Karier Militer
Jabatan Pangdam VIII/Trikora diembankan padanya selama satu setengah tahun Tamatan AKABRI tahun 1970, ini kemudian kembali dipercayakan menjabat Asisten Operasi Kasum TNI (dulu ABRI).
Beberapa jabatan penting sebelumnya antara lain: Komandan Batalyon Infanteri 751, Dandim Merauke dan Jayapura, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula Kostrad, Komandan Rindam Jaya, Danrem 164 Timor-Timur dan Panglima Divisi Infanteri I/Kostrad.
Pada saat-saat kritis saat Soeharto turun dari kursi kepresidenan, Johny dipercaya menjabat Pangkostrad, menggantikan Letjen TNI Prabowo Subianto (yang saat itu terkenal sebagai The Rising Star). Sayang, masa jabatannya sebagai Panglima Kostrad sangat singkat, hanya 17 jam (22-23 Mei 1998). Itu adalah saat-saat yang paling menentukan dalam kehidupan bangsa dan negara.
Tanggal 30 Oktober 1998, Johny lagi-lagi dipercaya menggantikan posisi Prabowo sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) ABRI. Sekaligus juga menggantikan kedudukannya sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI.
Suami Drg. Sonya Riupassa, MHA ini pada tanggal 18 Januari 1999 ditunjuk menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, dan sebelum pensiun Johny menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertahanan setelah sebelumnya menjabat Gubernur Lemhanas. Rupanya angka 18 merupakan angka istimewa bagi Johny, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, yaitu ± 10 bulan, ia telah menduduki banyak jabatan strategis. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan Alm. Frederik Lumintang dan Sofia Wuisan ini, adalah alumnus Sesko ABRI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhannas (1995).
Bapak dari tiga anak ini, Kitty Lumintang, lahir 27 Januari 1974, Della Lumintang, kelahiran 28 Oktober 1977, dan Valentino Lumintang, lahir 5 Desember 1979 ini, banyak melewati pendidikan militer, seperti: Infantry Officer Advanced Course, di Fort Benning, USA (1978), serta International Defence Management Course, di Monterey, USA (1989).
Ada satu kegiatan yang amat disukai Johny Lumintang saat tak berbaju militer lagi, yaitu berkebun. Anda suatu kali mungkin dapat melihat mantan Jenderal berbintang tiga ini menenteng beberapa sisir pisang dan beberapa butir kelapa di jalan raya Desa Tosuraya, Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara tempat mantan Pangkostrad ini dibesarkan.“Saya ingin memberi contoh kepada orang Minahasa agar tidak malas menjalani profesi sebagai petani, karena saya pun bisa seperti sekarang karena petani” katanya.
Johny memang mungkin bisa ngomong begitu karena ia merasa ia menduduki karier yang cemerlang juga awalnya dari hasil berkebun. Keluarga Johny seperti warga Minahasa lainnya memang tidak bisa lepas dari profesi petani, karena mayoritas etnis Minahasa sebagai etnis terbesar di Sulawesi Utara menggeluti profesi tersebut. Mereka mampu menyekolahkan anak-anak mereka hanya lewat hasil bertani.[4]
Pada tahun 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Johny Lumintang menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina.[5]