Kadipaten Sumenep (sering dikenal sebagai Kadipaten Madura Timur atau Madura Wetan), adalah sebuah monarki yang pernah menguasai bagian timur Pulau Madura (Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep sekarang) termasuk kepulauan-kepulauan di lepas pantai Selat Madura dan Laut Bali. Pusat pemerintahannya berada di Kota Sumenep sekarang.
Pada tahun 1559, pada masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Ario Kanduruwan, wilayah yang terletak di Madura Timur ini berada pada pengaruh Kesultanan Demak dan baru pada pemerintahan Pangeran Lor II yang berkuasa wilayah Kadipaten Sumenep berada di bawah pengawasan langsung Kesultanan Mataram. Sebelumnya ialah dari kesultanan Pajang yang bersaudara dari Kesultanan Demak yang berasal dari Keturunan Ronggolawe sampai Brawijaya Vll yaitu Raden Hadiwijaya atau Joko Tingkir kata lain Mas Karebet sekitaran Surakarta ketimur.
Selanjutnya pada tahun 1883, Pemerintah Hindia Belanda mulai menghapus sistem sebelumnya (keswaprajaan), kerajaan-kerajaan di Madura (Bangkalan dan Sumenep) dikelola langsung oleh Nederland Indische Regening dengan diangkatnya seorang Bupati. Semenjak itulah, sistem pemerintahan Kadipaten di Sumenep berakhir dan berubah menjadi pemerintahan Kabupaten.
Semenjak dahulu ekonomi daerah ini bergantung pada hasil laut dan pertanian, karena dari zaman pemerintahan Arya Wiraraja, daerah ini harus mengirimkan upeti kepada kerajaan diatasnya. Namun pada waktu Arya Wiraraja oleh Prabu Kertarajasa Jayawardhana diangkat sebagai penguasa Kerajaan Majapahit bagian timur yang berpusat di Lamajang, kadipaten ini dibebaskan dari segala upeti. Keadaan ini berlangsung sampai Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Rajasanegara.
Selain mata pencaharian penduduknya yang bergantung dari hasil pertanian yang kurang menguntungkan, mata pencaharian penduduknya sebagian besar juga bergelut dalam bidang kelautan, hal inilah yang kelak menciptakan pelau-pelaut tangguh dari Pulau Madura. Selain itu mata pencaharian penduduknya juga berupa hasil pertanian garam, pertanian garam sendiri berkembang pada masa pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Hasil bumi tersebut berpusat di sekitar Selat Madura tepatnya di Desa Pinggirpapas, Kalianget.
Pengaruh Kerajaan Majapahit terhadap pemerintahan Kadipaten Sumenep
Wilayah Sumenep mulai di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit semenjak awal pendirian pembangunnya, dengan rajanya Raden Wijaya yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana. Selain itu Arya Wiraraja yang semula menjadi Adipati Sumenep di bawah Kerajaan Singhasari diangkat sebagai adipati di wilayah timur Majapahit meliputi Blambangan dan Lamajhang, sesuai janji Prabu Kertarajasa Jayawardhana ketika meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dalam membabat tanah Jawa. Sebagai ganti kedudukannya di Sumenep, ditunjuklah adik dari Arya Wiraraja yang bernama Arya Bangah sebagai adipati selanjutnya di wilayah Kadipaten Sumenep dengan gelarnya Arya Wiraraja II. Pada masa pemerintahannya, wilayah Kadipaten Sumenep yang notabene sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Majapahit diberi keistimewaan dari dibebaskannya upeti sampai dengan pemerintahan Prabu Rajasanegara berkuasa atas Majapahit. Selanjutnya ketika Kerajaan Majapahit diperitah oleh Prabu Wikramawardhana, wilayah ini kembali diwajibkan menyetor upeti kepada Kerajaan Majapahit. Pada masa pengaruh Majapahit, wilayah Kadipaten Sumenep meliputi seluruh Pulau Madura den pulau-pulau yang ada di sekitarnya, seperti Pulau Sapudi, Kangean dan Masalembo.
