Tak banyak literatur berbahasa Belanda yang membahas jalur ini. Namun, menurut Lekkerkerker (1938) dalam bukunya yang berjudul Land-en-Volk van Java menyebutkan bahwa jalur-jalur kereta api lintas selatan Lumajang–Jember ini aslinya adalah jalur trem dengan lebar sepur 600mm. Pembangunan diprakarsai oleh Staatsspoorwegen, dengan membuat jalurnya dari Rambipuji menuju Puger via Balung.
Jalur dan stasiun-stasiunnya sendiri dibuka untuk pelayanan umum pada tanggal 3 Mei 1913 untuk segmen Rambipuji–Balung dan dilanjut menuju Puger beserta cabangnya menuju Ambulu. Karena volume angkutan yang semakin banyak, SS memutuskan untuk mengubah sepurnya menjadi 1.067mm pada tanggal 1 November 1929 dan lintas menuju Puger pun dicabut, tetapi tidak untuk jalur menuju Ambulu.[1][2]
Pada 25 April 1930, koran "De Indische Courant" mengabarkan bahwa SS berencana membuka perhentian baru di lintas ini yang kelak bernama Stopplaats Baloengbrug pada 1 Mei 1930. Dikutip dari koran tersebut, perhentian ini terletak pada km 0+556 Lintas Balung—Ambulu.
Sayangnya, terdapat ketidaksinkronan informasi antara koran tersebut dengan Buku Jarak penerbitan Mei 2004 oleh PT KA yang justru menyebutkan bahwa di km 0+556 tidak ada perhentian, tetapi bila bergeser ke km 0+525 terdapat perhentian bernama Balungpasar (BUGP).[3] Kedua versi nama perhentian tersebut memang berbeda, tetapi bila ditinjau dari perbedaan letak km-nya yang tidak jauh, kemungkinan masih merupakan perhentian yang sama.
Jalur ini sempat ditutup pada tahun 1945. Namun ada versi lain yang menyebut bahwa jalur ini sempat dihidupkan lagi (bahkan nama-namanya dicatat dalam Nama, Kode, dan Singkatan Stasiun dan Perhentian). Bahkan hal ini diperkuat dengan adanya jalur rel dengan sepur 600mm tertancap di dalam bangunan utama Stasiun Balung. Sepur 600mm di jalur ini punah pada tahun 1972.[4]
Jalur terhubung
Lintas aktif
Jalur ini tidak terhubung dengan lintas aktif mana pun.