Karier
Julian memiliki kemampuan bermusik yang tinggi dan menunjukkan bakat musik sejak kecil, terutama di instrumen keyboard/piano. Ia pernah meraih banyak penghargaan sebagai keyboardist, termasuk 12 kali Best Keyboardist se-Provinsi Jambi dan 5 kali Best Keyboardist se-Sumatra. Selain itu ia sempat digelari "Macan Festival". Julian menjuarai berbagai macam festival Pop Singers termasuk Bintang Radio RRI pada tahun 2005, juga terpilih sebagai 12 Bintang Radio terbaik seluruh Indonesia di tahun yang sama. Julian sempat membuat album perdananya di tahun 2009 berjudul "Rise Up" bersama Rajawali Records dengan single nya "Lelaki" yang sempat menjadi Top Chart lebih dari 40 radio di Pulau Jawa, tetapi disayangkan promosi dari media TV bisa terbilang sangat kurang. Pada tahun 2011 Julian lebih sering muncul dimedia TV dengan konsep Grup yang dikenal dengan nama "DubStars". Boyband beranggotakan 4 orang ini dipersatukan oleh tangan dingin Maia Estianty pada Juli 2011.
Namun tetapi hasrat Julian sepertinya tidak berada Boyband. Pada 2012 DubStars bubar, dan Julian kembali merintis karier sebagai solois. Pada tahun 2013 Julian telah meluncurkan single pertamanya yang berjudul "You're the One". Kemudian pada tahun 2016 Julian mendapat ajakan oleh Doadi Badai Hollo (Eks Kerispatih) untuk membuat Band sebagai bendera baru yang meneruskan karya-karya romantis dari Badai sang maestro pencipta lagu galau. Akhirnya Julian menjadi vokalis dari Badai Romantic Project, band yang dinaungi oleh Badai mantan personil band Kerispatih. Kolaborasi tersebut sudah mengeluarkan 8 single berjudul "Tak Denganku", "Melamarmu", "Terakhir untuk selamanya", "Rahasia Kita", "Cinta Terpisah Sementara", "Jahat", "Mencinta Kekasihmu", dan "Aku yang hancur aku yang mengalah".
Julian dikenal sebagai multi-instrumentalis yang handal (piano, gitar, bass, harmonika, synthesizer) serta bekerja sebagai vocal director dan music arranger.Genre musik yang ia tekuni meliputi pop, ballad, jazz, dan religi.
Sebelum menemukan keyakinan agamanya, Julian pernah mengalami fase agnostik dan melakukan pencarian spiritual yang panjang. Pengalaman ini sangat memengaruhi karya-karyanya yang menekankan kejujuran intelektual, penggunaan akal, dan logika dalam memahami agama.[6]
Sejak awal 2020-an, Julian semakin dikenal sebagai filsuf otodidak dan mutakalim (ahli ilmu kalam) modern. Buku utamanya, Logika & Tuhan: Jika Tuhan Ada, Ia Harus Masuk Akal. Jika Tidak, Kenapa Kamu Percaya? (diterbitkan Keira Publishing), menggunakan pendekatan logika formal, filsafat analitik, dan ilmu kalam untuk membahas eksistensi Tuhan, kritik terhadap ateisme, materialisme, serta isu-isu teologi kontemporer.
Ia aktif di Instagram (@mrjulian_) dan Threads, di mana ia rutin membahas: Ilmu kalam Maturidiyah, hubungan akal dan wahyu, bantahan terhadap ateisme, kritik terhadap literalisme dan Wahabisme, logical fallacies dalam diskusi keagamaan, serta topik filsafat agama lainnya.[7]