Pengaruh Kesultanan Demak terhadap pemerintahan Kadipaten Sumenep
Pengaruh Kesultanan Demak secara resmi di Kadipaten Sumenep berlangsung sejak pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan sampai masa pemerintahan Raden Mas Anggadipa. Ketika di bawah pengaruh Kesultanan Demak, wilayah Sumenep diwajibkan membayar upeti kepada Ratu Japan sebagai wilayah yang melindunginya.
Pada masa-masa ini, kekuasaan wilayah Kadipaten Sumenep meliputi daerah Sumenep dan Pamekasan yang lebih dikenal dengan sebutan Madura Timur (Madura Wetan)
Pengaruh Kesultanan Mataram terhadap pemerintahan Kadipaten Sumenep
Pemerintahan Kadipaten Sumenep mulai dipengaruhi Kesultanan Mataram pada masa pemerintahan Raden Mas Anggadipa, tetapi sebelum dikuasainya wilayah Kadipaten Sumenep oleh Mataram, seluruh wilayah Madura bergejolak melawan penyerangan yang dilakukan oleh Mataram ke wilayah Madura. Penyerangan tersebut terjadi pada masa pemerintahan Pangeran Lor II beserta Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I.
Pengaruh Kesultanan Mataram begitu terasa di Kadipaten Sumenep sampai saat pembubarannya. Pengaruh yang paling besar adalah pola pemerintahannya dan tata ruang kotanya yang mirip dengan kota-kota kerajaan di Jawa.
Struktur Pemerintahan
Struktur pemerintahan di Kadipaten Sumenep memakai pola pengorganisasian yang mirip dengan pola pemerintahan di Kesultanan Mataram sebagai ibu kotanya. Pemerintahan Lebet di wilayah ini hanya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Keraton, Kapengulon, Paseban, dan Rumah Tangga Keraton. Selain itu pemerintahan desa di wilayah Kadipaten Sumenep dibagi dalam beberapa kelompok desa, antara lain: Desa Daleman, Desa Percaton dan Desa Perdikan.
Pengaruh VOC terhadap pemerintahan Kadipaten Sumenep
Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, penguasa Kadipaten Sumenep tahun 1811-1854
Hubungan VOC dengan pemerintahan di Kadipaten Sumenep sebenarnya sudah berlangsung sebelum perjanjian Pangeran Puger pada tahun 1705. Namun karena pada masa itu situasi di lingkungan Kesultanan Mataram goyah, maka pada tahun 1705, VOC memaksakan suatu kehendak mengenai kekuasaan politik di Madura Timur kepada Susuhunan Pakubuwana I sehingga terjadilah perjanjian antara kedua belah pihak, dan akhirnya wilayah Sumenep dan Pamekasan diberikan kepada VOC.
Selama menduduki Sumenep, status wilayah ini masih berupa Ke-Adipatian. VOC tidak serta merta mengubah sitem pola pemerintahan di wilayah ini, para bangsawan keraton masih diberi kepercayaan untuk memerintah rakyatnya dengan syarat-syarat tertentu yang ditandangani oleh kedua belah pihak. Pemerintahan Kolonial, hanya mengawasi dengan menempatkan seorang wakilnya di Sumenep. Para Adipati juga di beri kesempatan untuk menjaga keamanan wilayahnya, maka oleh karena itu, Kadipaten Sumenep juga diberi kewenangan membentuk tentara keamanan yang berasal dari prajurit-prajurit keraton.
Pengaruh-pengaruh VOC yang lainnya juga berpengaruh terhadap perkembangan arsitektur di Sumenep, Sebagian besar bangunan-bangunan pemerintahan dan rumah bangsawan Sumenep sedikit banyak dipegaruhi unsur kebudayaan Eropa.
Pengaruh Hindia Belanda terhadap pemerintahan Kadipaten Sumenep
Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Hindia Belanda mulai mengekang beberapa kebijakan Adipati, sampai pada tahun 1883, Pemerintah Kolonial mulai mengeluarkan peraturan yang menghapuskan pemerintahan pribumi, akibatnya, wilayah Sumenep yang semenjak tahun 1269 merupakan wilayah Kadipaten, harus dihapus sistem pemerintahannya dan memberikan tunjangan kepada para bangsawan agar tidak menimbulkan gejolak. Setelah dihapuskannya Ke-Adipatian di Sumenep, maka pada saat itulah wilayah ini mulai diperintah secara langsung oleh Nederland Indische Regening dengan mengangkat seorang Bupati.
