Arab, seperti nasi kebuli yang disajikan dengan campuran kismis dan berbagai lauk, antara lain gulai kambing, kari kambing, ayam gulai, selado, acar nanas, sambal, serta kopi khas buatan warga kampung. Pengunjung juga dapat menikmati tradisi makan bersama secara lesehan dengan nuansa Arab.[3]
Kehidupan keagamaan
Kampung Arab Al Munawar dikenal sebagai salah satu lingkungan yang kuat dengan pendidikan agama Islam. Di kawasan ini, hari Jumat menjadi hari libur sekolah, sedangkan kegiatan sekolah tetap berlangsung pada hari Minggu.
Terdapat pula tradisi masyarakat setempat yang tidak memperbolehkan anak perempuan menikah dengan laki-laki dari luar kampung, sementara laki-laki diperbolehkan menikah dengan perempuan dari luar kampung. Selain aturan bagi penduduk, terdapat pula ketentuan bagi pengunjung, seperti mengenakan pakaian sopan dan menutup aurat. Pengunjung yang belum menikah juga dilarang berfoto berdua atau duduk berduaan.[3]