Menurut Otoritas Bandara Pakistan, awak pesawat melaporkan adanya gangguan pada sistem navigasi sekitar pukul 21.18 waktu setempat saat berada sekitar 155 mil laut dari Karachi.[1] Petugas pengatur lalu lintas udara memberikan panduan navigasi, namun tiga menit kemudian pada pukul 21.21, radar menunjukkan pesawat melakukan penurunan ketinggian yang cepat dan perubahan arah yang signifikan.[6] Kontak radar dan radio selanjutnya terputus.[1] Data awal dari sistem pemantauan otomatis bergantung-siaran (ADS-B) yang diperoleh oleh layanan pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan kemungkinan lokasi kecelakaan di Laut Arab, sebelah barat daya Karachi.[7]
Latar belakang
Pesawat
Pesawat tersebut, sebuah pesawat kargo Boeing 737-4M0(BDSF) berusia 27 tahun, merupakan satu-satunya pesawat yang dioperasikan oleh K2 Airways dan dilengkapi dengan dua mesin CFM InternationalCFM56-3C1. Pesawat tersebut pertama kali dikirimkan kepada Aeroflot pada tahun 1999 dan disewakan kepada Garuda Indonesia pada tahun 2004 (dengan registrasi PK-GZO), sebelum dikonversi menjadi pesawat kargo pada tahun 2011 untuk GE Capital Aviation Services, yang kemudian menyewakannya kepada TNT Airways pada tahun 2012 dan kepada ASL Airlines Belgium (yang beroperasi untuk FedEx Express) pada tahun 2017. Pada tahun 2024, pesawat tersebut diakuisisi oleh AerCap dan disewakan kepada K2 Airways.[8] Pesawat tersebut merupakan satu-satunya pesawat milik maskapai tersebut.[9]
Awak penerbangan
Penerbangan tersebut dioperasikan oleh lima awak: Kapten Muhammed Rizwan Idrees, kopilot Faisal Jatoi, Pembongkarmuat Towfiq Khan, serta teknisi Arif Siddiqui dan Mohammed Hamid.[10][11]
Kecelakaan
Pada tanggal 7 Juli 2026, Penerbangan 1732 K2 Airways sedang beroperasi dari BandarUdara Internasional Sharjah di Uni Emirat Arab menuju BandarUdara Internasional Jinnah, Karachi, Pakistan. Sekitar pukul 21.18 PKT, saat terbang di atas Laut Arab, awak pesawat melaporkan adanya masalah pada sistem navigasi kepada Pengawas Lalu Lintas Udara.[12] Pesawat tersebut mendapat bantuan dari pengawas lalu lintas udara, namun kontak radar dan komunikasi terputus sekitar tiga menit kemudian, sekitar 155nmi (178mi; 287km) di sebelah barat Karachi. Pesawat tersebut mengangkut lima awak pesawat.[13][14]
Komunikasi radio terakhir yang diketahui dari penerbangan tersebut dilakukan dengan Pusat Pengendalian Wilayah Karachi (ACC) sesaat sebelum pesawat menghilang di atas Laut Arab. Menurut laporan, awak pesawat menyampaikan frasa "rolling or floating, 1732" selama komunikasi tersebut.[15] Transmisi tersebut terekam dalam catatan penerbangan dan dilaporkan sebagai pesan terakhir yang diketahui dari pesawat sebelum kontak radar dan komunikasi terputus.[16]
Menurut data ADS-B dari Flightradar24, pesawat mulai turun dari ketinggian jelajah 35.000 kaki sekitar pukul 21.18, hingga mencapai 29.500 kaki. Pesawat kemudian naik dengan cepat ke ketinggian 36.675 kaki sebelum mulai turun kembali. Sinyal ADS-B terakhir dari pesawat tersebut tercatat pada pukul 21.20.27, pada ketinggian 34.350 kaki. Data satelit, yang juga berasal dari Flightradar24, mencatat titik data terakhir pada pukul 21.21.59, yang menempatkan pesawat pada ketinggian 1.100 kaki dengan kecepatan vertikal sebesar -22.400 kaki per menit.[7][17]
Dampak
Kapal Angkatan Laut Pakistan PNS Zulfiquar (F251) dan PNSC Karachi, serta pesawat Saab 2000ErieyeAEW&C milik Angkatan Udara Pakistan dan RAS-72 Sea Eagle milik Angkatan Laut Pakistan, melakukan pencarian terhadap pesawat yang hilang.[8] Dilaporkan bahwa laut yang bergelombang dan musim hujan yang akan datang membuat operasi pencarian dan penyelamatan menjadi lebih sulit.[18]
Menurut Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan, beberapa puing pesawat berhasil ditemukan 53nmi (61mi; 98km) dari pantai Ormara, 12 jam setelah pesawat dilaporkan hilang.[5][19] Pencarian terhadap lima awak pesawat dan perekam penerbangan pesawat tersebut masih terus berlanjut.[20][21]
Reaksi
Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan duka cita atas insiden tersebut dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga kelima awak pesawat. Ia memerintahkan otoritas terkait, termasuk Otoritas Penerbangan Sipil Pakistan, Angkatan Laut Pakistan, dan Angkatan Udara Pakistan, untuk mengintensifkan operasi pencarian dan penyelamatan serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam upaya tersebut.[22]
Presiden Asif Ali Zardari menyampaikan keprihatinan atas hilangnya pesawat tersebut dan mengutarakan harapan agar operasi pencarian dan penyelamatan berhasil. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Aiwan-e-Sadr, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga awak pesawat dan menyatakan dukungan kepada mereka pasca insiden tersebut.[23]
K2 Airways menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan pihak berwenang selama operasi pencarian dan menyatakan keprihatinan atas keselamatan awak pesawat. Maskapai tersebut juga menawarkan dukungan kepada keluarga para penumpang dan awak pesawat.[24][25][26][27]