Daftar Penguasa Kadipaten Sumenep
No.
Nama
Tempat Keraton
Tahun
Keterangan
1.
Aria Wiraraja I (Aria Banyak Wide)
Batuputih
1269-1292
Otak pendiri Kerajaan Majapahit
2.
Aria Wiraraja II (Ario Bangah)
Banasare
1292-1301
3.
Aria Danurwendo (Lembu Sarenggono)
Aeng Anyar
1301-1311
4.
Aria Assrapati
1311-1319
5.
Panembahan Joharsari
Bluto
1319-1331
6.
Panembahan Mandaraga (R. Piturut)
Keles
1331-1339
7.
Pangeran Ario Wotoprojo
Bukabu
1339-1348
8.
Pangeran Ario Notoningrat
Baragung
1348-1358
9.
Kanjeng Pangeran Ario Secodiningrat I (R. Agung Rawit)
Banasare
1358-1366
10.
Kanjeng Pangeran Ario Secodiningrat II (Tumenggung Gajah Pramono)
Banasare
1366-1386
11.
Kanjeng Pangeran Ario Pulang Jiwo (Panembahan Blongi)
Bolingi / Poday
1386-1399
12.
Kanjeng Pangeran Ario Adipoday (Ario Baribin)
Nyamplong / Poday
1399-1415
13.
Kanjeng Pangeran Ario Secodiningrat III (Pangeran Jokotole)
Banasare
1415-1460
Pendiri Benteng Kalimo'ok melawan orang-orang Bali Awang pendiri pintu Gerbang Kerajaan Majapahit
14.
Kanjeng Pangeran Ario Secodiningrat IV (R. Wigonando)
Gapura
1460-1502
15.
Kanjeng Pangeran Ario Secodiningrat V (R. Siding Purih)
Parsanga
1502-1559
Patoh Takundur
16.
Kanjeng Tumenggung Ario Kanduruwan
Karang Sabu
1559-1562
17.
Kanjeng Pangeran Ario Wetan dan Kanjeng Pangeran Ario Lor
1562-1567
18.
Kanjeng Pangeran Ario Keduk II (R. Keduk)
1567-1574
19.
Kanjeng Pangeran Ario Lor II (R. Rajasa)
1574-1589
20.
Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I (R. Abdullah)
Karang Toroy
1589-1626
21.
Kanjeng Pangeran Ario Anggadipa
Karang Toroy
1626-1644
22.
Kanjeng Tumenggung Ario Jaing Patih dari Sampang
Karang Toroy
1644-1648
23.
Kanjeng Tumenggung Ario Yudonegoro (R. Bugan)
Karang Toroy
1648-1672
24.
Kanjeng Tumenggung Ario Pulang Jiwo dan Kanjeng Pangeran Ario Sepuh
Karang Toroy
1672-1678
25.
Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro II (P. Romo)
Karang Toroy
1678-1709
26.
Kanjeng Pangeran Ario Purwonegoro (RT. Wiromenggolo)
Karang Toroy
1709-1721
27.
Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III (R. Ahmat alias Pangeran Ario Jimat)
Karang Toroy
1721-1744
28.
R. Alza Alias Pangeran Lolos
Karang Toroy
1744-1749
Lolos dalam penyergapan K. Lesap
29.
K. Lesap
Karang Toroy
1749-1750
Pimpinan sementara diserahkan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro
30.
Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana & Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod)
Pajagalan
1750-1762
Pemerintahan diserahkan pada suaminya
31.
Panembahan Sumolo Asirudin
Pajagalan
1762-1811
Pendiri Masjid Jamik
32.
Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raden Ario Notonegoro)
Pajagalan
1811-1854
Kerajaan Sumenep
33.
Panembahan Notokusumo II (Raden Ario Moch. Saleh)
Pajagalan
1854-1879
34.
Kanjeng Pangeran Ario Pakunataningrat II (Pangeran Mangkuadiningrat)