Alur
Di perbatasan Indonesia-Malaysia, Pulau Borneo, ditemukan mayat dengan kepala dan tubuh dari dua orang berbeda: Thoriq, seorang tentara, dan Juwing, warga Dayak. Ipda Sanja Arunika dari Jakarta dikirim untuk membantu penyelidikan bersama Ipda Panca dan Bripka Thomas. Penyelidikan mengarah pada berbagai misteri, termasuk legenda hantu Ambong, pabrik kelapa sawit terbengkalai, dan kasus perdagangan manusia yang melibatkan seorang perempuan bernama Umi.[1]
Kepala Umi ditemukan tergantung, mengungkap keterlibatan saudagar Sarawak bernama Agam, yang memiliki koneksi dengan pembalakan liar dan perdagangan manusia. Sanja mencoba menangkap Agam, tetapi dihalangi oleh Panca, yang ternyata melindungi Agam. Konflik antara Sanja dan Panca makin memanas, terutama setelah Panca membebaskan Agam.
Penyelidikan membawa Sanja ke pabrik di hutan, tempat ia diserang dan diselamatkan Thomas. Sementara itu, anak-anak korban perdagangan manusia mulai ditemukan, termasuk Arum dan Jenta. Sanja mulai mencurigai Panca setelah melihat bukti amplop mencurigakan dan penyuapan. Akhirnya Panca memulangkan Sanja ke Jakarta, tetapi Sanja tetap menyelidiki secara diam-diam.[1]
Setelah Agam diculik oleh Silas, ia mengaku membunuh satu korban atas perintah sendiri, tapi ketakutan karena kepala korban dikirim ke rumahnya. Thomas, yang diam-diam merekam perjalanannya dengan Panca, menemukan bukti bahwa Panca adalah pelaku serangan terhadap Sanja dan terlibat dalam perdagangan manusia. Namun Panca berhasil membunuh Thomas setelah mobil mereka mengalami kecelakaan.
Puncaknya, Sanja mendapati Pak Bujang di pabrik bersama mayat Thomas tanpa kepala. Bujang mengaku sebagai pembunuh sebagian korban, sementara Panca membunuh sisanya. Bujang kemudian membunuh Panca sebelum akhirnya ditembak oleh Sanja. Sanja menyelamatkan Arum dan membawa pulang.
Akhir cerita, di hari kemerdekaan Indonesia, kepala Pak Bujang tergantung di depan monumen, menandai akhir dari rangkaian misteri berdarah di perbatasan.[1]