Prof. Ir. Johan Silas atau yang bernama asli Johan Rene Lim[2] (24 Mei 1936–8 Juni 2026), adalah tokoh arsitektur Indonesia, terutama dalam bidang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan.[3][4]
Awal kehidupan dan pendidikan
Silas lahir di Samarinda tanggal 24 Mei 1936. Ayahnya merupakan pengusaha minyak kelapa dan bioskop, keduanya merupakan usaha yang dilanjutkan dari kakek Silas.[5] Kakeknya adalah seorang Kapitan Cina di Samarinda.[5]
Silas menghabiskan sebagian masa kecilnya di Samarinda bersama nenek, hingga akhirnya sakit dan harus dirawat di Surabaya, namun tidak berhasil dan dimakamkan di Surabaya.[5] Silas tetap tinggal di Samarinda karena sang kakek kembali ke sana juga. Silas baru pindah permanen ke Surabaya setelah kakeknya meninggal dan dimakamkan bersama nenek Silas di Surabaya pada tahun 1950.[5]
Ayah Silas memiliki marga Liem, sementara neneknya bermarga Sie, saat dewasa ia memilih menggunakan marga neneknya, sehingga menjadi "Silas".[6]
Ia masuk di SMA St. Louis, Surabaya[6], lalu melanjutkan kuliah di jurusan arsitektur ITB, dan lulus pada tahun 1963.[7]
Karier
Silas menjadi pengajar dan pendiri Jurusan Teknik Arsitektur ITS Surabaya pada tahun 1965. Pada 1992 ia memperoleh gelar profesor. Pada 2005 ia memperoleh penghargaan Habitat Scroll of Honour untuk kategori "penelitian dan pengabdian bertahun-tahun dalam memberikan tempat bernaung bagi kaum miskin".
Purna tugas sebagai guru besar di ITS pada tahun 2006[8] tetapi tetap membagikan ilmunya secara tidak tetap dan menjadi penasihat untuk beberapa pemerintah kota. Pengetahuan tambahan tentang perumahan, permukiman, perkotaan, dan lingkungan diperoleh di Inggris, Belanda, Jepang, Prancis, dan Jerman. Program yang diikuti antara lain Housing in Urban Development (London, 1979), Housing, Building & Planning (Rotterdam, 1980), Cooperative Housing (Tokyo, 1984/1985), Comparative Study on Urban Anthropology (Prancis, 1986), Inner City Conservation (Berlin, 1987).
Silas merupakan penyusun Masterplan Surabaya 2000, yang melahirkan konsep Jalan MERR (Middle East Ring Road), kemudian menjadi jalan radial-radial.[9] Silas memiliki jabatan komisaris di PT Yekape, sebuah perusahaan di bidang pengembangan kawasan hunian.[6] Pada tahun 2022, Silas menjadi anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya periode 2022-2027.[10]
Karya
Kampung Improvement Program
Nama Johan Silas, guru besar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, ini sering kali muncul dalam wacana seputar tata kota, perencanaan kota, pembenahan permukiman, perbaikan kampung, dan semacamnya. Johan Silas adalah salah satu tokoh di balik program perbaikan kampung, atau lebih dikenal dengan Kampung Improvement Program (KIP)
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Paska Gempa dan Tsunami
Terlibat dalam rehabilitasi dan rekonstruksi kota Calang di Aceh dan Nias setelah gempa bumi dan bencana tsunami pada 2005-2006. Berupa studi mitigasi bencana dari sudut pandang perumahan dan penguatan pemukiman informal (kampung).[11]
Penghargaan
Habitat Scroll of Honour, Johan Silas adalah salah satu dari sedikit pakar tata kota di Indonesia yang mendapatkan penghargaan ini, penghargaan dari organisasi PBB UN-HABITAT untuk mereka yang berjasa dalam pengembangan tata kota, berkat jasa-jasanya terhadap pengembangan dan pembangunan pemukiman yang berpihak kepada masyarakat perkotaan yang kurang mampu.[12]
Gelar BALUGU SAMAERI ONO NIHA yang diperoleh pada tahun 2009 dari warga adat Nias Selatan setelah tiga tahun ikut membangun kembali rumah adat dan rumah lainnya yang rusak kena gempa.
Akhir hayat
Silas menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 8 Juni 2026, pukul 03.24 WIB, di RS Kemenkes Indrapura Surabaya.[13]