Karkono lahir di Sragen, Keresidenan Surakarta, Hindia Belanda, pada 23 November 1915. Ia meraih pendidikan pada tingkat SMP di dekat Surakarta, kemudian melanjutkan pembelajarannya di sekolah Taman Siswa untuk guru di Yogyakarta.[3][4] Meskipun ia menyelesaikan program tersebut, Karkono tidak pernah menjadi guru. Kemudian, ia mengembangkan pemahamannya dalam penulisan, mengirim beberapa karyanya ke surat kabar, majalah, dan periodikal gerakan pemuda.[5]
Karkono masuk jurnalisme pada 1934, ketika ia tercatat sebagai sutradara untuk Soeloeh Pemoeda Indonesia. Pada waktu itu, ia juga berkontribusi untuk Garuda Merapi, sebuah periodikal yang berbasis di Yogyakarta yang diterbitkan oleh Indonesia Moeda, serta Oetoesan Indonesia (di bawah pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto) dan Sedyo Tomo yang berbasis di Surakarta (di bawah pimpinan Raden Roedjito).[5] Pada publikasi terakhirnya, ia menulis artikel tentang Noto Soeroto, seorang figur berpengaruh dalam Istana Mangkunagaran. Artikel tersebut membuat Mangkunegara VII menulis sebuah dekrit yang mempersilahkan Karkono tinggal atau bekerja di wilayah Mangkunegaran, tetapi dekret tersebut tidak pernah dikeluarkan. Pada 1937, Karkono menjadi kepala Perantaraan, majalah Organisasi Alumni Taman Siswa.[6] Pada waktu itu, ia mengambil nama pena Kamadjaja, yang diambil dari Dewa Cinta dalam kakawin Jawa Smaradahana.[7]
Kamadjaja berkarya di Perantaraan selama dua tahun. Pada 1939, ia menjadi redaktur majalah kebudayaan Poestaka Timoer, bekerja bersama dengan Andjar Asmara. Ia berkarya pada majalah tersebut sampai 1941, ketika ia berpindah ke ibu kota kolonial Batavia (sekarang Jakarta) dan mendirikan majalah film Pertjatoeran Doenia dan Film bersama dengan B.M. Diah dan Nasrun Angkat Sultan.[6][8] Ketika Berita Oemoem, sebuah publikasi konservatif yang dikepalai oleh Soekardjo Wirjopranoto dan Winarno Hendronoto, berpindah dari Bandung ke Batavia, Kamadjaja diangkat sebagai redaktur .[6]
Setalah peristiwa perkosaan Sum Kuning di Yogya, tahun 1970, ia menerbitkan buku Sum Kuning bersama dengan tim pembela dan wartawan Pelopor Yogya yang kini bekerja di majalah Tempo, Slamet Djabarudi.[9]
"K dari Ensiklopedi Pers Indonesia" (dalam bahasa Indonesian). Reporters Association of Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-25. Diakses tanggal 25 March 2016. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Kamadjaja (1950). Solo Diwaktu Malam (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Gapura. OCLC22260659. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Mahayana, Maman S. (2007). Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: RajaGrafindo Persada. ISBN978-979-769-115-8. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Perawan Desa". Filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Konfiden Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-26. Diakses tanggal 26 March 2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Soebagijo I.N. (1981). Jagat Wartawan Indonesia (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Gunung Agung. OCLC7654542. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Solo Di Waktu Malam". Filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Konfiden Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-25. Diakses tanggal 25 March 2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Bacaan tambahan
Apa dan Siapa H. Karkono Kamajaya Pk.: Kenangan Ulang Tahun ke-80, 23 Nopember 1915 s/d 23 Nopember 1995 (dalam bahasa Indonesian). Yogyakarta: Ikatan Penerbit Indonesia. 1995. OCLC34973613.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)